IMF Kecam Perang Dagang AS-Tiongkok


Penulis: Tesa Oktiana Surbakti tesa@mediaindonesia.com - 24 May 2019, 06:00 WIB
AFP
 AFP
Gita Gopinath, berbicara selama konferensi pers di Washington, DC. 

IMF memperingatkan bahwa peningkatan perang dagang Amerika Serikat-Tiongkok akan 'membahayakan' pertumbuhan global di 2019, menurunkan tingkat kepercayaan, dan membuat konsumen harus merasakan kenaik-an harga-harga barang.

"Konsumen di AS dan Tiongkok yang akan jadi korban dari ketegangan perdagangan ini. Dampaknya akan lebih parah jika Trump mewujudkan ancamannya untuk mengenakan tarif tinggi bagi semua barang impor dari Tiongkok," ungkap ekonom utama IMF Gita Gopinath dalam sebuah kiriman blog.

Ungkapan Gopinath itu membantah klaim Presiden AS Donald Trump bahwa tarif akan dibayar Tiongkok dan menjadi pemasukan besar untuk keuangan AS.

Sebelumnya sempat ada optimisme bahwa AS-Tiongkok akan mencapai kesepakatan soal tarif. Namun, ketegangan mencuat sejak Trump menuduh Beijing tidak menghargai komitmen yang dibangun dari negosiasi bertahun-tahun.

Trump lalu menaikkan tarif sampai dua kali lipat terhadap barang-barang Tiongkok senilai US$200 miliar. Dia juga mengancam akan menaikkan tarif 25% terhadap produk-produk impor lainnya senilai US$300 miliar.

Trump beralasan penaikan tarif itu untuk mengurangi ketidakseimbangan perdagangan AS-Tiongkok yang nilai totalnya sampai US$379 miliar pada tahun lalu.

Namun, Gopinath membantah Trump karena ketegangan ini telah mengganggu hubungan kedua negara, mengurangi nilai perdagangan dan menghambat kinerja berbagai perusahaan. Tidak itu saja, defisit perdagangan bilateral secara garis besar tidak berubah.

Selain itu, total impor AS juga tidak berubah signifikan karena para importir langsung memindahkan pembelian mereka ke negara lain.

Siap membalas

Di sisi lain, ketegangan AS melawan Tiongkok juga terkait dengan larangan AS terhadap perusahaan telekomunikasi Huawei milik Tiongkok karena alasan keamanan.

Tiongkok mengecam AS yang 'melakukan perundungan' terhadap Huawei sehingga akibatnya banyak perusahaan yang menghentikan suplai terhadap Huawei.

Beijing juga memperingatkan Washington untuk menunjukkan 'kejujuran' agar perundingan dagang dapat terjalin kembali.

Juru bicara Kementerian Perdagangan Tiongkok Gao Feng menyatakan negaranya sudah menyampaikan kepada Washington bahwa Beijing 'memiliki keyakinan dan kemampuan untuk melindungi hak dan kepentingan perusahaan-perusahaan Tiongkok'.

Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi menyebut penggunaan kekuasaan negara oleh AS untuk menekan perusahaan swasta seperti Huawei ialah bentuk perundungan ekonomi.

"Beijing siap untuk melawan dalam perang dagang ini," tegas Wang.

Penghentian kerja sama bisnis dengan Huawei antara lain diumumkan produsen elektronik asal Jepang, Panasonic. Empat operator telepon seluler dari Jepang dan Inggris juga menunda peluncuran produk telepon seluler 5G terbaru Huawei.

"Kami menghentikan semua transaksi bisnis dengan Huawei serta 68 perusahaan grupnya. Ini berkaitan dengan larangan pemerintah AS," ungkap juru bicara Panasonic, Joe Flynn.

Flynn mengatakan bisnis Panasonic dengan Huawei mencakup pasokan komponen elektronik.

Pembatasan AS memengaruhi produk yang dibuat di 'Negeri Paman Sam', tempat Panasonic memproduksi sejumlah komponen yang dipasok bagi Huawei. (AFP/X-11)

BERITA TERKAIT