Ketegangan Meningkat Terkait Pemakaman Korban di Selandia Baru


Penulis: Denny Parsaulian Sinaga - 17 March 2019, 19:20 WIB
 (Photo by Marty MELVILLE / AFP)
  (Photo by Marty MELVILLE / AFP)

JENAZAH pertama dari pembantaian di masjid Christchurch baru akan dilepas Minggu (17/3) malam. Ini membuat frustrasi keluarga korban. Karena ini terlalu lama dimakamkan.

Kebiasaan Islam menyatakan bahwa almarhum harus dikubur dalam waktu 24 jam. Tetapi pihak berwenang mengatakan penyelidikan kompleks terhadap pembantaian 50 jamaah selama salat Jumat membuat proses cepat menjadi sulit.

Para pejabat Selandia Baru mengatakan setidaknya satu jenazah akan dikembalikan Minggu malam dan seluruh 50 jenazah itu akan diterima keluarga mereka, Rabu (20/3).

"Ini pembantaian, apa lagi yang perlu mereka ketahui?" kata Sheikh Amjad Ali, asisten kepala sekolah yang melakukan perjalanan dari Auckland untuk mengatur pemakaman kepada AFP.

"Keluarga-keluarga itu sedih tetapi mereka menjadi sedikit frustrasi. Alasan kematian mereka sudah diketahui, tetapi mengapa tidak melepaskan mereka yang telah diidentifikasi," katanya. "Saya tidak berbicara melawan pihak berwenang karena mereka memiliki peraturan dan regulasi sendiri, tetapi mereka harusnya menyeimbangkan antara budaya dan pandangan agama dan hukum setempat."

Ali mengatakan sulit bagi kerabat untuk mengetahui apakah mayat-mayat itu telah berbaring di masjid selama lebih dari satu hari.

Perdana Menteri Jacinda Ardern mengatakan sejumlah kecil mayat akan dikembalikan kepada keluarga mulai Minggu malam.

"Ini adalah harapan bahwa semua mayat akan dikembalikan kepada keluarga pada Rabu," katanya kepada wartawan.

Wakil Komisaris Polisi Wally Haumaha mengatakan serangan itu sama sekali belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Selandia Baru. "Tetapi perwira saya bekerja sangat keras untuk mendukung."

"Satu-satunya fokus kami adalah mengembalikan orang-orang yang mereka cintai dan mengikuti tradisi budaya seperti mencuci dan menyelubungi orang-orang yang mereka cintai dan kami telah menyediakan tempat untuk melaksanakan isu-isu budaya sensitif ini," katanya lagi.


Baca juga: Satu WNI Korban Penembakan di Selandia Baru Dinyatakan Tewas


Kepala Koroner Hakim Deborah Marshall menambahkan bahwa setiap tindakan pencegahan perlu dilakukan untuk menghindari kesalahan.

"Tidak ada yang lebih buruk daripada memberikan tubuh yang salah kepada keluarga yang salah," katanya.

Sebelumnya, Komisaris Tinggi Pakistan untuk Selandia Baru, Abdul Malik, mengatakan kepada AFP bahwa enam warga negara Pakistan dipastikan tewas dan tiga warga negara masih hilang.

Setidaknya dua keluarga juga meminta agar mayat orang yang mereka cintai dipulangkan ke Pakistan. Ini sebuah proses yang bisa memakan waktu hingga 10 hari.

"Tradisi Muslim adalah bahwa tubuh harus dikubur sedini mungkin. Tapi ini bukan keadaan yang normal," tambahnya.

Di luar pertemuan antara pihak berwenang dan kerabat korban tentang pengaturan penguburan, sekelompok besar orang Bangladesh datang dengan tanda bertuliskan 'Tolong bantu kami menemukan Zakaria Bhuiyan' dan 'Berapa lama kita harus menunggu sekarang?'

"Mereka tidak memberi tahu kami apa-apa," kata teman Bhuiyan, Kaniz Fatima kepada AFP, seraya menambahkan bahwa nama Bhuiyan tidak ada dalam daftar awal korban yang diberikan kepada keluarga.

Dia berada di masjid Al Noor dekat Hedley Park pada saat penembakan.

"Kami ingin konfirmasi bahwa dia sudah mati, hidup atau dalam keadaan darurat. Kami telah menunggu di sini selama dua hari terakhir dan beberapa belum makan atau tidur," kata Fatima. "Kami mengerti prosedur ini membutuhkan waktu. Tapi setidaknya beri kami kerangka waktu," pintanya. (OL-1)

BERITA TERKAIT