16 May 2019, 07:30 WIB

Ada Ruang Penurunan Suku Bunga Akhir Tahun


Atikah Puspa | Ekonomi

Medcom/Ilham Wibowo
 Medcom/Ilham Wibowo
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro

TIM Ekonomi Bank Mandiri menyatakan ada potensi ruang penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI 7-day repo rate pada akhir tahun.

"Kami melihat terdapat ruang bagi BI untuk memangkas BI 7-DRR pada akhir tahun ini sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%," kata Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro dalam pemaparan di Jakarta, kemarin.

Andry menjelaskan terdapat tiga faktor yang dapat menentukan arah pergerakan suku bunga acuan bank sentral hingga akhir tahun, yaitu tingkat inflasi, pergerakan suku bunga acuan bank sentral AS (The Fed), dan posisi neraca pembayaran.

Ia mengatakan saat ini laju inflasi nasional masih stabil dan terjaga pada kisaran 2,83% tahun ke tahun (yoy) hingga April 2019. Adapun hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada Maret 2019 juga mengindikasikan The Fed tidak akan menaikkan suku bunga acuan pada tahun ini.

Kebijakan bank sentral AS yang lebih dovish tersebut memberikan dampak positif kepada pasar keuangan global dan mendorong masuknya arus modal asing ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

Defisit neraca transaksi berjalan (CAD) yang menyusut pada triwulan I 2019, atau kisaran 2,6% terhadap PDB, juga bisa memberi dukungan kepada ruang pemotongan suku bunga acuan BI.

"Seiring dengan terus membaiknya neraca perdagangan barang, kami memperkirakan CAD akan berkurang menjadi pada kisaran 2,6% terhadap PDB pada keseluruhan 2019," tandas Andry.

Kebijakan penurunan suku bunga banyak dinantikan pelaku pasar sebab saat ini likuiditas yang ketat membuat suku bunga bergerak naik.

Seorang bankir mengatakan bank-bank BUKU IV telah banyak memberikan bunga deposito 7%. Bank BUKU III ditenggarai telah memberikan bunga di atas penjaminan LPS yang besarnya 7%.

Oleh karena itu, penurunan suku bunga yang diimbangi melonggarnya likuiditas dapat membantu perbankan untuk ekspansi tahun ini.

Kepala Ekonom Bank BNI Ryan Kiryanto mengatakan bank sentral di sejumlah negara telah menurunkan suku bunga acuan mereka.

Namun, untuk Indonesia hal ini masih sulit dilakukan karena pemerintah dan BI memiliki pandangan yang sama bahwa stability over the growth atau memprioritaskan stabilitas sambil menjaga momen pertumbuhan.

"Sehingga pilihan yang paling rasional saat ini ialah BI akan menahan suku bunga di level 6% pada rapat dewan gubernur besok (hari ini)," kata Ryan.

Agar defisit CAD terus berkurang, Ryan mengatakan pemerintah harus meningkatkan ekspor dan menggarap pasar-pasar baru.

Sentimen Uni Eropa

Di sisi lain, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) melaporkan bahwa ekspor sawit Indonesia hanya tumbuh 3 atau jauh di bawah potensinya akibat sentimen dari sikap Uni Eropa terhadap minyak sawit.

"Sentimen Uni Eropa telah menggerus kinerja ekspor Indonesia. Lesunya perekonomian di negara tujuan utama ekspor khususnya India berdampak sangat signifikan pada minyak sawit," ujar Ketua Umum Gapki Joko Supriyono.

Karena itu, penggarapan pasar alternatif di luar India, Amerika Serikat, dan Tiongkok mutlak dilakukan. (Ata/Pra/E-1)

BERITA TERKAIT