Pendidikan Berbasis STEM Mencetak Generasi Berdaya Saing Global


Penulis: PPPPTK IPA Kurniasih - 28 April 2019, 08:00 WIB
MI/Liliek Dharmawan
 MI/Liliek Dharmawan
Pegiat Perpustakaan Desa Cahaya Ilmu, Banyumas, Jawa Tengah (Jateng) berkeliling membawa buku. 

STEM merupakan pendekatan pembelajaran interdisiplin yang mengintegrasikan aspek science, technology, engineering, dan mathematics.

Pendekatan ini diyakini mampu mempersiapkan siswa menjadi sosok warga negara yang memiliki daya saing global. Hal tersebut dikarenakan pendekatan ini sarat dengan proses belajar yang tidak saja melatihkan keterampilan abad 21 tetapi juga mendorong siswa untuk menjadi seorang problem solver. Oleh karena itu, Kemendikbud secara aktif memfasilitasi peningkatan kompetensi guru agar dapat melaksanakan pembelajaran berbasis STEM yang terintegrasi dalam implementasi Kurikulum 2013. Di bidang sains, program tersebut dilaksanakan pada 2018 oleh PPPPTK IPA sebagai salah satu unit pelaksana teknis di lingkungan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK).

Pada pendekatan STEM, kegiatan pembelajaran dirancang untuk melatihkan integrasi pola pikir dan keterampilan seorang saintis dengan seorang engineer (perekayasa).

Siswa didorong untuk menghubungkan pengetahuan akademik dan keterampilan yang dimilikinya dalam empat aspek (sains, teknologi, engineering, dan matematika) dan menggunakannya untuk merekayasa solusi atas suatu permasalahan.

Integrasi keempat aspek tersebut dalam satu pengalaman belajar membuat pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa menjadi bermakna, tidak berhenti pada pengetahuan teoritis semata. Siswa memahami bahwa konsep yang dipelajarinya dapat digunakan untuk memecahkan permasalahan dalam konteks dunia nyata.

Pendekatan STEM membangun kemampuan soft skills dan karakter siswa menjadi sosok yang inovatif,solutif, dan kolaboratif. Siswa dilatih untuk mengembangkan daya nalar, pemikiran kritis, serta logika berpikir yang sistematis dalam memecahkan masalah. Kemampuan ini diharapkankan terus melekat pada diri siswa sehingga tumbuh menjadi warga negara dan warga dunia yang reflektif dan mampu berkontribusi dalam memberikan solusi atas permasalahan di berbagai bidang.

Dalam STEM, selain berfokus pada penguasaan konsep ilmu eksaktanya, siswa juga dilatih untuk mengembangkan kompetensi sosial melalui kegiatan kolaborasi dalam kelompok. Siswa dilatih untuk mengenali dan memahami konsep dalam suatu permasalahan kontekstual. Kemudian, menghubungkannya dengan teknologi dan merangkainya menjadi suatu desa insolusi yang dirancang berdasarkan data yang diolah secara matematis dan komputasi.

Penerapan keempat aspek STEM dalam pembelajaran tentu saja dilakukan secara integratif. Setiap aspek memiliki peranan penting, di antaranya sebagai berikut; (1) aspek sains dalam pendekatan STEM didefinisikan oleh Hannover (2011) adalah "keterampilan menggunakan pengetahuan dan proses sains dalam memahami gejala alam dan memanipulasi gejala tersebut sehingga dapat dilaksanakan"; (2) aspek teknologi adalah keterampilan peserta didik dalam mengetahui bagaimana teknologi baru dapat dikembangkan, keterampilan menggunakanteknologi, dan bagaimana teknologi dapat digunakan dalam memudahkan kerja manusia; (3) aspek engineering atau rekayasa adalah keterampilan yang dimiliki seseorang untuk mengoperasikan atau merangkai sesuatu; dan (4) aspek matematika adalah keterampilan yang digunakan untuk menganalisis, memberikan alasan, mengomunikasikan ide secara efektif, menyelesaikan masalah, dan menginterpretasikan solusi berdasarkan perhitungan dan data dengan matematis.

Baca juga: Usaha Keras Ditjen GTK Demi Pendidikan Berkualitas

Jadi, secara umum dapat disimpulkan bahwa implementasi pendekatan STEM dalam pembelajaran memberikan manfaat bagi siswa di antaranya (1) mengasah keterampilan berpikir kritis, logis, solutif, dan inovatif, (2) mengasah keterampilan berkolaborasi dalam memecahkan masalah; (3) mempersiapkan tenaga kerja di bidang iptek, (4) memupuk keterampilan untuk merekayasa alam sehingga memberikan lebih banyak manfaat untuk kehidupan manusia, (5) membangun kemampuan untuk memanfaatkan dan menciptakan teknologi yang memudahkan pekerjaan manusia, serta (5) melatih kemampuan untuk mengomunikasikan solusi yang diperoleh secara efektif.

BERITA TERKAIT