18 May 2019, 07:30 WIB

Meluruskan Makna Jihad (Habis)


Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta | Renungan Idul Fitri

MI/Seno
 MI/Seno
Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta 

PERJUANGAN ijtihad dituntut lebih banyak di masa damai, terutama untuk memikirkan kualitas hidup umat yang lebih layak, sedangkan mujahadah lebih bersifat terbuka.

Siapa pun boleh mengaksesnya yang penting ada kesungguhan batin untuk melakukannya.

Mujahadah bisa mengantar manusia meraih predikat tertinggi sebagai manusia paripurna. Idealnya seseorang yang mendambakan kualitas hidup paripurna tidak bisa hanya mengandalkan salah satu di antara ketiga kualitas perjuangan tadi. Namun, ketiganya harus bersinergi di dalam diri sebagaimana ditampilkan Rasulullah.

Beliau sangat terampil di dalam perjuangan fisik, terbukti dirinya sering terlibat sebagai panglima angkatan perang yang sangat dise­gani kawan dan lawan. Beliau juga seorang yang cerdas pikirannya dan panjang tahajudnya.

Peristiwa berdarah menewaskan 12 orang di kantor Charlie Hebdo, sebuah majalah yang berkali-kali memuat karikatur sindiran kepada Nabi Muhammad dan tokoh pemimpin muslim. Pelakunya kakak beradik Said Kouachi, 34, dan Cherif, 32, ditengarai anggota kelompok radikal di Prancis. Keesokan harinya disusul pe nembakan di selatan Kota Paris yang menewaskan seorang polisi.

Kejadian memprihatinkan ini betul-betul mengusik rasa kemanusiaan kita. Lebih memprihatinkan lagi karena penyerangan itu dilakukan atas nama jihad. Jika sebuah tindakan dilakukan atas nama jihad biasanya tidak ada penyesalan, bahkan mungkin yang ada ialah sebuah kepuasan karena telah melakukan ‘tugas agama’. Risiko apa pun yang akan diterima di dunia tidak membuatnya menyesal karena dianggap perbuatan suci atau jihad.

Apa sesungguhnya jihad? Bagaimana pengertian dan perspektif jihad dan perspektif jihad dalam Alquran? Apakah sama dengan pengertian dalam kitab-kitab fikih kontemporer yang disusun ketika dunia Islam satu per satu jatuh di dalam cengkeraman kolonialisme Barat, yang kemudian banyak diakomodasi oleh kelompok-kelompok radikal?

Lebih khusus lagi apakah makna jihad identik dengan terorisme sebagaimana dikonotasikan media-media Barat?
Sebuah buku advance berjudul Jihad, The Trail of Political Islam, ditulis oleh Gilles Kepel, profesor di Institute for Political Sciences di Paris dan Direktur pada The CNRS di Paris, menguraikan makna dan sejarah jihad dalam Islam setebal 463 halaman.

Dia menjelaskan panjang lebar tentang makna jihad, tetapi lebih banyak merujuk kepada karya-karya Sayid Quthb dan Abul A’la al-Maududy, dua tokoh yang berperan ganda dalam sejarah dunia Islam kontemporer.

Di samping sebagai sosok ilmuwan juga sebagai pejuang karena mereka hidup di dalam perjuangan fisik membela negeri­nya dari caplokan penjajah Barat. Tentu saja pengertian jihad yang dimuat di dalam buku-bukunya ada keterlibatan subjektif emosional penulisnya.

Tidak heran kalau ada ulama yang ­mengomentari Tafsir Fi Dhilal al-Qur’an karya Sayid Quthb lebih merupakan pengalaman pribadi penulisnya yang terlibat secara fisik di dalam menghadapi penjajah Barat. Makna jihad yang dirumuskan dalam kurun waktu itu masih dihubungkan dengan konsep kenegaraan klasik: Dar al-Harb, Dar al-Shulh, dan Dar al-Silm.

Buku-buku penting yang terbit di Barat dalam dua dekade terakhir umumnya memaknai jihad sebagai perjuangan fisik melawan kelompok nonmuslim atau kelompok yang dianggap memusuhi atau menghambat terbentuknya penerapan konsep the whole Islamic concept in the muslim society yang biasa diistilahkan di dalam Fikih Siyasah dengan Dar al-Salam.

Kelompok radikal muslim biasanya mengartikan jihad dengan makna seperti ini sehingga perbedaan kata al-jihad dan al-qital menjadi kabur, padahal di dalam Alquran sangat jelas perbedaan antara kedua konsep tersebut (akan diuraikan dalam artikel mendatang).

Berbeda dengan kelompok moderat yang mengartikan jihad sebagai sebuah kata generik dengan berbagai makna spesifik. Kelompok ini lebih cenderung memaknai jihad sebagai gerakan kemanusiaan. Mereka memaknai jihad sebagai usaha untuk menghidupkan orang, bukan untuk mematikan orang. Pengertian jihad ini sebetulnya lebih sejalan dengan semangat makna jihad di dalam Alquran dan hadis.                                    

BERITA TERKAIT