22 April 2019, 06:30 WIB

Pendidikan Berwawasan Lingkungan


Sidik Nugroho Pendidik | Opini

MI/Duta
 MI/Duta
Ilustrasi

DUA bulan lalu, saat beberapa kalangan sibuk meributkan tentang peringatan Valentine, tagar #Valentinebukanbudayakita pun ramai di­bincangkan di media sosial (medsos). Alih-alih membahas soal Valentine, saya tertarik dengan kata ‘budaya’ yang dilekat­kan di tagar tersebut.

Beberapa hari sebelum Valentine diperingati, saya sempat memfoto salah satu teras sebuah minimarket yang dipenuhi sampah. Di teras itu, ada meja dan kursi serta di sekitarnya ada sampah-sampah bekas makanan dan minuman berserakan. Entah siapa yang habis makan dan minum di situ. Saya sempat menengok tong sampah yang jaraknya sekitar tiga meter dari meja dan kursi di teras itu, belum penuh.

Saya merenung, begitu susahkah membuang sampah ke tong sampah yang jaraknya tak sampai sepuluh langkah? Foto sampah-sampah berserakan itu saya unggah ke media sosial, saya beri keterangan: ‘Va­lentine itu bukan budaya kita. Budaya kita itu buang sampah sembarangan. Lihatlah, betapa susah membuang sampah di tong sampah, padahal jaraknya sangat dekat’.

Tak dinyana, foto yang saya lengkapi dengan keterangan satir itu dibagikan cukup banyak orang, 20 lebih. Itu pun kiranya menjadi bahan perenungan bersama, sudahkah kita selama ini peduli dengan lingkungan juga bumi? Lalu, bagaimana kita mengajarkan cara-cara untuk mencintai dan merawat bumi?

Pencemaran yang parah
Pada 22 April 1970, sekitar 20 juta warga AS turun ke jalan mengampanyekan kesehatan dan keberlangsungan ling­kungan. Mereka berkumpul menentang kerusakan lingkung­an yang disebabkan buruknya saluran pembuangan dan makin punahnya kelesta­rian flora di negeri itu. Gaylord Nelson ialah politikus dan senator yang menjadi motor penggerak aksi itu; dia juga yang pertama menyuarakan isu-isu lingkung­an menjadi agenda senat AS. Untuk mengenang momen itu, 22 April pun dipe­ringati sebagai Hari Bumi.

Sejak 1970, kasus-kasus pencemaran lingkungan makin berkembang. Pemanasan global, ledakan jumlah penduduk, dan pengelolaan sampah menjadi isu-isu penting yang sering diberitakan. Pencemaran lingkungan pun kini tak hanya di air, darat, dan udara yang ditinggali manusia, tapi juga sudah meluas dan makin parah, membahayakan makhluk hidup lainnya.

Pada 2 April 2019, paus sperma sepanjang delapan meter yang sedang hamil ditemukan mati di Italia karena menelan 22 kilogram sampah plastik. Sebelumnya, di Filipina, pada 15 Maret 2019, ada paus yang menelan 40 kilogram sampah plastik di perutnya. Selain itu, di Wakatobi, pada 19 November 2018 juga ditemukan paus sepanjang sembilan meter mati karena menelan 5,9 kilogram sampah plastik.

Langkah edukatif
Kematian paus-paus itu pun mestinya menjadi bahan pikiran bersama, sampai sejauh mana manusia peduli dengan lingkungannya. Mungkin, dengan kematian makhluk hidup lain, manusia jadi sadar bahwa perbuatannya yang mencemari lingkungan selama ini memang membahayakan.

Di Tanah Air, kita menemukan berbagai persoalan lingkungan hidup yang masih menggantung penyelesaiannya. Sebagai contoh tentang pengelolaan sampah. Berdasarkan Statistik Lingkungan Hidup Indonesia 2018 yang dirilis Badan Pusat Statistik, disebutkan bahwa kualitas air sungai di Indonesia pada umumnya berada pada status tercemar berat. Lalu, dalam hal pengelolaan sampah, produksi sampah mencapai 65,2 juta ton per tahun. Dapat disimpulkan, upaya penanganan sampah yang mencemari su­ngai masih berjalan stagnan.

Karenanya, Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) perlu kembali mendapat prioritas dalam dunia pendidikan. Menurut Mustofa (2010), PLH merupakan program pendidikan untuk membina anak didik agar memiliki pengertian, kesadaran, sikap, perilaku yang rasional, serta bertanggung jawab terhadap alam dan terlaksananya pembangunan yang berkelanjutan.

PLH dapat dilaksanakan dalam berbagai mata pelajaran seperti bahasa Indonesia, IPA, IPS, dan pendidikan jasmani dan kesehatan (penjaskes). Pada mata pelajaran tersebut, wacana dan aksi seputar pencemaran dan pelestarian lingkungan dapat ditanam­kan kepada anak-anak didik di berbagai satuan pendidikan.

Di mata pelajaran bahasa Indonesia, misalnya, siswa dapat diminta menulis atau menceritakan tentang pencemaran apa saja yang pernah dijumpainya dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, bila Anda tinggal di Kalimantan, Anda tentu akan mendengar tentang banyaknya pertambangan emas tanpa izin. Lubang-lubang bekas tambang, yang sebagian berbentuk menjadi kolam, sampai sekarang perlu dipikirkan akan dialihfungsikan menjadi apa. Anak-anak yang berusia SMA mungkin dapat memberikan pemikiran tentang berbagai alternatif mengelola lahan-lahan bekas tambang.
 
Di mata pelajaran IPA dan IPS, anak-anak dapat disadarkan tentang keseimbangan lingkungan lewat interaksi hidup manusia dengan hewan dan lingkungan tempat tinggalnya. Ekosistem perlu dijaga agar keseimbangan di alam dapat terjaga.

Terakhir, di mata pelajaran penjaskes, anak-anak dapat diarahkan untuk ‘berolahraga’ dengan cara melestarikan lingkugan sekolahnya masing-masing. Menanam pohon, membuat taman, dan menghijaukan sekolah ialah aktivitas menyenangkan, dapat menjadi ‘olahraga’ bagi anak-anak.

Kearifan lokal dan kesadaran
Bagaimanapun juga, kesadaran merawat lingkungan memang harus tumbuh dari anak-anak didik kita dan hal itu dimulai terlebih dahulu dari kesadaran guru. Sangat disayangkan, penyadaran dari dalam selalu dianggap kurang bermutu. Bangsa kita lebih suka belajar apa saja dari bangsa asing. Teknologi kurang maju, belajar dari bangsa lain. Pendidikan kurang maju, belajar dari bangsa lain. Apakah membuang sampah pada tempatnya pun harus belajar dari bangsa lain?

Tak usah jauh-jauh ke bangsa lain. Bila kita mau menggali berbagai kearifan lokal yang tersebar di seantero Nusantara, kita dapat menemukan berbagai warisan nilai-nilai berharga untuk menjaga kelestarian alam dan keseimbangan hidup.
Di Kalimantan Barat, sebagai contoh, tempat saya tinggal, pada tiap musim kemarau hampir selalu ada kasus pembakaran hutan yang menimbulkan asap di mana-mana. Pembakaran hutan menjadi kasus serius yang membuat pemerintah daerah perlu memikirkan langkah-langkah strategis yang juga berangkat dari kearifan lokal.

Dalam tradisi pemeliharaan lingkungan, masyarakat Dayak di Kalimantan dulu memperhatikan keserasian, keselarasan, keseimbangan antara manusia dan manusia lain, binatang, pohon, dan tumbuhan. Dalam kaitannya dengan pemeliharaan lingkungan, ada beberapa upa­cara tradisional yang menjadi simbol bahwa masyarakat Dayak peduli dengan kelangsungan hidup manusia. Di antaranya upacara menebang pohon besar, upacara menentukan tempat perladangan baru, upacara membersihkan lingkungan dari berbagai penyakit (Batuallo, 2012).

Namun, nilai-nilai luhur itu kini tergerus modernisasi. Hutan dibabat, yang penting duit didapat. Karena itu, pendidikan yang berwawasan lingkungan menjadi penting manakala kita, terutama para guru, mau membuka hati terhadap kondisi lingkungan di mana kita tinggal dan memikirkan masa depan generasi berikutnya. Dengan demikian, lingkungan hidup pun mengajarkan kita untuk tak menjadi egoistis, tapi visioner.

 

BERITA TERKAIT