Kisah para Penyimpan Luka Masa Lalu


Penulis: Tosiani - 18 May 2019, 01:00 WIB
Dok MI
 Dok MI
Judul buku: Pemetik Bintang

KENDATI ada ringkasan cerita di bagian sampul belakang, kita tidak akan tahu keseluruhan isi cerita dalam buku ini jika tidak membacanya sampai tuntas. Itu karena ringkasan cerita memang dibuat tidak lengkap dan tidak menggambarkan keutuhan cerita.

Satu-satunya yang menarik saat pertama kali melihat buku ini ialah desain sampul dengan berbagai bentuk abstrak, tidak mudah dipahami secara sederhana, tetapi unik. Jika diamati lebih dalam, desain gambar dalam sampul depan justru mampu menggambarkan isi cerita.

Seperti tangan yang hendak memetik bintang di sisi kanan atas, gambar jantung dalam tubuh seorang pria yang menyiratkan luka mengakar, dan seorang gadis kecil bermain ayunan sebagai bagian pelengkap dari jiwa kekasihnya. Selain itu, banyak pernik yang mendeskripsikan isi cerita. Pembaca tentu baru menyadari makna desain tersebut setelah menuntaskan isi cerita hingga halaman terakhir.

Bagian-bagian awal menampilkan serpihan-serpihan cerita yang mengundang tanya. Dari setting cerita, seorang pria yang lalu diketahui bernama Rifat, mencari sebuah bar di tempat terpencil berdasarkan petunjuk dari seorang teman, lengkap dengan pesanan minuman hasil rekomendasi teman tersebut.

Babak selanjutnya, seperti sedang memulai sebuah cerita misteri, tokoh pria itu memulai pencarian tentang sesuatu yang tidak jelas, dan bahkan si tokoh tersebut tidak terlalu mengerti apa yang dicarinya. Dalam perjalannya dengan armada taksi, ia menuju pencariannya. Awal cerita ini sudah menyiratkan pengaruh cerita-cerita Trio Detektif dari Alfred Hitchcock dan novel-novel karya Enid Blyton yang mungkin dibaca penulis sejak ia masih kecil. Penga­ruh cerita detektif-detektifan itu terbawa hingga penuturan cerita ke bagian akhir.

Bagian selanjutnya, penulis mulai menuturkan dongeng tentang pemetik bintang yang diperdengarkan Bapak pada Rifat kecil. Dongeng itu diteruskan pada Imel, gadis cantik di sekolahnya. Berlanjut pada ciuman pertama Rifat dengan Imel yang berujung pada luka di hati Imel lantaran merasa ditolak Rifat saat ia menginginkan seks seusai berciuman. Luka itu tidak disadari Rifat, tetapi dipendam Imel sampai ia dewasa. Hingga Imel belajar menerima penolakan itu untuk menyembuhkan lukanya.

Hal itu baru diketahui Rifat di bagian tengah buku, dari ung­kapan perpisahan Imel seusai keduanya melakukan hubungan seksual. Meski ciuman dan pengalaman seks pertama buat Rifat ialah Imel, tetapi sekali lagi, Rifat menyadari bahwa Imel bukanlah cinta pertamanya.

Masa remaja Rifat di SMA diwarnai kisah cinta penuh tanya dan hubungan yang tidak jelas dengan seorang gadis bernama Nina. Nina menjadi cinta pertama Rifat, sekaligus menyisakan tanya dan luka karena Nina meninggalkan Rifat tanpa penjelasan dan alasan. Hari-hari Rifat selanjutnya dipenuhi kenangan dan luka yang mendalam tentang Nina yang pergi, tentang Ibu yang pernah melakukan pelecehan seksual padanya saat umurnya baru 10 tahun, lalu meninggalkannya setelah Bapak mengetahui perbuatan Ibu pada Rifat dan memutuskan berpisah dengan ibu.

Luka-luka pada masa lalu itu te­rus membekas di hati Rifat. Hingga fase menginjak dewasanya dilalui dengan bersikap agak brengsek dengan berganti-ganti pasangan dan melakukan seks bebas dengan beberapa perempuan. Rifat juga menjalani kehidupan ‘kumpul kebo’ dengan seorang model bernama Lastri.

Loncatan
Di sela-sela bagian buku, penulis tiba-tiba menampilkan kejutan dengan cerita mengenai hilangnya Karen Albright yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan cerita Rifat dan Nina. Loncatan di bagian awal cerita tentang Karen cukup mengejutkan pembaca karena memang seperti tidak ada kaitannya dengan inti cerita.

Loncatan kedua dari cerita Rifat ke Karen dilakukan lagi pada bagian lain. Di situ barulah pembaca memahami bahwa cerita tentang Karen dan upaya pelariannya dari para penculik ada dalam cerita novel yang tengah dibaca Rifat. Penulis seperti menghadirkan unsur cerita dalam cerita, novel dalam novel, dan buku dalam buku. Terkesan seperti mengacak-acak cerita memang, tapi justru hal itu membuat cerita menjadi penuh warna dan menawarkan banyak kejutan.

Tidak terlalu jauh menyimpang juga karena ternyata pengalaman hilangnya Ella, kembaran dan bagian dari jiwa Nina, seolah digambarkan seperti Karen Albright dalam novel yang hi­lang dan enggan kembali karena mengganti identitasnya dan memulai kehidupan baru. Penulis tidak secara spesifik menyamakan hilangnya Ella yang membuat luka dan trauma pada Nina itu sama dengan hilangnya Karen. Tokoh Ella dibiarkan mengambang tanpa kejelasan nasibnya.

Menjelang bagian akhir buku, barulah diketahui semua tokoh dalam cerita Pemetik Bintang memiliki luka dan trauma pada masa lalu. Hidup tiap tokoh memang tidak lengkap sejak awal karena ada perasaan kehilangan, seperti Nina yang kehilangan Ella dan Rifat yang kehilangan Nina.

Perasaan-perasaan kehilangan itu membuat mereka kesulitan meng­awali sebuah komitmen untuk hidup bersama. Hingga bagian akhir novel ini menyiratkan berbagai argumen yang secara tidak langsung menunjukkan penolakan pada pernikahan dan pandangan secara umum di masyarakat tentang kehidupan bahagia dan perni­kah­an. Pendeknya melegitimasi bahwa memilih sendiri tidak masalah dan tidak menikah pun tidak apa-apa.

Sayangnya, meski menceritakan tentang perasaan kehilangan, luka, dan trauma dari masa lalu, penulis gagal menghadirkan emosi pada tulisan. Penyebabnya lantaran penulis tidak terlalu jujur dalam menghadirkan cerita. Karenanya, emosi pembaca tidak tumbuh meski mengetahui bahwa itu luka, itu kehilangan, dan itu trauma.

Hanya sebatas ‘tahu’ dengan akal, tetapi tidak turut merasakan. Seperti saat penulis memunculkan trauma masa kecil yang dialami Rifat dari perlakuan ibunya yang beberapa kali meraba bagian vital tubuhnya di balik piama tidurnya. Penulis membahasakannya dengan sangat santun dan terkesan sangat hati-hati seolah menyamarkan kesan bahwa itu pelecehan seksual yang dilakukan ibunya sendiri.

Kesantunan penulis dalam menggambarkan situasi itu secara sepintas-sepintas saja membuatnya gagal mengaduk emosi pembaca. Demikian pun saat menceritakan perasaan frustrasi dan kehilangan Rifat karena kepergian Nina, tidak dapat mendorong, memunculkan emosi pada hati pembaca. Hal itu mungkin karena kurangnya empati atau bahkan kurang ada kejujuran dalam bertutur melalui tulisan.

Penulis cenderung menye­ret pembaca pada ungkap­an-ungkapan, pemikiran-pemikirannya mengenai antitesa dari pengetahuan umum. Seperti memperta­nyakan kebenaran dan kesalahan, surga dan neraka, pilihan menikah atau tidak menikah, dan kemampuan logika dan pemikiran mengatasi trauma. Penuturan itu diulang beberapa kali sehingga beberapa bagian jadi amat membosankan.

Sebenarnya cara bertutur penulis sudah sangat detail dan rinci dalam menggambarkan suasana, dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti pembaca. Hal itu memudahkan pembaca seolah bisa membayangkan suasana dalam bar misalnya, atau mobil taksi yang membawa Rifat menuju ke tempat Felix. Juga suasana gudang beras tempat Rifat dan Nina biasa bersama saat sekolah.

Namun, karena penulis gagal menjembatani pemikiran dan emo­sinya, mengolaborasikan nalar dan hatinya, emosi pembaca tidak tumpah bersama cerita. Sama seperti membaca kisah luka dan perasaan kehilangan dengan pendekatan interogatif, detektif, atau kisah misteri. Namun, satu keunggulan buku ini ialah sanggup mengundang rasa penasaran pada nalar pembaca untuk membaca kisah sampai akhir.

Editing
Hal lain yang amat disayangkan ialah proses editing teknis tulisan yang serampangan. Mungkin ketika sudah masuk editing, tulisan tidak dibaca lagi dengan teliti sehingga banyak tulisan yang tipo, kesalahan huruf dan ejaan. Contoh paling nyata ada pada halaman 219 dan 229.

Umpamanya pada halaman 219 paragraf kedua, kata kamu ditulis kmu, harusnya ditulis harsnya, meninggalkan jadi menninngalkan, kenapa jadi keanpa, pulang ditulis pualng, dan ayunan ditulis aynan. Kesalahan teknis pada hala­man 229 lebih parah lagi. Pada tiga kalimat terakhir, paragraf akhir masih banyak singkatan-singkatan tidak sesuai standar baku penulisan, seperti kata jadi disingkat jd dan datang menjadi dtng. Kesalahan itu sangat jelas dan bisa dibaca langsung, menunjukkan proses editing tidak teliti. (M-4)

 

BERITA TERKAIT