12 February 2019, 05:30 WIB

TOD Tingkatkan Harga Properti


Haufan Hasyim Salengke | Ekonomi

ANTARA FOTO/Reno Esnir
 ANTARA FOTO/Reno Esnir

PENERAPAN konsep kawasan berorientasi transit atau transit oriented development dapat meningkatkan pemasukan transportasi, dalam hal ini PT MRT dan harga properti.

Senior Associate Director Research Colliers International (konsultan properti) Ferry Salanto seperti dikutip Antara menyebutkan, dengan adanya konsentrasi antara kawasan permukiman dan komersial seperti itu bisa memacu harga properti karena memudahkan untuk mengakses. Itu juga akan berefek pada peningkatkan pendapatan dari berbagai stasiun MRT.

Ia menuturkan bahwa dengan penerapan TOD yang tepat, beragam properti dapat disewakan di titik-titik konsentrasi tersebut sehingga harapannya pemasukan itu juga bisa digunakan untuk menyubsidi biaya MRT. “Dengan melesatnya integrasi konsep antara TOD dan moda transportasi massal seperti MRT, ke depannya yang menjadi permasalahan bukan lagi jarak tempuh, melainkan lebih kepada waktu tempuh warga,” ujar Ferry di Jakarta, Jumat (8/2).

TOD, lanjut Ferry, artinya pembangunan yang berorientasi kepada interkoneksi yang menghubungkan residensial dan bisnis sehingga terkonsentrasi. Dengan terkoneksi itu, diperkirakan akan menggerek harga sewa gedung perkantoran yang terdapat di sekitar kawasan MRT Jakarta, seperti di ruas Jalan Sudirman-Thamrin, Jakarta Pusat.

“MRT dampaknya akan langsung berpengaruh kepada harga-harga properti yang dilalui jalur MRT,” kata Ferry.

Ia mengaku sudah ada sejumlah gedung bangunan di sekitar kawasan MRT yang berupaya untuk menambah areal luas kantor karena diperkirakan ke depannya akan ada penambahan KLB (koefisien luas bangunan).

Ia berpendapat, meski secara langsung dampaknya kepada sepanjang koridor, ada juga dampak tidak langsung juga akan berpengaruh kepada kinerja sektor properti di berbagai daerah karena MRT terkoneksi dengan moda angkutan umum lainnya seperti LRT.

Harus terintegrasi

MRT Jakarta harus dapat benar-benar terintegrasi dengan konsep transit oriented development atau pengembangan kawasan yang memudahkan orang-orang di dalamnya untuk berpindah dari satu titik ke titik yang lainnya. “Selama ini belum ada langkah konkret penerapan TOD (dalam MRT Jakarta),” kata pengamat transportasi Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Darmaningtyas.
Menurut dia, agar konsep TOD benar-benar diselaraskan dalam MRT, harus mengurangi egoisme sektoral baik dari segi swasta maupun pihak pemerintah.

Darmaningtyas mencontohkan, perpaduan TOD-MRT yang baik dapat dilihat di negara tetangga, Singapura, yang akses untuk MRT juga berada di balik berbagai kawasan komersial seperti perkantoran dan pertokoan.

Sebelumnya, pengamat transportasi Universitas Soegijapranata Djoko Setijowarno menyatakan, penerapan konsep TOD yang dilakukan di sejumlah titik di Jabodetabek masih salah kaprah dan kurang sesuai.

Djoko memaparkan, TOD yang sebenarnya ialah konsep pengembangan suatu wilayah yang berorientasi transit transportasi yang lebih mengedepankan perpindah­an antarmoda transportasi dengan berjalan kaki atau upaya yang tidak menggunakan kendaraan bermotor. Namun di Indonesia, menurut dia, konsep TOD lebih diterjemahkan dalam membangun apartemen dan gedung bisnis di stasiun kereta.

“Kendali TOD di pemerintah atau pemda bukan pebisnis,” ujarnya.

Ia berpendapat bahwa pada saat ini di Jabodetabek, pemerintah hanya berperan dalam pemberian izin ba­ngunan. Djoko juga menyoroti mengapa TOD diterjemahkan dengan perlunya ada ruang parkir untuk memfasilitasi kendaraan pribadi warga. Padahal, seharusnya yang diutamakan ialah bagaimana masyarakat dapat berpindah-pindah dengan beragam moda angkutan umum hanya dengan berjalan kaki. (S-2)

BERITA TERKAIT