TKN: Prabowo-Sandi Terus Umbar Hoaks dan Fitnah


Penulis: Mediaindonesia.com - 21 April 2019, 21:30 WIB
Medcom
 Medcom
Politikus Hanura Inas Nasrullah Zubir

ANGGOTA Tim kemenangan nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Inas N Zubir, mengomentari sikap pasangan Calon (paslon) Presiden dan Wakil Presiden no 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno atas hasil hitung cepat atau quick count sejumlah lembaga survei dalam Pilpres 2019.

Sebagaimana diketahui, hampir 90% lembaga survei menyatakan bahwa elektabilitas Jokowi-Amin berada di atas 50% sejak tahun lalu. Menurut Inas, hal ini menimbulkan kepanikan tersendiri untuk kubu Prabowo-Sandi.

"Alih-alih melakukan perbaikan untuk mengejar ketertinggalan elektabilitas, malahan kubu Prabowo-Sandi berperilaku tidak elegan dengan mengumbar hoaks dan fitnah, hujatan dan pelecehan kepada Jokowi-Amin, bahkan termasuk Prabowo dan Sandi juga bersikap kekanak-kanakan dengan dengan prilaku yang tidak sepantasnya muncul dari seorang negarawan," kata Inas, Minggu (21/4).

Baca juga: Moeldoko: Rekonsiliasi Menunggu Momentum yang Tepat

Pihaknya juga menyayangkan perilaku kubu Prabowo-Sandi yang membangun narasi bahwa jika Jokowi-Amin menang Pilpres berarti melakukan kecurangan. 

"Justru sebenarnya narasi ini sendiri adalah bentuk kecurangan juga dimana mereka berupaya menggiring opini sesat yakni apabila hasil perhitungan suara di TPS hingga KPU Jokowi dimenangkan maka harus dianggap curang," imbuhnya.

Perilaku kubu 02, tambah Inas, tak berubah dan masih berlanjut usai pemungutan suara dilakukan pada 17 April 2019 lalu. Kepanikan Prabowo-Sandi, katanya, berubah menjadi keputusasaan karena mendapatkan kenyataan bahwa hasil quick count lembaga-lembaga survei independen tidak ada satu pun yang menguntungkan Prabowo-Sandi.

Perolehan suara Jokowi-Amin versi quick count rata-rata berada di atas 50%. Sebaliknya, perolehan suara Prabowo-Sandi justru berada di bawah Jokowi-Amin dan selisihnya berkisar 8-10%. Inas menilai, perolehan suara ini akan sulit dikejar oleh Prabowo-Sandi.

"Situasi yang sangat tidak menguntungkan ini, membuat kubu Prabowo-Sandi jungkir balik dengan membuat narasi baru bahwa kecurangan yang menguntungkan kubu paslon 01 terjadi dimulai dari penyelenggaraan pemungutan suara dari yang paling bawah, apakah memang demikian?" ucap Ketua Fraksi Hanura DPR RI ini.

Ia mengatakan, berdasar pasal 59 UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu, tujuh orang anggota KPPS dipilih dari masyarakat di sekitar TPS yang memenuhi syarat tertentu. Demikian pula dengan anggota KPUD dan KPU RI. Khusus untuk anggota KPU RI, lima orang anggotanya dipilih langsung oleh Komisi II DPR, yang juga diisi oleh partai-partai pendukung Prabowo-Sandi.

"Artinya bahwa KPPS, KPUD dan KPU-RI bisa berisi orang-orangnya paslon 01 dan bisa juga berisi orang-orangnya paslon 02, dan keduanya punya peluang untuk berbuat curang, apalagi ditingkat paling bawah, yakni KPPS," tegas Inas.

Baca juga: 01 juga Unggul di Hitung Cepat Konsepindo Research & Consulting

Lebih lanjut, kata dia, keputusasaan kubu Prabowo-Sandi semakin menjadi-jadi dengan wacana Amien Rais dan maraknya tulisan tentang people power untuk menggerakan masa ketika Prabowo-Sandi dinyatakan kalah oleh KPU. 

"Pengerahan masa atau people power ini, menjadi bukti bahwa kubu Prabowo-Sandi juga berupaya untuk menjelma menjadi perampok jika dinyatakan kalah oleh KPU dengan mengorbankan pendukungnya demi merebut kekuasaan secara inkonstitusional untuk mendudukan Prabowo-Sandi menjadi Presiden dan wakil Presiden ilegal dan inkonstusional," tutup Inas. (RO/OL-6)

BERITA TERKAIT