21 May 2019, 23:10 WIB

Bidik Menpora, KPK Tunggu Analisis Jaksa


M Ilham Ramadhan Avisena | Politik dan Hukum

MI/ROMMY PUJIANTO
 MI/ROMMY PUJIANTO
Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Saut Situmorang

WAKIL Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Saut Situmorang menyatakan, KPK menunggu hasil analisa jaksa penuntut umum untuk membuka penyidikan kepada Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi.

"Normatifnya selalu itu, nanti jaksa-jaksa itu akan lapor ke pimpinan, mereka juga punya naluri siapa yang duluan, siapa yang belakangan," kata Saut di kantornya, Selasa (21/5).

Menurutnya, menganalisis dan mencermati soal perkara untuk membuka nama baru ialah hal yang lumrah. Pasalnya, itu merupakan bagian dari strategi yang dilakukan oleh KPK untuk menjerat terduga korupsi.

"Kita tunggu jaksa, mereka akan laporan dan kemudian siapa yang direkomendasikan. Pimpinan akan memutuskan kenapa bukan ini dan bagaimana kelanjutannya, kita tunggu saja mereka," ujar Saut.

Sebelumnya, jaksa KPK, Ronald Ferdinand Worotikan menyatakan, akan mencermati pertimbangan majelis hakim yang mengamini adanya aliran dana kepada asisten pribadi Menpora Miftahul Ulum sebesar Rp11,5 miliar.


Baca juga: KPK Sarankan Jokowi Pilih Menteri yang Berintegritas


"Ini akan kami cermati juga karena ini kan baru mendengar putusan secara lisan ya. Jadi kami akan cermati lebih lanjut putusannya seperti apa," ujar Ronald.

"Majelis hakim hanya mengatakan ada uang Rp11,5 miliar yang diterima oleh Miftahul Ulum, cuma apakah uang yang diterima Miftahul Ulum ini sampai ke Menpora, nah itu yang ingin kami gali lebih lanjut," sambungnya.

Dalam pertimbangan majelis hakim, diketahui bahwa aliran dana yang diterima oleh Miftahul Ulum ditujukan kepada Imam Nahrawi. Hakim juga memasukkan keterangan Imam saat memberikan kesaksian dan membantah soal aliran dana tersebut.

Atas hal itu, Saut menyatakan sudah melakukan diskusi dengan Ketua KPK, Agus Rahardjo, "Saya dengan pak Agus sudah diskusi, saya tidak usah sebutkan apa diskusi itu, kita amati detail kasus itu, kalau tidak begitu tidak adil dong," tandasnya. (OL-1)

BERITA TERKAIT