14 February 2019, 20:20 WIB

Negosiasi Perdagangan AS-Tiongkok Berlanjut di Beijing


Tesa Oktiana Surbakti | Internasional

Nicholas Kamm / AFP
 Nicholas Kamm / AFP

NEGOSIATOR Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok mulai mengadakan pembicaraan perdagangan tingkat tinggi selama dua hari di Beijing. Pertemuan itu diharapkan mampu meredam konflik perdagangan yang membayangi pasar keuangan dan prospek pertumbuhan ekonomi global.

Tekanan untuk mencapai kesepakatan sebelum batas waktu gencatan senjata pada 1 Maret 2019, perlahan mereda. Apalagi, Presiden AS Donald Trump, mengindikasikan pihaknya terbuka untuk memperpanjang gencatan senjata perdagangan.

Pada Desember lalu, Trump menunda rencana penggandaan tarif impor terhadap komoditas Tiongkok senilai US$200 miliar, sebagai ruang negosiasi. Dua negara ekonomi raksasa saling melemparkan serangan tarif yang menyasar komoditas dengan nilai lebih dari US$360 miliar. Perang dagang dalam beberapa bulan terakhir, menambah beban sektor manufaktur di masing-masing negara dan mengguncang pasar keuangan global.

Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer dan Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin, dijadwalkan bertemu dengan Wakil Perdana Menteri (PM) Tiongkok Liu He, sebagai upaya mendorong kemajuan negosiasi sejak pertemuan di Washington.

"Kami sangat menantikan pembicaraan hari ini," ucap Mnuchin sebelum meninggalkan hotelnya.

Ekspektasi terhadap kesepakatan perdagangan semakin meningkat, seiring pelambatan ekonomi yang dialami Tiongkok. Begitu pula dengan pergerakan pasar global yang mengguncang pemerintahan Trump.


Baca juga: RI-Selandia Baru Kembangkan Kerja Sama Mitigasi Bencana


Presiden Tiongkok, Xi Jinping, berencana menemui para pejabat AS yang hadir di Beijing, pekan ini. South China Morning Post melaporkan pertemuan putaran lanjutan, memperkuat harapan pasar Asia.

Dalam beberapa kesempatan, Trump mengatakan ingin bertemu dengan Xi 'di beberapa titik' untuk mencapai kesepakatan dagang. Kepada wartawan di Kantor Oval, Trump menuturkan pembicaraan awal di Beijing pada Rabu waktu setempat, berjalan dengan kondusif.

"Mereka menunjukkan rasa hormat yang luar biasa kepada kami," imbuh Trump.

Kedua negara kompak menyatakan pembicaraan di Washington sekitar bulan lalu, menghasilkan kemajuan besar. Namun, masih terdapat jurang pemisah terkait sejumlah persoalan. AS menuntut perubahan besar terhadap praktik Tiongkok yang dinilai tidak adil. Di antaranya termasuk pencurian teknologi dan kekayaan intelektuan AS. Pun, banyak hambatan yang dialami perusahaan asing di pasar domestik Tiongkok.

Di lain sisi, Beijing menawarkan pembelian atas sejumlah komoditas AS. Akan tetapi secara luas, Negeri Tirai Bambu diyakini menolak seruan untuk membuat perubahan besar pada kebijakan industri domestik, seperti memangkas anggaran subsidi pemerintah.

"Pasar akan terus mengawasi dan bereaksi terhadap perkembangan negosiasi. Bagaimanapun hubungan Tiongkok-AS tergantung pada Xi dan Trump, apakah mau mencapai kesepakatan atau tidak," ujar Trey McArver dari Trivium Research.

Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan kemungkinan badai ekonomi global di tengah pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi. Dalam hal ini, menyoroti konflik perdagangan AS-Tiongkok yang berdampak signifikan. (AFP/OL-1)

 

BERITA TERKAIT