5 WN Bangladesh Terduga Korban Trafficking Dideportasi


Penulis: Yoseph Pencawan - 12 February 2019, 13:00 WIB
Ilustrasi
 Ilustrasi

PIHAK Imigrasi mendeportasi lima dari 288 warga negara Bangladesh terduga korban perdagangan manusia atau human trafficking yang diamankan di Kota Medan. Untuk pemulangan warga Bangladesh lainnya, akan dilakukan secara bertahap.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Medan Ferry Monang Sihite mengatakan pihaknya masih menyelidiki kasus dugaan human trafficking dengan korban ratusan warga negara Bangladesh.

"Kami telah mendeportasi dan mencekal mereka sebagai sanksi administratif. Kami juga sudah berkoordinasi dengan kedutaan besar Bangladesh untuk proses deportasi," jelas Ferry, Selasa (12/2).

Ferry membantah pihaknya menahan dua orang yang diduga terlibat melakukan perdagangan manusia. Bahkan, pihak Imigrasi juga belum memastikan kasus ini sebagai human trafficking. Namun yang pasti, dari aspek keimigrasian, mereka tidak membawa manfaat karena Indonesia tidak menjadi destinasi terakhir.

Itu dianggap pihak Imigrasi sebagai sebuah pelanggaran meskipun Bangladesh dan Indonesia menjalin perjanjian bebas visa.

Ratusan WN Bangladesh ditemukan di sebuah ruko di Kawasan Jalan Gatot Subroto, Kota Medan, Selasa (5/2) malam. Mereka diduga menjadi korban perdagangan manusia antarnegara. Setelah ditemukan, mereka ditempatkan sementara di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Belawan

Baca juga: 286 Warga Bangladesh akan Dideportasi dari Medan

Mereka mengaku ingin kembali ke negaranya karena merasa sudah ditipu. Sebelumnya, mereka dijanjikan bekerja di Malaysia oleh pihak-pihak yang membawa. Dari hasil penyelidikan, mereka masuk ke Indonesia secara bergelombang.

Saat ditemukan mereka sedang duduk di lantai dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Dengan jumlah yang tidak seimbang dengan luas ruangan, mereka terpaksa duduk berdesakan.

Pada 17 Desember 2018, sebanyak 30 orang WN Bangladesh juga diamankan petugas saat akan berangkat ke Malaysia, di Pelabuhan Tanjung Tiram, Kabupaten Batubara, Sumatra Utara. Dalam kasus ini, pihak Imigrasi sudah mendeportasi mereka.

Warga Bangladesh masuk ke Indonesia secara legal karena bebas visa, yang diatur dalam Instruksi Presiden Nomor 21 Tahun 2016. Mereka masuk ke Indonesia dalam tiga gelombang.

Gelombang pertama masuk dari Bandara Adi Sutjipto sebanyak 12 orang pada 11 Desember 2018 dan gelombang kedua sebanyak 11 orang pada 12 Desember 2018 melalui bandara yang sama. Sisanya masuk dari bandara Ngurah Rai pada hari yang sama dengan gelombang kedua.(OL-5)

BERITA TERKAIT