Falun Gong, Gerakan Bawah Tanah di Negeri Tirai Bambu


Penulis: (AFP/Tesa Oktiana Surbakti/I-1) - 24 April 2019, 05:00 WIB
 AFP PHOTO / JEWEL SAMAD
  AFP PHOTO / JEWEL SAMAD
 anggota gerakan spiritual Falun Gong bermeditasi di Taman Lafayette di depan Gedung Putih di Washington, DC

DENGAN duduk bergaya lotus di lantai apartemen, dua perempuan memutar tangan mereka secara perlahan. Sebuah pemandangan langka di Tiongkok, mengingat tradisi meditasi Falun Gong telah diharamkan publik.

Tradisi tersebut merupakan bayang-bayang kejayaan gerakan spiritual di 'Negeri Tirai Bambu'. Sebelum dilarang pada 1999, kelompok tersebut pernah membanggakan lebih dari 70 juta pengikut. Larangan berimbas pada kewenangan pihak kepolisian untuk menindak pengikut yang masih setia.

Setelah 20 tahun berlalu, kelompok tersebut masih gigih memperjuangkan tradisi. Bahkan, ketika para praktisi di Tiongkok daratan telah ditangkap dan disiksa. Sebelum penumpasan terjadi, sejumlah anggota Falun Gong berskala besar akan berkumpul di lapangan. Mereka biasanya melakukan latihan meditasi qigong. Saat ini para pengikut meneruskan tradisi meditasi dengan gerakan lambat secara diam-siam.

"Bukan menjadi persoalan jika Partai Komunis terus menekan Falun Gong, saya tidak terlalu memikirkannya. Saya hanya ingin melakukan apa yang ingin dilakukan," ujar salah satu pengikut yang enggan disebutkan identitasnya.

Falun Gong yang menekankan ajaran moral, pernah didukung pemerintah Tiongkok untuk meringankan beban sistem kesehatan. Tepatnya begitu diresmikan pada 1992 oleh Li Hongzhi, yang bermigrasi ke AS empat tahun kemudian. Namun, setelah puluhan ribu anggota Falun Gong mengepung markas Partai Komunis di Beijing pada 25 April 1999, pemerintah terpaksa mengambil tindakan keras. Gerakan pengikut Falun Gong bertujuan memprotes penahanan beberapa anggota.

Presiden Tiongkok saat itu, Jiang Zemin, mengeluarkan perintah untuk melenyapkan kelompok itu. Pengikut Falun Gong dinyatakan sebagai pemuja aliran sesat. "Sejumlah pejabat pemerintah memandang Falun Gong sebagai ancaman ideologis dan politik," ujar Maria Cheung, profesor dari Universitas Manitoba.

Langkah otoritas Tiongkok menuai protes terbesar sejak aksi prodemokrasi di Lapangan Tiananmen pada 1989. Menyusul gerakan protes, pemerintah Tiongkok memerintahkan biro keamanan khusus untuk mengintimidasi dan mengawasi pengikut Falun Gong. Para praktisi dan pejuang hak asasi manusia melaporkan banyak kasus kematian, penyiksaan, dan penganiayaan di kamp kerja paksa.

Seorang pengikut Falun Gong yang bergabung sejak 2010, mengungkapkan kekecewaan terhadap keluarga dan kehidupan sosial, telah mengubah sudut pandangnya terhadap gerakan spiritual. "Saya berpikir sedikit keyakinan (pada agama) akan membuat saya lebih baik," katanya.

Di tengah perjuangan Falun Gong yang bertahan secara diam-diam, gerakan itu semakin mengakar di antara diaspora Tiongkok. Banyak pengikut Falun Gong yang melarikan diri ke luar negeri untuk mencari suaka. Pusat Informasi Falun Dafa mengungkapkan pengikut Falun Gong tersebar di lebih dari 70 negara. (AFP/Tesa Oktiana Surbakti/I-1)

BERITA TERKAIT