18 May 2019, 09:40 WIB

Permadi Penuhi Panggilan Bareskrim


M Iqbal Al Machmudi | Politik dan Hukum

ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
 ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
Politisi Partai Gerindra Permadi

POLITIKUS Partai Gerindra Permadi memenuhi panggilan Bareskrim Mabes Polri sebagai saksi dari dugaan makar yang dilakukan Kivlan Zen. Dirinya ­dijemput penyidik untuk dibawa ke Kantor Bareskrim Polri karena ia sudah berusia lanjut.

“Saya sudah di ruang penyidikan. Saya sudah umur 80 tahun dan stroke, jadi susah bergerak cepat. Lalu, polisi bilang, ya sudah dijemput,” kata Permadi saat dihubungi, Jakarta, Jumat (17/5).

Lebih lanjut, pria berusia 80 tahun yang gemar memakai baju hitam tersebut mengaku tak memiliki persiapan apa pun untuk kehadirannya sebagai saksi Kivlan Zen. “Saya tidak usah mempersiapkan diri, soalnya siap atau tidak siap ini perintah undang-undang,” katanya.

Ia datang ke Bareskrim ­didampingi beberapa pengacaranya. Namun, pengacara­ yang mendampingi Permadi berjumlah 35 orang. Serupa dengan Kivlan­ Zen­, Permadi juga memiliki kasus yang sama denga Kivlan, yaitu dugaan makar terhadap pemerintahan yang sah.

Permadi dilaporkan oleh Stefanus dan diancam dengan pelanggaran  Undang-Undang Nomor 40/2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis dan KUHP terkait dengan pasal tindak kejahatan yang mengganggu keamanan negara.

Pemeriksaan ulang
Terpisah, Polda Metro Jaya mengagendakan­ ulang pemeriksaan dokter spesialis saraf, Robiah Khairani Hasibuan atau Ani Hasibuan, yang rencananya berlangsung kemarin. Kuasa hukum Ani, Amin Fahrudin, mengatakan kliennya tidak bisa memenuhi panggilan pemeriksaan disebabkan kondisi kesehatan.

“Hari ini panggilan itu tidak bisa kami penuhi karena klien kami dalam kondisi sakit, jadi pagi ini kami minta ke penyidik Polda Metro Jaya untuk melakukan penundaan pemeriksaan klien kami,” katanya di Kantor Polda Metro Jaya, kemarin.    

Amin menyebut Ani Hasibuan dipanggil dalam pemeriksaan sebagai saksi dugaan tindak pidana menyampaikan informasi bohong yang menimbulkan rasa kebencian berdasarkan SARA atas ucapannya mengenai gugurnya ratusan petugas KPPS. Ani, kata Amin, saat ini sedang menjalani perawatan karena kelelahan.

“Ya sakitnya itu karena terlalu over secara fisik jadi mungkin beliau kelelahan. Ibu Ani menjalani perawatan di rumah, tidak dalam perawatan rumah sakit,” ucapnya.

Pada kesempatan tersebut, Amin mengungkapkan, kliennya mempertimbangkan melaporkan portal berita http://tamshnews.com terkait dengan berita soal penyebab gugurnya ratusan petugas KPPS.

“Iya kami pertimbangkan karena dia tidak pakai prinsip jurnalisme­ yang sehat. Muatannya juga yang mengandung pencemaran yang dilakukan ­muatan berita ini,” katanya. (Iam/P-4)

BERITA TERKAIT