23 May 2019, 22:55 WIB

Merakit Limbah Plastik menjadi Wayang


Tosiani | Humaniora

MI/Tosiani
 MI/Tosiani
Sejumlah mahasiswa mengikuti workshop membuat wayang sampah dari bahan limbah tak terpakai seperti botol bekas air mineral, tas kresek

HANYA ada empat orang peserta workshop wayang sampah hari pertama di Dia.Lo.Gue, Kawasan Kemang Selatan, Jakarta Selatan, Kamis (23/5) sore. Mereka ialah mahasiswa dari Jakarta dan Bandung yang mendaftar melalui akun media sosial The Japan Foundation. Workshop ini masih akan berlangsung hingga Jumat (24/5) besok.

Keempat peserta yang semuanya perempuan itu belajar merakit barang-barang bekas seperti botol bekas air mineral, tas kresek bekas belanja, kardus bekas, dan kain perca.

Mengikuti arahan anggota Komunitas Wayang Sampah, mereka membentuk barang-barang bekas yang sudah menjadi sampah itu menjadi berbagai bentuk wayang punokawan. Kegiatan itu berlangsung hingga petang sebagai kegiatan ngabuburit sembari menunggu waktu berbuka puasa.

Gilang Damar, salah seorang anggota Komunitas Wayang Sampah, menceritakan, kegiatan ini untuk memanfaatkan barang bekas, terutama plastik untuk memerangi penggunaan sampah plastik. Seperti plastik botol, tas kresek, botol minuman gelas, kain perca untuk membuat baju wayang.

"Secara keseluruhan bahannya dari sampah karena sudah tidak terpakai. Bahkan potongan kardus kecil pun bisa dipakai untuk ornamen," tutur Gilang.

Komunitas Wayang Sampah sendiri terbentuk sejak lebih dari lima tahun lalu. Awalnya, para anggota komunitas yang berjumlah puluhan orang, terdiri dari environmentalis, seniman, peneliti, musisi, peneliti, mahasiswa asing yang belajar di Indonesia punya kepedulian pada limbah plastik.

Mereka iseng merakit limbah itu menjadi wayang. Bentuknya mirip wayang golek. Setelah jadi, kemudian dipentaskan oleh anggota komunitas. Ada yang memainkan gamelan yang juga dirakit dari sampah, ada pula yang menjadi dalang. Untuk ceritanya acapkali menyangkut lingkungan, dan semua cerita telah dirumuskan bersama di komunitas.


Baca juga: Pelajar SMA Kesatuan Bangsa Jadi Duta Dunia


Mereka juga kerap pentas di luar negeri, sehingga cerita yang dipentaskan ada yang mengikuti cerita rakyat setempat. Seperti saat pentas di Jepang, mereka membawakan cerita momotaro. Namun jika pentas di Jawa, menuturkan cerita timun mas dengan diselipi pesan kepedulian pada lingkungan.

Umpamanya timun mas hendak menyelamatkan ibu bumi dengan membersihkan lingkungan, tidak buang sampah sembarangan. Cerita dibawakan dengan cara yang semua kalangan bisa menerima, tidak terlalu terkesan untuk konsumsi anak, dan tidak terlalu kekinian.

"Dipilih wayang karena kami juga mengonservasi budaya secara turun temurun, ada apapun disampaikan dengan media tutur seperti wayang. Sekarang wayang tidak populer. Jadi kami ingin merawat kebudayaan ini," katanya.

Mereka mulai serius menekuni wayang sampah menjadi media kampanye melawan penggunaan sampah plastik yang sulit didaur ulang sejak 2014. Di tahun yang sama komunitas ini mulai memberikan workshop pada mahasiswa dan umum untuk membuat wayang sampah. Dalam workshop tersebut, peserta juga dilatih untuk merumuskan cerita dan mementaskannya.

"Kita pengin sampaikan, orang buanglah sampah di kepala, jadi supaya sampah bisa diolah jadi sesuatu yang punya nilai seni. Tapi dalam workshop itu, ujungnya tetap harus bisa pentas," ujar Gilang.

Kathrina,21, seorang peserta workshop asal Bandung, mengaku tertarik ikut workshop lantaran melihat wayang sampah unik dan memiliki pesan kepedulian lingkungan. Karena itu ia langsung mendaftar untuk ikut workshop.

"Saya mencoba merakit bekas botol minuman ini menjadi bentuk kodok. Kegiatan ini sangat unik dan menarik," katanya.

Purwoko Adhi Nugroho dari Japan Foundation, mengatakan, workshop wayang sampah ini bagian dari pameran 'Earth Manual Project-Disaster and Design: For Saving Lives'. Kegiatan pameran berlangsung di Dia.Lo.Gue pada 2-26 Mei mendatang.

"Di puncak acara tanggal 26 Mei mendatang, wayang yang dibuat peserta saat workshop wayang sampah akan dipentaskan oleh peserta sendiri," kata Purwoko. (OL-1)

BERITA TERKAIT