20 May 2019, 08:45 WIB

Perlu Siasat Atasi Perang Dagang


Andikha Prasetyo | Ekonomi

ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan
 ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan
Buruh memuat tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di lahan perkebunan Merlung, Tanjungjabung Barat, Jambi, Minggu (29/10).

PEMERINTAH perlu menyiasati dampak perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Selain karena belum terlihat ujungnya, dampaknya sudah terasa memengaruhi ekonomi pada kuartal 1 2019

Besaran defisit neraca perdagangan mencapai US$2,5 miliar yang merupakan rekor tertinggi. Penyebabnya ekspor tertekan lebih tinggi ketimbang penurunan impor.

Direktur Indosterling Aset Manajemen Fitzgerald Stevan Purba mengimbau pemerintah untuk serius mengembangkan industri pengolahan dan meninggalkan ketergantungan terhadap ekspor komoditas mentah yang selama ini menjadi senjata utama Indonesia.

"Karena perang dagang itu memberi dampak pada penurunan harga komoditas seperti batu bara dan kelapa sawit. Ke depan, Indonesia tidak bisa berharap banyak mendapat keuntungan dari ekspor komoditas itu," ujar Stevan melalui keterangan resmi, akhir pekan lalu.

Pemerintah juga harus mampu membenahi defisit neraca dagang dengan cara menembus pasar-pasar ekspor baru dan tidak terlalu bergantung pada AS dan Tiongkok. Jika itu dapat dilakukan, ia optimistis kinerja ekspor akan bisa terjaga dan neraca dagang tidak akan semakin melebar.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi B Sukamdani mengatakan agar defisit tidak membesar pada kuartal II, pemerintah harus mengendalikan impor dengan industri substitusi.

"Sebenarnya selama ini impornya memang sudah bagus karena lebih banyak ke barang modal, tapi bagaimanapun juga kita harus mengupayakan sebisa mungkin ada substitusinya bisa menggantikan impor itu dengan produksi di dalam negeri," kata Hariyadi.

Harus dilakukan inovasi dan terobosan baru agar barang-barang berpotensi yang sebelumnya diimpor dapat diproduksi di dalam negeri.

Di sisi lain, ekonom Universitas Indonesia Telisa Aulia Falianty memperkirakan neraca transaksi berjalan di kuartal II 2019 tidak akan lebih baik dari kuartal sebelumnya. Hal itu mengingat adanya pola musiman yaitu momen Ramadan, Lebaran, serta memanasnya perang dagang Amerika Serikat-Tiongkok.

"Itu kemungkinannya current account tidak akan lebih baik dari kuartal I. Kemungkinan kecil untuk lebih baik dari kuartal I," kata Telisa dalam diskusi di Kantor Menko Perekonomian, pekan lalu.

Aliran modal asing

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengakui adanya aliran modal asing keluar Rp11,3 triliun sebagai dampak gonjang-ganjing perang dagang.

"Kalau menurut data settlement, antara 13-16 Mei terjadi aliran modal asing yang keluar dari Indonesia nett jual Rp11,3 triliun," katanya.

Kondisi tersebut, disampaikan Perry, kemudian memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Dalam menyikapi itu, ia menegaskan bahwa BI selalu berada di pasar untuk melakukan langkah stabilisasi nilai tukar rupiah dengan intervensi ganda baik melalui pasar valas di spot maupun DNDF.

"Demikian juga pembelian SBN dari pasar sekunder, dengan tetap menjaga mekanisme pasar. Itu yang terus kita lakukan sehingga kita juga selain menyuplai di valasnya, juga membeli SBN dari pasar sekunder," tandasnya. (Nur/*/E-1)

BERITA TERKAIT