13 April 2019, 01:00 WIB

The Godfather Jakarta di Balik Penjara


Galih Agus Saputra | Humaniora

MI/SUMARYANTO BRONTO
 MI/SUMARYANTO BRONTO
Jon Refera atau yang akrab disapa John Kei.

ADA kisah yang cukup inspiratif di balik LP Kelas II A Permisan, Nusakambangan. Kisah itu bercerita sosok yang dulunya mungkin sangat ditakuti di Jakarta, bahkan bisa saja di beberapa daerah Indonesia. Dialah Jon Refera atau yang akrab disapa John Kei. Dia juga dikenal sebagai preman Ibu Kota yang telah membunuh seorang pengusaha.

Dulunya, John dikirim ke Nusakambangan karena dianggap sering berbuat onar dan melawan petugas saat di tahan di Rutan Salemba dan Cipinang, Jakarta. Pada kesempatan ini, Pembawa Acara Kick Andy on Location, Andy F Noya, mencoba menggali cerita narapidana kasus pembunuhan dengan vonis hukuman 20 tahun penjara itu langsung dari dalam LP Kelas II Permisan, Nusakambangan.

Seusai melalui pemeriksaan di bebera­pa pintu masuk yang amat ketat, Andy akhirnya dapat bertemu dan mengulik kisah John Kei. John adalah pria kelahiran Kei, Maluku Tenggara, dan berasal dari keluarga petani. Sejak kecil, John mengaku sudah kerap berkelahi karena seniornya di SD sering mengadunya dengan anak-anak lain.

“Satu lawan satu, kalau yang satu kalah ya dua lawan satu. Jadi boleh dibilang saya ini sejak kecil sudah hobi berkelahi,” tutur John kepada Andy, sambil tertawa.

Pertualangan John di Pulau Jawa berawal dari Surabaya. Kala itu ia berangkat menggunakan kapal dari salah satu pelabuhan di Maluku, perjalanannya itu ialah pelariannya dari sebuah tindakan kriminal. Sesampainya di Surabaya, John tinggal bersama saudaranya selama beberapa bulan. “Tapi karena tidak cocok, saya lalu pergi dan tidur di jalanan,” katanya.

Semasa hidup di jalanan, John sempat bertemu dengan orang yang kini dia anggap sebagai saudara. Orang tersebut aktif di gereja, yang mana sempat menampung John untuk tinggal bersama mereka. Walau demikian, mereka juga sempat didatangi sekelompok orang karena ulah John. Mulanya, John mabuk dan tidak mau membayar bakso yang ia makan. Seke­lompok orang itu lantas mendatangi John di rumah dan membawanya ke Koramil terdekat.

Keputusan John untuk pergi ke Jakarta dimulai setelah ia bebas dari Koramil itu. Ia naik Kereta Jayabaya lalu turun di Stasiun Jatinegara dan setelah itu ia pergi menggunakan bajaj ke daerah Berlan, Matraman, Jakarta Timur. Setibanya di Jakarta, mula-mula John bekerja sebagai satpam di sebuah losmen. Dari masa kerja inilah John kemudian mendapat catatan kriminal pertamanya di Jakarta. Ia membunuh orang pada 1992, dan ditahan di Cipinang hingga bebas pada 1995.

Kecanduan ribut

Setelah bebas, John lantas bertemu kawan-kawan dari kampung halaman dan membentuk Angkatan Muda Kei (Amkei) di Jakarta. Organisasi itu mereka bentuk untuk menjalin solidaritas, John kemudian dipilih sebagai ketua umum di saat anggotanya bertambah semakin banyak, bahkan sampai ribuan.

“Jadi walau Amkei belum terbentuk. Saya kerjaannya tiap malam itu sudah pasti ribut. Seperti kecanduan begitu rasa­nya,” tutur John, yang mengaku dewasa ini telah membunuh lebih dari satu orang ketika ditanya jumlah korbannya.

Meski demikian, John kini telah berubah. Gaya hidupnya sudah berbalik 180 derajat, bahkan telah berubah menjadi penginjil, yang kalau kata Kepala Seksi Pembinaan Napi LP Permisan, Yohanis Varianto, berguna bagi orang lain untuk memberikan hal-hal positif.

John Kei, bersama narapidana lainnya juga mempelajari berbagai macam keterampilan khusus. Mulai membatik dan menyablon, pun sebutannya sebagai The God Father Jakarta kini telah berubah menjadi koordinator kebersihan LP Permisan. Pertobatan John Kei berawal dari suatu masa ketika ia ditempatkan di salah satu sel besar di Nusakambangan seorang diri.

Kala itu, John berontak dan berteriak meminta untuk dibebaskan. Meski demikian, tidak ada satu orang pun yang me­responsnya, padahal dia sudah dirundung bisikan-bisikan dari dalam hati yang me­mintanya untuk bunuh diri. Beruntungnya, kala itu dia dapat mengendalikan diri dan mulai membaca Injil yang sengaja ditinggalkan di dalam penjara sebagai bahan renungannya.

“Barangkali sampai saat ini, saya sudah mengenal banyak hal di dunia. Tetapi ada hal lain yang saya rasakan ketika saya menemukan Injil Matius Pasal 6 ayat 33 yang isinya mengatakan, ‘Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu’,” jelas John.

Saat menemukan ayat itu, John lantas tidak melanjutkan bacaannya. Ia duduk termenung dan mulai merefleksikan segala perbuatan yang telah ia lakukan selama ini. John juga mengatakan bahwa setelah itu ia semakin kecanduan membaca Alkitab. “Mungkin saya tinggalkan kalau mandi atau makan saja, selebihnya saya membaca. Jadi seperti hafal semua isinya,” imbuh John sambil tertawa.

Bagi John, hal terpenting di hidupnya saat ini ialah bagaimana caranya untuk selalu mendekatkan diri dengan Tuhan. Ia merasa harus mengambil keputusan untuk tidak lagi mengejar nafsu duniawi, tetapi harus berbuat baik agar dapat menjadi bekal untuk hidup di kerajaan surgawi. Salah satu upaya konkret yang ia lakukan saat ini ialah dengan menjaga kebersihan di seluruh area LP Permisan. Dulunya, LP itu terkenal sebagai tempat yang paling jorok, tetapi di tangan John Kei, LP itu kemudian berubah menjadi yang paling bersih di Nusakambangan. (M-4)

BERITA TERKAIT