17 May 2019, 21:15 WIB

Pesantren Kilat Ramadan Jangan Dicemari Paham Radikal


Syarief Oebaidillah | Humaniora

Ist
 Ist
 Direktur Pembinaan SMA Kemendikbud Purwadi

SELAMA Ramadan aktivitas sekolah tetap berjalan seperti biasa berupa pembelajaran dan kegiatan positif yang bernapaskan religi, di antaranya pesantren kilat (sanlat), tadarus, dan lain-lain. Aktivitas ini diharapkan berjalan baik dan tidak tersusupi masuknya paham radikal.

"Kita sudah rutin tiap tahun berkegiatan Ramadan dengan proses pembelajaran yang juga tetap berjalan bernapas keagamaan dalam bentuk pesantren kilat dan tadarus bersama di sekolah.

Intinya, melalui Ramadan, seluruh sekolah gelar kegiatannya lebih mendekatkan pada Allah SWT," kata Direktur Pembinaan SMA Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Purwadi, didampingi Kasubdit Kurikulum Direktorat SMA, Suharlan, di Jakarta, belum lama ini.

Dia mengingatkan, selama kegiatan Ramadan, seperti sanlat tidak boleh ada perundungan. Selain itu, kegiatan tersebut diharapkan tidak tersusupi paham radikal. Pasalnya, melalui sanlat dikhawatirkan akan masuk unsur dari mana saja yang mungkin negatif.

Untuk itu, Purwadi meminta pihak sekolah menyeleksi fasilitator yang tidak tercemar, melakukan pertentangan dengan paham negara yang dapat menggerogoti ideologi Pancasila dan bingkai NKRI yang sudah final.

"Jadi kita harap lakukan seleksi dengan baik bagi fasilitator kegiatan sanlat yang tidak melakukan pencemaran dan tidak bertentangan dengan paham negara kita, Pancasila dan NKRI," tegas Purwadi dalam keterangan tertulis yang diterima Jumat (17/5).

Guna mengantisipasi dan menangkal masuknya paham radikal di sekolah, Direktorat Pembinaan SMA Kemendikbud telah bekerjasl sama dengan Maarif Institute, Wahid Foundation, NII Crisis Centre (NCC), dan AIDA.


Baca juga: Batik Kontemporer Kolaborasi Pop U dan Ify


Mereka telah mempunyai tugas masing-masing. Misalnya NCC masuk dan memberikan arahan kepada siswa-siswa yang terpapar paham radikal. Kendati sudah tidak ada bentuk organisasi Negara Islam Indonesia (NII), sel-selnya ternyata masih ada dan diarahkan kepada siswa-siswa yang masih polos.

"Upaya mereka mereka merekrut dan memberi iming-masuk NII dengan memungut dana dengan alasan untuk sedekah dan sebagainya.

Mereka yang terpapar ini susah keluar. Nah NCC masuk ke sini memberi penyadaran," ujar Purwadi seraya menambahkan NCC merupakan organisasi dari para pelaku yang telah sadar dan tobat.

Dahulu mereka pernah merekrut siswa-siswa sekolah. Kini mereka telah bertobat dan menyadarkan para siswa-siswa yang menjadi target NII tersebut. Adapun NCC bertugas di area wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi (Jabodebek).

Sedangkan Maarif Institute bertugas melakukan pendekatan di daerah yang terpapar paham radikal di Bima, Nusa Tenggara Bara. Di wilayah ini ada sekelompok masyarakat yang mesti disentuh dengan pendekatan tertentu guna mengikis paparan paham radikal yang muncul.

Adapun Wahid Foundation masuk ke wilayah Garut, Jawa Barat.

"Di wilayah-wilayah tersebut perlu pendekatan khusus dari organisasi yang mampu melakukan pendekatan khusus kepada kelompok masyarakat tertentu," pungkasnya. (OL-1)

BERITA TERKAIT