Kisah Kekosongan Jiwa Akibat Teknologi


Penulis: Tosiani - 19 May 2019, 20:15 WIB
Tosiani
 Tosiani
Pementasan Suara Inspirasi Muda (Teater SIM) dan Yajugaya yang berjatuk 

LAMPU panggung menyala redup tatkala El, seorang gadis remaja berusaha menyayat nadinya dengan pisau. Percobaan bunuh diri digagalkan beberapa temannya dari masa kecil. El kembali bangkit setelah bertemu seorang pria dan jatuh cinta. Keduanya lalu menjalin hubungan kasih meski tak berlangsung lama.

 
Putus dari kekasihnya, dalam kondisi patah hati, jiwa El yang rapuh mulai kencanduan teknologi. Ia amat bergantung pada teknologi hingga ia jauh dari teman-temannya. Komunikasi jarang dilakukan, dan jiwa El kosong dan sepi. Teknologi menjauhkan hubungan antar manusia. Toleransi tidak ladi ada karena mata tidak bertemu mata, sehingga tidak tumbuh empati.
 
Pada saat yang sama, muncul kerinduan pada masa dimana teknologi belum semaju sekarang. Jika tersesat di jalan, tinggal bertanya pada orang lain, bukan pada peta daring yang disediakan teknologi. Saat dimana orang lebih suka berkumpul dan berbincang, menjalin ikatan emosional. 
 
Cerita dengan sedikit kata dan minim dialog dimainkan sekelompok anak muda dari Teater Suara Inspirasi Muda (Teater SIM) dan Yajugaya Divisi Kesenian di Auditorium Galeri Indonesia Kaya, West Mall Grand Indonesia, Jakarta, Sabtu (18/5) Sore. Pertunjukan teater minikata bertajuk 'KBHGN' itu berlangsung selama 60 menit. Tontonan ini disutradarai Arsi Ramadhan dari Teater SIM.
 
Sutradara KBHGN, Arsi Ramadhan, mengatakan, yang ingin disampaikan adalah seputar lika liku kehidupan manusia setelah hadirnya informasi dan teknologi (IT). Sebelum IT hadir, manusia bertemu manusia lain untuk menyelesaikan masalah. Sekarang manusia menyelesaikan masalah lewat teknologi. 
 
"Belum lama ini ada kasus di Malaysia mengandalkan voting dari instagram untuk menyelesaikan kasus seorang murid sekolah. Itu representasi dari kita yang amat tergantung pada IT. Bahkan untuk berdamai dengan diri sendiri. Ini tawaran dari tim Yajugaya karena ada keresahan yang sama bahwa IT akan memakan kita semua,"tutur Arsi, Sabtu (18/5).
 
Dalam menampilkan pertunjukan teater ini, Arsi mengaku menghadapi tantangan seputar hal teknis. Sebab, referensi pertunjukan dengan tema teknologi kebanyakan dari film. Namun pihaknya harus menghadirkannya pada pentas teater.
 
"Misal menghadirkan panggung yang super berwarna di panggung teater, soal properti kita ada kesulitan. Awalnya soal visual kami berdebat mau pakai chip atau barcode," katanya.
 
Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, Renitasari Adrian, mengatakan, walaupun tidak menggunakan banyak dialog, kolaborasi antara Teater SIM dan Yajugaya menghasilkan sebuah pertunjukan yang tidak hanya menghibur. Tapi juga mampu menyampaikan kekuatan makna kata dan pesan yang tersirat pada penikmat seni di Auditorium Galeri Indonesia Kaya.
 
"Kami harap pertunjukan ini menjadi sebuah sajian yang menginspirasi para seniman muda dalam menciptakan pertunjukan seni yang berkualitas, untuk terus memajukan seni pertunjukan Indonesia,"katanya.
 
Randhy, Perwakilan Yajugaya, mengatakan, pertunjukan KBHGN terinspirasi dari kemajuan teknologi yang tidak selalu sinergis dengan kemajuan penggunanya. Lahirnya beragam teknologi yang kian pesat membuat banyak generasi muda tertidur, kurang peka dengan apa yang terjadi di sekitarnya.
 
"Semoga pertunjukan KBHGN bisa membangunkan para generasi muda dari tidurnya sehingga kemajuan teknologi dan para penggunanya dapat maju bersinergi,"kata Randhy. (M-1)
 
BERITA TERKAIT