16 May 2019, 11:10 WIB

Kasus Garuda masih Terkendala Bahasa


Putra Ananda | Politik dan Hukum

MI/ROMMY PUJIANTO
 MI/ROMMY PUJIANTO
Wakil Ketua KPK Laode M Syarif

KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) mengakui agak kesulitan dalam proses pemberkasan kasus dugaan suap pengadaan pesawat Airbus dan mesin pesawat Rolls-Royce di PT Garuda Indonesia (Persero). Namun demikian, ungkap Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Laode M Syarif, pihaknya memastikan kasus ini segera dirampungkan.

"Pengusutan kasus ini lambat karena bukti-bukti yang didapat penyidik dalam bentuk bahasa asing. Bukti yang kami dapat itu berkasnya tebal, habis itu semua buktinya dalam bahasa Inggris, kalau bahasa Indonesia sebenarnya sudah lama jadi," katanya di Jakarta, kemarin.

KPK, ungkap Syarif, khusus menggandeng penegak hukum asing seperti Chief Financial Officer (CFO) dan Corrupt Practices Investigation Bureau (CPIB) untuk menerjemahkan bukti-bukti tersebut. "Kan ini investigasi bersama CFO dan CPIP Singapura. Jadi, harus diterjemahkan bukti-buktinya," kata Syarif.

Syarif mengakui dua tersangka dalam kasus ini, yaitu Dirut PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar dan pendiri PT Mugi Rekso Abadi (MRA) sekaligus beneficial owner Connaught International Pte Ltd Soetikno Soedarjo belum ditahan karena masih mempertimbangkan waktu penyelesaian pemberkasan.

"Ya belum ditahan, kenapa enggak ditahan? Kan ada batas waktu penahanan, kan enggak boleh lebih dari waktu tertentu, bagaimana kalau berkasnya belum selesai?" kata Syarif.

Namun demikian, tegasnya, KPK berjanji berkas kedua tersangka dilimpahkan ke penuntutan sebelum masa jabatan pimpinan jilid IV selesai.

Sebagaimana diketahui, Emirsyah diduga menerima suap dalam bentuk transfer uang dan aset yang nilainya mencapai lebih dari US$4 juta atau setara dengan Rp52 miliar dari perusahaan asal Inggris, yakni Rolls-Royce, di antaranya melalui pendiri PT MRA Group Soetikno Soedarjo dalam kapasitasnya sebagai Beneficial Owner Connaught International Pte Ltd.

Kasus suap diduga terjadi selama Emirsyah menjabat Dirut PT Garuda Indonesia pada 2005 hingga 2014. KPK menduga Emirsyah juga menerima suap terkait pembelian pesawat dari Airbus. Dalam proses penyidik-an kasus ini,

KPK telah menyita sebuah rumah di daerah Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Rumah yang disita tersebut senilai Rp8,5 miliar. Uang untuk membeli rumah tersebut diduga berasal dari Soetikno Soedarjo. (Uta/Ant/P-4)

BERITA TERKAIT