Beratnya Meninggalkan sang Penunjuk Arah


Penulis: MI - 12 February 2019, 10:20 WIB
ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/aww.
 ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/aww.
PELARANGAN PENGGUNAAN GPS SAAT BERKENDARA: Pengendara sepeda motor mengamati aplikasi GPS (pelacak jalan) di gawainya saat berkendara di Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Kamis (7/2/2019). Pihak kepolisian akan melakukan tindakan hukum berupa tilang ke

KEMESRAAN pengemudi ojek dan taksi online dengan peranti yang bernama global positioning system (GPS) berakhir sudah. Di wilayah DKI Jakarta, Polda Metro Jaya tidak lagi mau kompromi.

“Kami sudah merazia penggunaan GPS di kendaraan bermotor yang mengganggu konsentrasi pengendaranya. Setelah Mahkamah Kons titusi menguatkan penggunaan GPS dilarang, kami sudah langsung menindaklanjutinya,” ungkap Kepala Subdirektorat Penegakan Hukum, Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Komisaris Herman Ruswandi, kemarin. 
Sebelum dikuatkan dengan keputusan MK, payung hukum penindakan yang diambil kepolisian ialah UU Nomor 22 Tahun 2009, Pasal 106 Ayat 1 juncto Pasal 283 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Dalam Pasal 106 ayat 1 menyebutkan bahwa setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan wajib mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi.

Pelanggarnya bisa dipidana dengan pidana kurungan paling lama tiga bulan atau denda paling banyak Rp750 ribu. 

Herman mengakui pengendara transportasi daring yang paling banyak menggunakan GPS sambil berkendara. Ke depan, pihaknya akan menggiatkan sosialisasi larangan pengunaan GPS karena dapat mengganggu konsentrasi. “Sasaran utamanya para pengemudi taksi dan ojek online.

” Selain pengguna GPS dari gawai, ia juga mengaku akan menilang pengguna yang perangkat GPS-nya
terpasang secara built-in di mobil. Mereka tetap akan dirazia dan diti lang. 

Larangan penggunaan GPS membuat Andri, 38, pengemudi ojek daring sangat terpukul. Ia sudah membayangkan sulitnya mengantar penumpang tanpa menggunakan peranti teknologi itu. 

“Kalau gak pakai GPS susah. Kalau gak tahu jalan gimana? Nanya terus ke orang? Muter-muter. Yang kasihan, kan, penumpangnya juga,” ungkapnya.

 Tanpa alat navigasi, ia mengaku sangat kesulitan. Di Jakarta dengan tingkat kemacetan tinggi, ia terbantu GPS untuk mencari jalan tikus.

Namun, Ulfi , pelanggan ojek daring mengakui penggunaan GPS yang berlebihan membahayakan keselamatan penumpang. “Saya hampir tertabrak mobil karena abang ojek daring terus-menerus melihat GPS,” tandasnya. (Fer/*/J-3)  

BERITA TERKAIT