20 February 2019, 09:12 WIB

Fenomena Supermoon Terbesar Tahun ini Teramati di Bandung


Depi Gunawan | Humaniora

WALAU sempat tertutup awan, supermoon pada Selasa (19/2) malam dapat teramati jelas di kawasan Bandung. Pengamatan yang dilakukan sejumlah astronom amatir Imah Noong dilakukan menggunakan kamera Sony a5000 dengan lensa Vixen tipe ED102S.

Berdasarkan pantauan, sekitar pukul 19.00 WIB, bulan purnama belum terlihat karena langit masih tertutup awan setelah kawasan Bandung diguyur hujan sejak Selasa (19/2) siang.

Baru pada sekitar pukul 22.00 WIB, bulan mulai menampakan wujudnya, fenomena supermoon pun bisa terlihat jelas dengan mata telanjang.

Arman Abdul Rohman dari Komunitas astronomi Imah Noong menuturkan, supermoon pada 19 Februari ini merupakan peristiwa terdekat dan terbesar yang terlihat di tahun ini, yakni hanya berjarak 356.846 km.

"Supermoon kali ini paling dekat dibanding dua fenomena sama yang terjadi pada tahun ini. Setelah pada 21 Januari lalu, supermoon di tahun ini akan kembali terjadi pada 21 Maret mendatang," kata Arman usai pengamatan di Observatorium Imah Noong, Kampung Areng Desa Wangunsari Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (19/2) malam.

Baca juga: Keberagaman Bersemi lewat Pesona Cap Go Meh

Namun sebetulnya, lanjut Arman, bulan mulai masuk ke titik perigee (titik terdekat bumi) yang berlangsung pada pukul 16.06 WIB sehingga masyarakat di wilayah Indonesia tidak bisa mengamatinya karena bulan belum terbit. Sedangkan puncak purnama terjadi pukul 22.53 WIB.

Menurut dia, bagi pecinta astronomi khususnya pehobi astrofotografi, biasanya mereka akan membandingkan ukuran antara supermoon dengan mikromoon atau saat bulan berada di titik terjauh dari bumi (apogee).

"Nanti kalau teman-teman ingin membandingkan supermoon dengan mikromoon atau bulan terkecil bisa dilakukan pada 14 September mendatang, karena pada saat itu, bulan akan mengalami titik terjauh dari bumi dengan jarak mencapai 406.248 km," bebernya.

Dampak supermoon terhadap bumi biasanya menyebabkan pasang surut air laut atau permukaan laut lebih tinggi daripada biasanya.

Selain itu, khusus bagi peneliti di bidang lain, terang dia, pengamatan ini bisa jadi sumber bahan lainnya, sebab setelah bulan purnama atau gerhana biasanya juga terjadi gejala alam di bumi.

"Seperti gempa, mungkin, hanya selang beberapa hari setelah purnama atau gerhana. Jadi memang, yang sedang hangat-hangatnya terjadi sekarang adalah keterkaitan antara fenomena geologis yang ada di Indonesia dengan ketampakan fase bulan. Terutama supermoon ini kan jarak terdekat dengan bumi, berarti efek gravitasinya juga lebih besar ke bumi," jelasnya. (OL-2)

BERITA TERKAIT