Nia Zulkarnaen Angkat Tenun NTT


Penulis: Galih Agus Saputra - 23 May 2019, 00:45 WIB
MI/ ADAM DWI
 MI/ ADAM DWI
 Nia Sihasale Zulkarnaen 

LAMA tak terdengar, Nia Zulkarnaen kembali merilis film terbaru. Di bawah naungan Alenia Production, Nia yang bekerja sama dengan suami dan sutradara Ari Sihasale memproduksi film Rumah Merah Putih yang akan tayang di bioskop seluruh Tanah Air pada 20 Juni mendatang.

Film itu merupakan film kesembilan yang diproduksi Nia dan Ari. Seperti film sebelumnya, mereka mengangkat tema nasionalisme dari kehidupan anak-anak yang tinggal di daerah perbatasan antara Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Timor Leste.

Dalam peluncuran poster sekaligus cuplikan (trailer) film Rumah Merah Putih, di Alenia Papua Coffee & Kitchen, Kemang, Jakarta, Senin (20/5), Nia mengatakan film tersebut tidak sebatas dibuat di NTT. Lebih dari itu, film ini ingin menceritakan NTT untuk khalayak ramainya, khususnya penikmat film Indonesia.

“Mulai dari dialeknya, budayanya, dan segala macam,” kata Nia.

Menariknya di film ini tenun NTT tampil paling menonjol. Semua pemain film, kata Nia, memakai tenun, dari Mama Maria yang diperankan Pevita Pearce, Bapak Daniel (diperankan Yama Carlos), hingga Mama Rosa (diperankan Shafira Umm).

“Jadi, misalnya, Mama Maria, atasannya dia memakai blus, tapi bawahnya tenun. Begitu juga dengan Mama Rosa. Kalau Bapak Daniel, atasannya pakai kemeja, atau kaus berkerah, kemudian bawahnya pakai tenun. Bahkan Bapak Daniel juga pakai ikat kepala yang terbuat dari tenun,” imbuhnya.

Nia mengaku produksi filmnya di NTT mendapat dukungan dari istri Gubernur NTT, Julie Sutrisno Laiskodat. Menurutnya, Julie adalah ‘ibunya tenun’ di sana, sama halnya dengan Istri Bupati Belu, Lidwina Viviawaty. Dari mereka, Nia mendapat sejumlah koleksi tenun, sekaligus memiliki kesempatan berkunjung dan berkenalan dengan pengrajin tenun di beberapa daerah NTT. Bahkan tenun seperti yang dipakai Pevita dalam poster film Rumah Merah Putih itu pun berasal dari karya tangan salah satu pengrajin di Belu.

Itu semua, kata Nia, diberikan sebagai bentuk cinta dan terima kasih masyarakat NTT kepada segenap tim produksi film Rumah Merah Putih. “Mereka kalau sudah sayang memang seperti itu. Dikasih semuanya. Jadi, saya waktu pulang itu bahkan sampai harus dikirim dulu tenunnya. Soalnya setiap kali mampir ke suatu daerah itu selalu dikasih. Kurang lebih mungkin sampai tiga kotak (boks) besar begitu, dan yang membuat kagum itu mereka selalu memberikan koleksi yang terbaik,” tutur Nia.

Bangga
Sebagai bentuk penghargaan atas kebaikan masyarakat NTT, Nia lantas memakaikannya kepada segenap pemain film. Lebih dari itu, Nia juga mengatakan tenun menjadi hal yang amat penting (highlight) di film Rumah Merah Putih. Nantinya, ketika diadakan penayangan perdana film Rumah Merah Putih di Jakarta, tenun juga akan ditetapkan sebagai kode pakaian (dresscode)nya.

“Ayuk, teman-teman media, kalau punya tenun sekecil apa pun itu, barangkali cuma sapu tangan, selendang kecil, atau apa saja nanti dipakai ya kalau datang di 15 Juni, waktu premiere,” seru Nia.

Menurut Nia, dewasa ini tenun telah menjadi identitas di setiap daerah NTT, dari Flores, Sumba, hingga Alor juga diketahui memiliki ciri khas tenunnya masing-masing. Ragam tenun itu ingin diangkat Nia sebagai kekayaan produk kebudayaan di sana. Selain itu, menjadi kebanggan tersendiri karena tenun ialah salah satu karya anak bangsa.

Setelah NTT, Nia ingin mengangkat kisah inspiratif lain yang ada di Indonesia, khususnya dari timur. Nia berpendapat daerah timur sebenarnya bukan hanya bagian dari Indonesia, melainkan juga merekalah Indonesia. Bahkan, saking begitu banyaknya cerita menarik di sana, ada beberapa skenario film Rumah Merah Putih yang harus diubah mengikuti realitasnya.

“Seperti yel-yel kebangsaan di sana itu sampai bikin saya dan kami semua merinding. Maka dari itu, besok lihatlah film Rumah Merah Putih, dan rasakan betapa cintanya mereka terhadap Indonesia,” seru Nia. (M-3)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BERITA TERKAIT