Evakuasi Mandiri Perlu Jadi Perhatian Masyarakat Saat Bencana


Penulis: Bayu Anggoro - 25 April 2019, 21:58 WIB
MI/Bayu Anggoro
 MI/Bayu Anggoro
Diklat Teknis kebencanaan bagi wartawan yang digelar BNPB di Bandung, jawa Barat, Kamis (25/4)

MASYARAKAT harus memahami pentingnya evakuasi mandiri saat menghadapi bencana seperti gempa bumi. Hal ini sangat penting agar bisa meminimalisasi dampak yang diakibatkan jika fenomena alam itu terjadi.

Demikian diungkapkan pengarah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang juga pendiri Jakarta Rescue, Hadianto Wardjaman, saat mengisi materi dalam Pendidikan dan Pelatihan Teknis Penanggulangan Kebencanaan bagi Wartawan yang diselenggarakan BNPB, di Bandung, Kamis (25/4).

Acara ini dihadiri sejumlah wartawan media nasional maupun regional di Jawa Barat.

Hadianto mengatakan, cara evakuasi mandiri harus dipahami setiap warga baik saat berada di dalam maupun luar rumah.

Selain memahami tindakan yang harus diambil ketika terjadi bencana, upaya mitigasi inipun harus dilengkapi oleh fasilitas pendukung yang berada di sekitar kita.

Baca juga : BNPB: 2019, Ribuan Bencana Alam Mengintai

Sebagai contoh, kata dia, perkakas rumah tangga di rumah harus mendukung langkah evakuasi mandiri untuk meminimalisasi cedera saat terjadi gempa  bumi. Salah satunya dengan menggunakan bahan-bahan yang kuat agar mampu menahan material yang jatuh sehingga tidak melukai tubuh.

"Saat berada di dalam rumah, evakuasi mandiri sangat dipengaruhi oleh material yang ada di dalam rumah," katanya. Menurut dia, salah satu perkakas rumah tangga yang juga bisa menjadi pelindung di saat gempa adalah meja.

Dia menganjurkan agar di setiap ruangan rumah terdapat meja sehingga bisa dijadikan perlindungan ketika gempa terjadi.

"Mejanya harus yang kokoh. Makanya saya menyarankan kembali ke zaman dulu, mejanya dari kayu  jati," katanya seraya menyebut kursi pun menjadi tempat berlindung yang tepat saat bencana tersebut.

Selain itu, dia menganjurkan agar setiap lemari diberi perekat dengan dinding agar tidak jatuh menimpa ketika gempa terjadi. "Bisa dibor dengan tembok, agar saat ada guncangan tidak goyang," katanya.

Dia juga menganjurkan tangga di rumah dibangun dengan struktur yang kokoh. Sebab, alat untuk menaiki lantai atas ini sangat tepat untuk dijadikan tempat berlindung.

"Jangan lupa, kita juga harus selalu memetakan keluarga kita di rumah yang rawan saat terjadi gempa. Seperti lansia, anak kecil atau bayi," katanya.

Tak hanya menyediakan alat untuk berlindung, pendiri Jakarta Rescue selaku pakar kebencanaan ini menyarankan agar warga membiasakan diri untuk membawa perbekalan makanan pengenyang. Asupan pangan ini sangat bermanfaat ketika terjebak di dalam puing-puing reruntuhan.

"Sambil menunggu dievakuasi, yang bisa saja berhari-hari, kalau kita siapkan makanan di dalam tas kita, kita bisa bertahan lebih lama," katanya. Terakhir, dia mengingatkan agar warga pun membiasakan membawa alat penanda keberadaan kita seperti peluit.

"Peluit ini berguna untuk menandakan kita berada dalam reruntuhan," katanya. Bunyi ini akan memberi arahan kepada petugas evakuasi dalam menyelamatkan korban dari reruntuhan. "Misalnya kalau peluit dibunyikan tiga kali dalam jeda yang singkat, itu artinya korban terjebak dalam reruntuhan yang rentan ambruk," katanya. (OL-8)

BERITA TERKAIT