19 April 2019, 00:50 WIB

Prediksi Kelembapan BMKG Bantu Cegah Perkembangan DBD


Dhaifurrakhman Abas | Humaniora

Foto: Medcom.id/Abas
 Foto: Medcom.id/Abas
Kolaborasi antar instansi bisa mencegah berbagai masalah kesehatan di Indonesia. 

PENYAKIT Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi salah satu momok menakutkan di Indonesia. Pasalnya, penyebaran penyakit yang bisa menyebabkan kematian ini masih terus merebak. Meski begitu, pemerintah melalui instansi terkait mulai berbenah, bahu-membahu mencegah DBD lewat metode kolaborasi.
 
Jakarta: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melakukan penelitian terkait merebaknya kasus penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia. BMKG menemukan ada kaitan peningkatan penyakit DBD dengan kelembapan yang tinggi di suatu lokasi.
 
“Justru yang paling memengaruhi kasus DBD bukan curah hujan. Namun justru kelembapan udara,” kata Kepala Bidang Informasi Iklim Terapan Klimatologi BMKG, Marjuki, di Gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Selasa 18 April 2019.

Menurut Marzuki, hal ini bisa menjawab mengapa kasus DBD di Jakarta meningkat beberapa waktu lalu. Sebab, kata Marzuki, angka kelembapan udara di DKI Jakarta melampaui 75 persen.
 
Berdasarkan prediksi probabilitas kesesuaian kelembapan udara (relative humidity atau RH) 2019, angka kelembapan pada Maret lalu paling tinggi di alami daerah Jakarta Timur sebesar 81 persen, Jakarta Selatan, 80 persen dan Jakarta Barat sebesar 79 persen. Sementara Jakarta Pusat dan Jakarta Utara memiliki kelembapan sekitar 77 persen.
 
“Ternyata kelembapan polanya bisa dibaca dan diprediksi dengan pertumbuhan perkembangbiakan nyamuk,” ujarnya.
 
Sementara itu, Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan, dr. Achmad Yurianto, membenarkan terkaitnya kelembapan dengan peningkatan kasus DBD di suatu wilayah.
 
Menurut dia, nyamuk Aedes aegypti  yang menyebarkan penyakit DBD lebih mudah berkembang biak di wilayah yang memiliki tingkat kelembapan di atas 75 persen.
 
“Memang hal ini menjadi waktu musim kawin nyamuk karena kelembapannya tinggi,” kata Achmad.
 
Hasil penelitian yang dilakukan oleh BMKG disambut baik. Menurut Achmad, hasil pengkajian ini bisa dijadikan suatu pola yang bisa dimanfaatkan oleh Kemenkes dan stakeholder terkait guna mencegah merebaknya kasus DBD di Indonesia.
 
“Kalau kita sudah punya polanya sebelum suatu daerah menuju kelembapan tertentu, maka kita harus gencar sosialisasikan ke masyarakat. Sehinga bukan setelah kejadian baru kita berantas nyamuknya,” tandasnya. (medcom/OL-9)

BERITA TERKAIT