23 May 2019, 06:50 WIB

Bolehkah Berjihad dengan Bunuh Diri?


Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta | Renungan Ramadan

MI/Seno
 MI/Seno
Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta 

MASIH sering kita menyaksikan orang-orang nekat melakukan jihad dengan bunuh diri seperti dilakukan sejumlah teroris dari berbagai negara. Rasulullah SAW dan para sahabat tidak pernah mencontohkan gerakan jihad dengan cara bunuh diri atau mencelakai diri sendiri.

Sebaliknya, Rasulullah mencontohkan mengambil langkah hijrah (mengungsi) untuk menyelamatkan nyawa dan para sahabat.

Bahkan di dalam Alquran enam kali perintah jihad selalu diawali perintah hijrah (wa hajaru wa jahadu).

Perintah jihad secara fisik selalu diawali berjihad dengan harta, baru mempertaruhkan jiwa (wa jahidu bi amwalikum wa amfusikum). Susunan ayat-ayat tersebut selalu konsisten. Hijrah baru jihad dan berjihad dengan harta baru jiwa.

Pilihan hijrah Rasulullah bukan langkah pengecut seperti sering dituduhkan kalangan orientalis yang menganggap Nabi pengecut meninggalkan umatnya di Mekah, baru mencari selamat di Madinah. Strategi Nabi (Islam) melangkah mundur untuk mencapai kemenangan jauh lebih mulia ketimbang melakukan langkah nekat.

Akhirnya, Nabi kembali merebut Mekah (Fath Makkah) tanpa setetes darah mengucur. Nabi Muhammad menaklukkan separuh belahan bumi tanpa darah jihad yang berarti.

Peperangan Nabi bukan agresi, tetapi bela diri. Buktinya, ketika Nabi dikepung di Mekah, dia bersama Abu Bakar melarikan diri, bukannya mati bersama dengan sahabat yang lain di tempat persembunyi-an.

Bukti lain ketika Nabi memenangi Perang Badar, para tawanan perang dibebaskan dengan tebusan amat ringan. Ketika dia menaklukkan Mekah yang diserukan bukan balas dendam, melainkan perdamaian.

"Hari ini adalah hari perdamaian (al-yaum yaum al-marhamah)." Demikian pula penaklukan kota dan suku lain di Timur Tengah, tidak ada yang diselesaikan secara 'hukum adat perang jahiliah' dengan cara balas dendam.

Dengan tegas Alquran melarang dan sekaligus mengecam orang-orang yang melakukan perjuangan atas nama apa pun dan untuk apa pun serta semulia apa pun suatu tujuan dengan cara mencelakai diri sendiri. Sebagaimana dikatakan, "Dan janganlah kalian menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (QS Al-Baqarah/2:195).

Ayat ini cukup tegas bahwa berjihad dengan cara nekat tidak diperkenankan dalam Islam. Jika ada seruan jihad mengajak orang lain menempuh cara-cara nekat, itu perlu dipertanyakan. Selain tidak pernah dicontohkan Nabi, juga akan menodai nama agung Islam sebagai agama yang penuh kasih sayang.

Peringatan buat kita semua bahwa jihad yang sesungguhnya ialah menempuh cara-cara yang wajar dan sesuai dengan perintah dan apa yang dicontohkan Nabi Muhammad teladan kita.

Dalam dunia modern saat ini makna jihad sudah seharusnya dikembangkan dengan cara-cara lebih beradab dan sesuai dengan semangat Alquran dan hadis. Jihad melalui diplomasi jauh lebih elegan.

Jihad dengan cara melahirkan sebuah peradaban besar yang memungkinkan orang menjadi makmum juga jauh lebih mulia. Banyak cara jihad lebih terhormat dan elegan di zaman modern ini.

Jihad dengan cara bunuh diri atau mencelakai diri atau orang lain yang tidak berdosa merupakan pemandangan sangat menodai Islam sebagai sebuah agama dakwah.

Pendekatan lebih baik saat ini mengedepankan firman Allah, "Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu." (QS Ali Imran/3:64). Ayat lain: "Dan ja-nganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum mendo-rong kalian untuk berlaku tidak adil." (QS Al-Maidah/5:8).

Semoga tulisan ini bisa menyadarkan orang bahwa bunuh diri, apa pun alasannya, tidak pernah ditoleransi dalam Islam.

BERITA TERKAIT