10 March 2019, 06:50 WIB

Beban Rakyat Miskin Lebih Ringan


MI | Nusantara

PROGRAM pemerintah dalam­ menuntaskan masalah kemiskin­an melalui kartu Indonesia se­hat­­ (KIS), kartu Indonesia pintar (KIP), dan program keluarga harapan (PKH) sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Suriyah, penerima PKH asal Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah, salah satu yang memanfaatkan bantuan pemerintah tersebut untuk modal berdagang.

“Awalnya saya pakai modal untuk berjualan susu kedelai, dan sekarang saya mengembangkan usaha jualan bandeng presto. Omzet yang saya terima sekitar Rp1 juta per hari dengan keuntungan Rp100 ribu. Karena sudah jalan, saya tidak lagi memperoleh PKH,” kata Suriyah, kemarin.

Cerita lainnya dari Kartam, warga Desa Pekuncen, Kecamatan Pekuncen, Banyumas. Ia bersama keluarga menerima KIS sehingga bisa digunakan untuk berobat gratis ke puskesmas ataupun rumah sakit.

“Inginnya sehat terus. Namun, kalau sakit, kami sudah punya KIS untuk saya, istri, dan anak saya,” ujarnya.

Di tempat terpisah, Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Banyumas Enas Hindasah mengatakan program kartu Indonesia pintar dari pemerintah sangat dirasakan manfaatnya oleh warga tidak mampu. Keberadaan KIP telah memotong mata rantai anak putus sekolah.

“Di Banyumas ada 121 ribu lebih siswa SD dan SMP serta pendidikan kesetaraan yang telah menerima KIP. Mereka terhindar dari putus sekolah karena ada KIP ini,” terang Enas.

Manfaat kartu-kartu bantuan sosial untuk warga miskin juga dirasakan Ujang, 46, perantau asal Garut, Jawa Barat, yang kini tinggal di Kota Sorong, Papua Barat.
Ia mengaku pernah memanfaatkan KIS untuk berobat ke RSUD Sorong.

“KIS yang dikeluarkan Joko Widodo-Jusuf Kalla sangat membantu untuk pengobatan bagi rakyat miskin seperti saya. Berobat di rumah sakit gratis dan dapat obat gratis,” kata Ujang yang berprofesi sebagai tukang semir sepatu itu.

Rasa bahagia juga diungkapkan Ihat Solihat, 41, warga Kampung Benda Gang Buntu, Kelurahan Cikalang, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya.

Bapak tiga anak itu bersyukur lantaran ia bisa menyekolahkan anak-anaknya karena mendapatkan KIP. “Kami dapat KIS untuk berobat di puskesmas dan bantuan pangan nontunai, serta beras, dan telur,” ungkap Ihat yang sehari-harinya bekerja mengelola tempat pemakaman umum di Tasikmalaya itu.

Bantuan untuk masyarakat tidak mampu dari pemerintah juga dirasakan Rismaya, 32, warga Desa Wadas, Kecamatan Telukjambe Timur, Karawang, Jawa Barat. Ia mendapatkan KIS sejak dua tahun lalu dan sudah digunakan dua kali untuk berobat.

“Saya pernah sakit tifus lalu berobat ke rumah sakit dengan menggunakan KIS. Saya mendapatkan pelayanan yang sama dari rumah sakit. Dari perawatan dan pengobatan itu gratis,” katanya.

Saat proses pengurusan administrasi, menurut Rismaya lebih simpel dan cepat.  (LD/MS/CS/AD/N-2)

 

BERITA TERKAIT