22 May 2019, 22:40 WIB

Pemerintah Saudi akan Eksekusi Mati Tiga Ulama


(Aljazeera/I-1) | Internasional

AFP
 AFP
 Putra Mahkota Mohammed bin Salman.

OTORITAS Arab Saudi dilaporkan akan menjatuhkan hukuman mati terhadap tiga ulama terkemuka. Ketiganya dilaporkan akan diekse­kusi mati setelah bulan suci Ramadan.

Setelah mengutip dua sumber pemerintah dan salah satu kerabat pria itu, Middle East Eye, Selasa, melaporkan tiga orang, yakni  Sheikh Salman al-Awdah, Awad al-Qarni, dan Ali al-Omari, akan dihukum dan dieksekusi setelah bulan suci Ramadan berakhir, bulan depan.

Tidak ada komentar dari otoritas Saudi tentang laporan itu.

Al-Awdah ialah cendekiawan Islam progresif yang terkenal secara internasional dan digambarkan oleh para ahli PBB sebagai reformis, Al-Qarni ialah seorang pengkhotbah, akademisi, dan penulis, dan Al-Omari ialah penyiar­ populer.

“Mereka (Saudi) tidak akan menunggu untuk mengeksekusi orang-orang ini begitu hukuman mati telah dijatuhkan,” kata satu sumber tanpa nama kepada Middle East Eye.

Sumber pemerintah Saudi lainnya mengatakan eksekusi 37 warga negara bulan lalu itu digunakan sebagai uji coba untuk mengukur kekuatan kecaman internasional.

Yahya Assiri, pendiri ALQST, organisasi hak asasi manusia Saudi yang berbasis di London, menyebut laporan berita itu tidak benar dalam tweet dalam bahasa Arab. Namun, ia menulis, “Tidak ada yang di luar otoritas yang menindas, brutal dan bodoh, tetapi juga tidak ada yang dihukum atau dieksekusi.”

Ketiganya sedang menunggu persidangan di Pengadilan Khusus Kriminal di ibu kota, Riyadh, setelah ditangkap pada September 2017 ketika pemerintah Saudi menahan puluhan tokoh terkemuka dalam dugaan tindakan antikorupsi yang dipimpin oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman.

Penangkapan mereka memicu kecaman PBB, serta beberapa kelompok HAM terkemuka, termasuk Human Rights Watch dan Amnesty International.

Al-Awdah, yang memiliki lebih dari 13 juta pengikut di Twitter, mem-posting tweet sesaat sebelum ditangkap yang berisi referensi yang jelas tentang hubungan antara Arab Saudi dan tetangganya di Teluk, Qatar.

Riyadh memelopori blokade udara, laut, dan darat yang diberlakukan di Qatar sejak Juni 2017. Langkah ini didukung oleh tiga negara Arab lainnya: Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Mesir. “Semoga Tuhan menyelaraskan di antara hati mereka untuk kebaikan umat mereka,” kata Al-Awdah dalam tweet itu.

Saudi sering menuai kritik internasional atas dugaan pelanggaran HAM, termasuk penindasan untuk menahan warga negaranya. Dalam laporan Januari 2018, para pakar PBB mengutuk kerajaan terus menggunakan kontraterorisme dan hukum yang berkaitan dengan keamanan terhadap pembela hak asasi manusia.

“Meskipun terpilih sebagai anggota Dewan Hak Asasi Manusia pada akhir 2016, Arab Saudi telah melanjutkan praktik pembungkaman, penangkapan sewenang-wenang, penahanan, dan penganiayaan para pembela HAM dan kritikus,” kata laporan itu. (Aljazeera/I-1)

BERITA TERKAIT