Hidup Sehat tanpa Hipertensi


Penulis: Dhika Kusuma Winata - 18 May 2019, 05:20 WIB
Thinkstock
 Thinkstock
Ilustrasi

HIPERTENSI atau tekanan darah tinggi saat ini menjadi penyakit tidak menular yang perlu kian diwaspadai. Jika tidak dikendalikan, hipertensi menyebabkan penyakit jantung, gagal ginjal, diabetes, dan stroke.

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Anung Sugihantono mengungkapkan­, di Indonesia penyakit jantung yang disebabkan hipertensi­ menjadi penyebab kematian tertinggi, yakni 36,9%. Dari 1,7 juta kematian pada 2017, faktor risiko hipertensi menjadi yang tertinggi, yakni 23,7%.

Tingkat kematian akibat faktor risiko lain ialah gula darah tinggi akibat­ diabetes 18,4%, merokok 12,7%, obesitas 7,7%, kurang konsumsi buah 5,6%, dan kurang konsumsi sayur 4,7%.

“Hipertensi dapat dicegah dengan mengubah gaya hidup, mengendalikan perilaku berisiko, antara lain merokok, diet yang tidak sehat, seperti kurang konsumsi sayur dan buah, konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih, obesitas, kurang aktivitas fisik, konsumsi alkohol berlebihan, dan stres,” kata Anung dalam diskusi Hari Hipertensi Sedunia di kantor Kemenkes, Jakarta, Jumat (17/5).

Berdasarkan data Kemenkes 2016 juga menyebutkan, terdapat 63,3 juta kasus ­hipertensi dan menyebabkan kematian 427 ribu orang. Menurutnya, hipertensi terjadi sebagai dampak gaya hidup yang buruk.

“Hipertensi akibat gaya hidup buruk itu dituai tiga atau empat tahun ke depan. Kesadaran masyarakat untuk mengubah gaya hidup amat diperlukan,” katanya.

Sementara itu, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes Cut Putri Ariane menuturkan, penyakit hipertensi menjadi salah satu pembunuh senyap karena sering kali tidak menimbulkan gejala bagi penderitanya. Jika tidak segera ditangani, hipertensi bahkan bisa menimbulkan stroke serta gangguan jantung secara tiba-tiba atau fatal. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya pencegahan faktor risiko.

“Kasus hipertensi bisa saja terus bertambah ­mengingat transisi demografi dan tekno­logi memberikan kemudahan bagi manusia, tetapi akibatnya gaya hidup kian buruk ­karena aktivitas fisik menurun,” ujarnya.

Pemeriksaan berkala
Ia mengimbau kepada masyarakat agar memeriksa kesehatan secara berkala untuk mengetahui kondisi tekanan darah. Selain itu, imbangi dengan melakukan pola hidup sehat agar terhindar dari hipertensi.

Di tempat yang sama Ketua Perhimpunan Hipertensi Indonesia Tunggul Situmorang menyoroti salah satu tren yang berkembang di masyarakat saat ini, yakni kegandrungan mengonsumsi makanan olahan dan cepat saji secara berlebihan.

Padahal, kadar garam pada jenis makanan tersebut tergolong tinggi dan jika dikonsumsi berlebihan dalam jangka panjang memicu hipertensi. “Fast food mengandung garam yang tinggi. Kalau bisa, dihindari itu,” ujarnya.

Di sisi lain, data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan menyebutkan, biaya pelayanan hipertensi pada 2016 sebesar Rp2,8 triliun dan pada 2018 menjadi Rp3 triliun. (H-1)

BERITA TERKAIT