Ini 4 Rekomendasi Menteri LHK Untuk Penanganan Banjir Sentani


Penulis: Dhika Kusuma Winata - 19 March 2019, 20:23 WIB
 ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/wsj.
  ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/wsj.

MENTERI Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya menegaskan pihaknya segera mengambil beberapa langkah strategis untuk penanganan bencana banjir bandang di Sentani, Papua.

Kementerian LHK akan mengirim tim Satgas penanganan bencana dan membentuk posko informasi.

"Mengatasi bencana banjir bandang agar tidak terjadi lagi, KLHK memberikan empat rekomendasi untuk segera diselesaikan," ungkapnya dalam Rapat Kerja di Komisi IV DPR, Jakarta, Selasa (19/3).

Empat rekomendasi tersebut, pertama, ialah pengembalian kawasan hutan sesuai dengan fungsinya. Kedua, diperlukan peninjauan ulang tata ruang berdasarkan pertimbangan pengurangan resiko bencana serta pengembangan adaptasi bencana.

Ketiga, internalisasi program rehabilitasi lahan daerah aliran sungai (DAS) ke dalam program tata ruang. Keempat, internalisasi program konservasi tanah dan air berupa saluran pembuangan air (SPA) di lahan pertanian dan permukiman untuk meningkatkan pengaturan sehingga menurunkan potensi longsor.

Baca juga : Pembabatan Hutan Penyebab Banjir Bandang di Sentani

Selain itu, kementerian LHK juga akan meningkatkan alokasi rehabilitasi hutan dan lahan di Papua tahun ini dari semula 1.000 hektare menjadi 2.500 hektare.

Juga, akan dibangun sarana konservasi tanah dan air berupa dam penahan erosi (gully plug), serta dam pengendali dan saluran pembuangan air (SPA) di daerah pertanian masyarakat.

Menurut data KLHK, terdapat penggunaan lahan permukiman dan pertanian lahan kering campur pada daerah tangkapan air (DTA) di Sentani seluas 2.415 hektare.

"Curah hujan ekstrem menyebabkan debit aliran air menjadi tinggi. Air tidak mampu ditahan bendung alami yang berada di wilayah timur Sentani yang jebol ketika hujan ekstrem. Berdasarkan peta kerawanan banjir limpasan, sebagian besar daerah yang terimbas banjir merupakan daerah dengan potensi limpasan air yang tinggi dan ekstrem," tukas Menteri Siti memaparkan penyebab banjir. (OL-8)

BERITA TERKAIT