20 April 2019, 13:00 WIB

Investasi Manufaktur bakal Meningkat Usai Pemilu


Nur Aivanni | Ekonomi

Dok. MI
 Dok. MI
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto 

MENTERI Perindustrian Airlangga Hartarto optimistis akan terjadinya peningkatan investasi dan ekspansi di sektor industri manufaktur usai penyelenggaraan Pemilu 2019.

Dengan mengimplementasikan peta jalan Making Indonesia 4.0, menurutnya, bisa menumbuhkan industri secara optimal dan mendorong kontribusi lebih besar bagi perekonomian nasional.

"Setelah Pemilu 2019 akan banyak proyek prioritas yang akan segera berjalan, termasuk beberapa proyek prioritas seperti di industri petrokimia. Selain itu, finalisasi peraturan mengenai mobil listrik dan pemberian insentif bagi industri," kata Airlangga dalam siaran persnya, Sabtu (20/4).

Usai pemilu, sambungnya, tren pertumbuhan industri akan terjadi karena Indonesia adalah negara yang paling matang dalam penerapan sistem demokrasinya. Demokrasi yang matang, menurut dia, menjadi modal pemerintah dalam menarik investasi luar negeri.

"Optimisme pembangunan yang digaungkan pemerintah saat ini juga penting untuk menarik investasi. Semua sektor industri akan running setelah pilpres dan pileg," ujarnya.

Ia pun meyakini kondisi ekonomi, politik dan keamanan di Indonesia masih tetap stabil dan kondusif. Kondisi tersebut akan mendukung berjalannya aktivitas usaha atau perindustrian semakin agresif.

"Apalagi, beberapa kebijakan baru akan diluncurkan untuk memudahkan pelaku industri berusaha di Indonesia dan melanjutkan kembali yang sedang terlaksana dengan baik," tegasnya.

Baca juga: Darmin Optimistis Investasi Akan Banyak Masuk Usai Pemilu

Sebelumnya, dalam rapat terbatas Presiden Joko Widodo dengan sejumlah menteri kabinet kerja, disampaikan Arab Saudi akan berinvestasi di sektor industri petrokimia senilai US$6 miliar atau setara Rp84,31 triliun. Rencana investasi tersebut dibahas saat Presiden melakukan kunjungan ke Negara Minyak tersebut beberapa waktu lalu.

Arab Saudi ingin melakukan kerja sama untuk menjadikan Indonesia sebagai hub bagi industri petrokimia di Asia Tenggara. Untuk itu, Presiden menginstruksikan jajaran kementerian dan lembaga terkait agar segera melakukan kajian untuk merealisasikan investasi tersebut.

"Kementerian Perindustrian terus mendorong tumbuhnya industri petrokimia di Indonesia untuk memperdalam struktur manufaktur dari sektor hulu sampai hilir," ungkap Airlangga.

Industri petrokimia, terangnya, menghasilkan berbagai komoditas yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pada industri kemasan, tekstil, alat rumah tangga hingga komponen otomotif dan produk elektronika. Tak hanya itu, industri tersebut juga turut memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional.

Kemenperin mencatat pada tahun 2018 investasi di sektor industri kimia dan farmasi mencapai Rp39,31 triliun. Selain itu, kelompok industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia menorehkan nilai ekspor sebesar US$13,93 miliar.

Sementara itu, investasi di sektor industri manufaktur tercatat terus tumbuh signifikan. Tahun 2014, penanaman modal masuk sebesar Rp195,74 triliun, kemudian naik mencapai Rp222,3 triliun di 2018. Peningkatan investasi itu mendongkrak penyerapan tenaga kerja hingga 18,25 juta orang di 2018 yang berkontribusi sebesar 14,72% terhadap total tenaga kerja nasional.

Kemenperin pun menargetkan pertumbuhan industri manufaktur dapat mencapai 5,4% sepanjang 2019. Subsektor yang diperkirakan tumbuh tinggi, antara lain industri makanan dan minuman, industri permesinan, industri tekstil dan pakaian jadi, industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki serta industri barang logam, komputer dan barang elektronika.(OL-5)

BERITA TERKAIT