Pergerakan Rupiah masih Dipengaruhi Faktor Eksternal


Penulis: Fetry Wuryasti - 12 February 2019, 10:35 WIB
ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
 ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

NILAI tukar rupiah melemah di pembukaan pekan perdaganga ini walaupun penjualan ritel Indonesia melampaui ekspektasi dengan mencatat peningkatan 7,7% di bulan Desember 2018.

"Walaupun penjualan ritel yang positif akan meningkatkan keyakinan terhadap kekuatan fundamental ekonomi Indonesia, rupiah tetap sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal," ujar Lukman Otunuga, Analist FXTM, Selasa (12/2).

Nilai dolar AS yang menguat masih terus membebani kurs rupiah dan mata uang pasar berkembang lainnya. Kombinasi apresiasi dolar dan kekhawatiran mengenai perlambatan pertumbuhan global mungkin menekan rupiah di jangka pendek.

"Namun bank sentral AS (The Fed) yang dovish (melonggar) seharusnya akan membatasi penurunan," ulasnya.

Perhatian investor akan tertuju pada data perdagangan yang mungkin memberi informasi tambahan mengenai keadaan ekonomi Indonesia.

Data ini akan sangat dicermati untuk melihat pertanda dampak ketegangan dagang terhadap impor dan ekspor Indonesia. Selera terhadap Rupiah dapat meningkat apabila data ekonomi Indonesia terus melampaui prediksi pasar.

"Dari aspek teknis, USD - IDR dapat menguji 14100 di jangka pendek apabila dolar AS terus menguat," tambahnya.

Baca juga: Persija Mau Melantai di Bursa, BEI Siap Bantu

Nilai tukar rupiah pada perdagangan Selasa (12/2) pukul 09.20 berada pada posisi 14.092,5 per dolar AS atau melemah 0,42% dari penutupan sebelumnya di 14.034. Adapun rupiah dibuka dalam pergerakan melemah di level Rp14.080 per dolar AS.

Tenggat semakin dekat
Pekan ini sangat penting bagi pasar finansial. Perdamaian dagang 90 hari antara AS-Tiongkok akan berakhir pada 1 Maret.

Apabila kesepakatan tidak berhasil tercapai, maka tarif yang diberlakukan AS terhadap barang Tiongkok saat ini dapat ditingkatkan hingga lebih dari dua kali lipat.

Menurut laporan Wall Street Journal, kedua belah pihak bahkan belum membuat rancangan kesepakatan yang menjabarkan persetujuan dan ketidaksetujuan masing-masing.

Perwakilan dagang dan Menteri Keuangan AS akan bertolak ke Beijing untuk memulai putaran negosiasi dagang baru di Beijing hari ini, dan pasar mengharapkan berita baik dari kunjungan tersebut.

"Ini terlihat dari saham Tiongkok yang menguat hari ini setelah libur nasional satu pekan. Walau begitu, investor perlu mengelola ekspektasi terutama menilik berbagai pernyataan yang bertolak belakang dari Presiden Trump," ulasnya.

Waktu juga berjalan cepat untuk Inggris. Hanya 46 hari lagi menuju jadwal Inggris untuk keluar dari Uni Eropa, tapi belum ada yang tahu apa yang akan terjadi berikutnya dan Brexit seperti apa yang akan terlaksana.

"Perdana Menteri Theresa May harus menyampaikan pernyataan kepada Parlemen pekan ini mengenai kemajuan yang telah tercapai, dan menurut apa yang kita ketahui, belum ada banyak kemajuan," tuturnya.

Kalender AS juga memiliki jadwal data penting pekan ini. Statistik inflasi yang akan dirilis pada hari Rabu akan memberi gambaran lebih lanjut apakah penilaian Fed mengenai ekonomi AS terbukti akurat.

"Penjualan ritel adalah informasi penting lain yang akan kita dapatkan. Mari kita lihat apakah gejolak pasar modal baru-baru ini memengaruhi perilaku belanja," tukas Otunuga. (OL-3)

BERITA TERKAIT