24 May 2019, 19:40 WIB

Kerusuhan 22 Mei Dapat Timbulkan Trauma dan Takut Berpolitik


Ardi Teristi Hardi | Nusantara

MI/Ardi
 MI/Ardi
Dosen Psikologi Universitas Gadjah Mada, Prof Koentjoro

DOSEN Psikologi Universitas Gadjah Mada, Prof Koentjoro, mengatakan, kerusuhan yang terjadi pada 22 Mei 2019 dapat memunculkan trauma dan takut berpolitik.

"Kerusuhan kemarin dapat membikin trauma bagi yang mengalami dan bisa membuat orang takut berpolitik," kata dia di Balairung Gedung Pusat UGM, Yogyakarta, Jumat (24/5).

Orang akan berpikiran berpolitik intinya adalah kekerasan dan banyak musuh.

Menurut dia, negeri ini punya aturan dan aturan tersebut harus ditegakkan. Seharusnya pemimpin masa demonstran tampil dan mengendalikan para deminstran. Namun, yang terjadi seakan-akan pemimpin lepas tangan.

"Ini (kerusuhan 22 Mei) menurut saya tidak mendidik," kata dia.

Kerusuhan yang terjadi membuat orang semkin bingung dengan istilah kedaulatan rakyat.

"Ini kedaulatan rakyat atau membuat kerusuhan," kata dia.


Baca juga: 75% Penduduk Indonesia sudah Bebas Malaria


Statement tokoh-tokoh di media pun membuat masyarakat bingung, pelaku kerusuhan adalah perusuh atau pahlawan demokrasi.

"Kasihan polisinya kalau seperti ini. Langkah polisi sudah tepat dan sudah lebih maju (menghadapi demonstran dan perusuh)," kata dia.

Menurut Prof Koentjoro, Amien Rais terobsesi usahanya yang berhasil pada 1998 ketika menggulingkan rezim Soeharto.

"Pak Amien Rais terobsesi usaha yang berhasil pada 1998. Ada proses transfer of learning," kata dia.

Namun, situasi saat ini berbeda dengan 1998. Kerusuhan beredar ramai di media sosial, tetapi nyatanya tidak semua daerah seperti itu.

Di sisi lain, kerusuhan yang terjadi pada 22 Mei, agresivitas masyarakat bukan karena frustasi, tapi karena dibayar. Polisi telah menemukan bukti, perusuh dibayar.

"Ada dua motivasi demonstrasi di sana, yang satu berbau politik, sedangkan yang lain ekonomi sesaat," pungkas dia. (OL-1)

 

BERITA TERKAIT