23 May 2019, 21:46 WIB

Bahar bin Smith Akui Bersalah Lakukan Penganiayaan


Eriez M. Rizal | Nusantara

MI/Bayu Anggoro
 MI/Bayu Anggoro
Bahar bin Smith saat menjalani persidangan kasusnya di Bandung, Jawa Barat

TERDAKWA Kasus penganiayaan Bahar bin Smith mengakui dirinya bersalah telah melakukan pemukulan terhadap dua remaja CAJ alias Jabar dan MKU alias Zaki.

Pengakuan itu dilontarkan Bahar dalam persidangan kasus tersebut di Gedung Arsip dan Perpustakaan Kota Bandung di Jalan Seram, Bandung, Jawa Barat, Kamis (23/5).

Dalam sidang yang dipimpin oleh ketua majelis hakim Edison Muhammad itu, Bahar mengaku salah memukul atau menganiayaan korban Jabar dan Zaki di  Pondok Pesantren (Ponpes) Tajul Alawiyyin, Kemang, Kabupaten Bogor pada  1 Desember 2018 silam.

"Apakah perbuatan yang dilakukan oleh saudara benar atau tidak?" tanya Edison Muhammad.

Bahar menjawab jika menggunakan hukum positif yang berlaku di Indonesia,  perbuatan yang dia lakukan salah.

Baca juga : Saksi Ungkap Awal Korban Mengaku-Ngaku sebagai Bahar bin Smith

"Bila hukum positif, (perbuatan menganiaya orang) tidak benar. Sebagai warga negara Indonesia (perbuatan) saya tidak benar," jawab Bahar.

Di mana salahnya?," lanjut Edison. "Pemukulan dan penganiayaan," jawab Bahar.

Saat majelis hakim  menanyakan apakah Bahar menyesal atas perbuatannya. Bahar menjawab satu kalimat,

'Wallahualam'. Wallahualam. Kenapa saya jawab itu, karena Allah
yang Maha Tahu. Kalau saya jawab menyesal tapi hati tidak, begitu juga saya jawab tidak menyesal, tetapi hati menyesal, hanya Allah yang tahu,"  tutur Bahar.  

Mendapat jawaban seperti itu, hakim Edison menginginkan Bahar untuk menjawab secara jelas, pasti, dan tegas, menyesal atau tidak menyesal.

"Saya tahu arti Wallahualam. Jangan anggap Islam itu hanya saudara saja. Saya ingin jawaban yang pasti. Jawab jujur, menyesal atau tidak?" tegas Edison.

"Atas penganiayaan dan pemukulan, iya (menyesal)," ungkap Bahar.

Dari hati atau tidak?," tanya hakim lagi.

"Insya Allah dari hati," tandas  Bahar.

Bahar bin Smith mengaku tak tahu terkait insiden salah seorang santrinya menyundut rokok ke kepala salah satu korban usai digunduli.

Bahar menyebut ada 5 santri yang dikeluarkan imbas dari insiden tersebut.

"Saya tidak tahu itu. Saya tahu setelah pengakuan korban," ucap Bahar.

Bahar menjelaskan saat itu dia memang menganiaya Cahya Abdul Jabar dan Muhammad Khoerul Aumam Al Mudzaqi alias Zaki lantaran mengaku-ngaku sebagai dirinya di Bali.

Namun dia tak tahu bila para santri ikut menganiaya juga. Bahar menyebut dia melibatkan santri hanya untuk  menggunduli kepala dua korban.

Menurut Bahar, selain adat di ponpes itu, penggundulan juga dilakukan agar mereka tidak lagi mengaku-ngaku sebagai dirinya. "

Saya hanya suruh membotaki," kata Bahar.

Bahar menambahkan atas insiden itu, ada 5 orang santri yang dikeluarkan.

Mereka diduga ikut melakukan kekerasan terhadap korban.

"Ya itu makanya ada 5 orang anak pondok yang dikeluarkan. Karena dibilang jangan pukul, tapi pukul berarti tidak taat dengan gurunya. Ada anak Medan dua orang, Ambon dua orang dan Sulawesi satu orang," kata Bahar. (OL-8)

BERITA TERKAIT