Kebangkitan Pendidikan Tinggi


Penulis: Yonvitner Kepala Pusat Studi Bencana Dosen MSP FPIK IPB - 18 May 2019, 06:40 WIB
MI/Tiyok
 MI/Tiyok
Ilustrasi

DI tengah silang sengkarut adaptasi scopus pada perguruan tinggi (PT) yang kemudian dijadikan sebagai indikator untuk menjadi PT unggul, saat itu pula kita melihat kampus ter-disrupt dalam berbagai kebijakan tata kelolanya. Bahkan, di pusat riset setingkat nasional seperti LIPI terjadi aksi Bibliogenosida dokumen sains karena dianggap lama dan belum terdigitalisasi.

Kita seharusnya paham bahwa ilmu tidak pernah menjadi usang dan merupakan kekayaan yang tumbuh secara universal. Euforia revolusi 4.0 telah membawa banyak ide dan gagasan baru dalam bisnis sains yang semestinya direspons sebagai peluang bagi bangsa kita. Demikian juga para pendidik yang sebagian merasa tergopoh mengejar jabatan guru besar dan mempertahankan status guru besar agar tunjangan tidak dihentikan karena publikasi yang harus scopus.  

Kemunculan revolusi industri 4.0 semakin membuat insan kampus bingung, mau diarahkan ke mana pendidikan Indonesia sesungguhnya, hingga koheren dengan kampus kelas dunia dan kebutuhan bangsa sendiri.

Tidak apple to apple sesungguhnya membandingkan indikator capaian scopus, publikasi internasional, rangking kelas dunia sebagai standar kemajuan pendidikan kita.  

Back to nature, pendidikan kita yang terlahir dalam framing pendidikan asimetris memang perlu belajar dan mencontoh cara orang lain menjadi maju. Namun, untuk maju dan setara dengan PT kelas dunia lainya, kita bisa mengggunakan pendekatan dan indikator yang berbeda.    

Untuk itu sejatinya harus digali, apa yang menjadi tuntutan bangsa kita ke depan, dan apa yang menjadi outstanding PT kita sebagai kelas dunia sehingga pendekatan kita menjadi PT kelas dunia dapat berbeda dengan PT asing. Model pendekatan inilah yang kemudian menjadi pendekatan baru pendidikan di PT kita.

Pendekatan baru
Penulis berpendapat, untuk menjadi PT kelas dunia kita tidak perlu mengeluarkan banyak uang hanya untuk mendapatkan jurnal yang diterbitkan pada jurnal Q1 dan seterusnya. Pernahkah kita bertanya kepada negara atau kembali membuka sejarah tujuan founding father kita mendirikan negara ini.  

Belajar ke negara asing bukan untuk menjadikan PT kita asing, melainkan untuk kembali dan membangun bangsa dan PT serta masyarakat kita agar dikenal dunia. Indonesia memiliki banyak hal untuk menjadi kelas dunia. Di antaranya, pertama, perlu ada jurnal berbahasa Inggris sebagai solusi ketika harga langganan jurnal berindeks scopus terus meningkat.  

Kita harus sadar bahwa scopus ialah impact bukan tujuan, dengan scopus juga sebuah rezim ekonomi. Scopus dengan mudah mengeksploitasi hasil pemikiran dan karya orisinal kita untuk dipajang dalam urutan Q1-Qn yang kemudian menjadi sebagai sebuah prestise.  

Ketika karya kita hadir dalam listing scopus seolah-olah kita sudah menyelesaikan persoalan bangsa, tapi kita lupa bahwa kita baru saja dibobokan dengan dengan status baru tanpa syarat apa pun.

Apakah kita yakin bahwa 5 atau 10 tahun lagi karya kita yang monumental di scopus tersebut tetap akan jadi milik kita? Ketika rezim berubah, teknologi berganti, kebijakan dan dunia berubah, bisa jadi kita akan membayar mahal untuk karya penuh dedikasi kita itu. Kemenangan tanpa lawan dari bisnis ide dan pemikiran yang dilakukan scopus telah menjerat kita pada lingkaran kebocoran intelektualitas jangka panjang.

Ironi memang jika kita terus kalah. Negara kaya SDA, tapi yang eksploitasi bangsa lain, kaya penduduk tapi yang mengatur negara lain, kaya ide dan potensi riset tapi yang mengatur negara lain.

Invansi ekonomi baru bernama teknologi RI 4.0 harusnya dijadikan peluang oleh bangsa kita sebaik-baiknya. Sederhana menurut penulis, jika memang publikasi perlu diketahui orang sedunia, hanya perlu didorong kampus-kampus dengan fakultasnya memiliki jurnal berbahasa Inggris. Dengan demikian, secara otomatis orang luar juga akan bisa membaca jurnal kita dan akan menyitasi.  

Dampak lainnya kita bisa mendorong ini sebagai bisnis kampus.  Kampus kelas dunia versi kita ialah yang memiliki banyak jurnal berbahasa Inggris. Dalam waktu singkat kita akan merasakan efeknya di setiap kampus. Dengan memberikan insentif pada setiap media publikasi kampus, autorship, maka hasil riset kita akan menjadi sebuah industri riset yang mendunia.

Jika mau lagi pemerintah tinggal menyusun peringkat publikasi dunia versi Indonesia dengan sitasi terbanyak. Jika mau menjadi negara yang maju, kita harus mau berubah dari gaya soft state menjadi hard state, yaitu dengan meninggalkan gaya pendidikan asimetris.

Bagian kedua, yaitu pentingnya mengembangkan sains dari lingkungan sendiri (by nature). Kekayaan alam kita yang tinggi, masyarakat yang memiliki keberagaman sosial tinggi bisa menjadi andalan. Kita bisa mengembangkan banyak nilai dalam masyarakat menjadi kekuatan.

Penulis mencontohkan program SUIJI (Six University Initiative Japan Indonesia) dengan para mahasiswa dari 6 PT bekerja bersama bersama masyarakat. Konsep KKN yang lebih dulu ada di Indonesia menjadi daya tarik Jepang dan kemudian bersama melakukan dan mengembangkannya. Artinya, program seperti KKN menjadi salah satu aset untuk menarik inbound mahasiswa dan dosen asing. Kenapa tidak kita jadikan hal itu sebagai kriteria World University Rangking (WUR) menurut Indonesia.

Bagian ketiga, yaitu kekayaan bangsa Indonesia ialah sumber sains yang tiada duanya. Potensi itu semestinya menjadi baseline dalam menyusun teori-teori dan platform ilmu sains tropis. Keunggulan nilai-nilai sosial kemudian menjadi perekat dalam implementasi sains ke masyarakat sehingga munculah teori kebutuhan taraf hidup seperti yang dilahirkan Prof Sajogyo. Keunggulan itu semestinya menjadi kekuatan dalam memperkuat keunggulan kampus Indonesia.

Pada bagian keempat, yaitu perlu dukungan untuk kampus dalam negeri dalam memperkuat inbound asing. Keunggulan sumber sains dapat menjadi daya tarik bagi calon mahasiswa asing untuk inbound ke RI. Dengan mengalokasi beasiswa kepada profesor RI untuk membimbing mahasiswa asing, Indonesia akan memperoleh 3 impact, yaitu peningkatan inbound, publikasi berbahasa Inggris, dan outstanding Indonesia di dunia.   

Dampak lain yang bisa tumbuh ialah kerja sama universitas makin mudah serta potensial meningkatkan potensi inbound profesor kelas dunia.

Keempat pendekatan di atas hanya bisa terwujud apabila pemerintah kita memiliki kesadaran manajemen sains, bervisi bangsa maju dari sekadar kesadaran administrasi. Dengan demikian, mampu memacu iklim riset yang kondusif menuju bangsa berkemajuan sehingga ke depan muncul kesadaran penguatan kebijakan berbasis riset dan bisnis sains yang kuat.

Untuk merealisasikan itu semua, bagian kelima, yaitu pentingnya merancang skema industrialisasi dan komersialisasi riset sebagai penggerak ekonomi bangsa. Indonesia harus ambil bagian dalam bisnis riset dunia dengan berbagai inovasi sain dan iptek.  

Ketika kita tidak mampu berlari kencang dalam kompetisi teknologi, kita harus unggul dalam kekayaan riset dan inovasi berbasis SDA dan sumber daya sosial. Semua ini dikemas dalam suatu paket yang disebut sebagai World Quality Sains Rank (WQSR) milik Indonesia.

Ke depan kita tidak perlu lagi tergantung hanya pada scopus yang menjadi dagangan sains asing, tapi membangun industri bisnis sains sendiri. Saya yakin Indonesia mampu melakukan ini walaupun industri 4.0 masih import. Berbagai peluang yang ada saat menjadi momentum kebangkitan PT kita menunjukkan indentitas PT berkelas dunia.

 

BERITA TERKAIT