12 February 2019, 07:15 WIB

Childish Gambino, Rapper Kontroversial yang Ukir Sejarah


Hilda Julaika | Weekend

AFP/Valerie MACON
 AFP/Valerie MACON
Childish Gambino dalam iHeartRadio Music Festival di Las Vegas, AS, September silam. Gambino merupakan salah satu artis yang menolak tampil dalam Grammy 2019.

Penghargaan musik bergengsi Grammy Awards yang diselenggarakan tahun ini mengejutkan dunia musik jagat raya. Pasalnya, pemenang kategori Song of The Year direbut oleh Childish Gambino dengan lagu hitnya “This Is America” yang notabene bergenre rap. Kemenangan tersebut menandai kali pertama lagu rap menjadi jawara pada kategori bergengsi tersebut di ajang Grammy Awards.

Dilansir situs berita CNN, “This Is America” mengalahkan “Shallow” milik Lady Gaga, “God’s Plan”, dan lagu-lagu lain yang populer. Tak hanya pada kategori tersebut, lagu populer sejak Mei 2018 ini turut menyabet kemenangan pada kategori Record of The Year, Best Music Video, dan Best Rap/Sung Performance di malam penghargaan yang diselenggarakan pada Minggu (10/2) di Los Angeles, AS, dan disiarkan oleh CBS. Meski begitu, sang musisi tidak menghadiri acara dan diketahui menolak undangan untuk tampil di Grammy.

Ludwig Goranssom yang memproduksi “This Is America” menjadi perwakilan Gambino dalam menerima penghargaan tersebut. “Saya hanya ingin mengatakan menciptakan musik dengan Childish Gambino adalah sebuah kebahagian terbesar dalam hidup saya,” ujarnya di atas panggung.

Lagu ini memang telah menggemparkan dunia musik pada Mei 2018 saat Gambino merilis musik videonya yang dinilai penuh dengan simbol-simbol rasisme. Disutradarai oleh Hiro Murai, video musik dari penyanyi bernama asli Donald Glover ini sangat sureal dan memiliki banyak pesan di dalamnya. Gambino terlihat sangat ekspresif dan lokasi syuting video musik bertepatan di sebuah gudang yang memungkinkan banyak aksi dilakukan.

Sebagian besar penonton saat menyaksikan video musik ini mungkin tertarik pada Gambino yang bertelanjang dada. Namun, bila diamati terdapat pesan mendalam di baliknya. Terinspirasi dari kekerasan senjata dan pembunuhan yang marak terjadi di Amerika Serikat. Pembunuhan akibat penyalahgunaan senjata terus terjadi namun senjata-senjata yang ada justru diperlakukan lebih halus ketimbang nyawa manusia.

Konsep ini dikaitkan dengan adanya perdebatan tanpa akhir mengenai kontrol senjata di Amerika Serikat. Gambar-gambar pada video itu juga memicu pembicaraan mengenai tema lain, termasuk kebrutalan polisi, kebiasaan media sosial, dan hal-hal yang menjadi perhatian orang-orang Amerika Serikat.

Fakta bahwa Childish Gambino seolah bercerita mengenai latar belakang pembuatan video dari kebrutalan polisi, kekerasan senjata, penyesatan media, dan penggunaan Afrika-Amerika sebagai pelindung merek divisualisasikan dengan menari dalam karikatur bergaya Jim Crow. Aksi ini menunjukkan transendensi atau sikap sekedar menuntut perhatian orang lain.

Bahkan penggemar dari sang musisi telah membedah berbagai gerakan tarian dalam video. Dengan banyak menentukan gerakan-gerakan yang mewakili kekerasan yang telah dijelaskan pada paragraf sebelumnya.

@D_Breezy ikut berkomentar melalui akun Twitter miliknya, Gerakan tarian Childish Gambino mengalihkan perhatian kita semua dari kegilaan yang terjadi di latar belakang video & itulah tepatnya yang ingin dia sampaikan...#ThisIsAmerica.

Tak hanya itu pemilik akun @karen_arlett18 turut menyampaikan pandangannya bahwa video musik tersebut menggambarkan kekerasan yang terjadi di Amerika Saat ini. Bagi orang-orang yang tidak mengerti, video Gambini terkesan kekanakan & hanya berfokus pada tariannya saja. Padahal, itu tengah menunjukkan kekerasan yang saat ini terjadi di Amerika. Orang-orang hanya terhibur oleh gerakan tarian yang viral bukannya pada apa yang sebenarnya terjadi.

Terlepas dari kontroversi Gambino, tahun ini Grammy Awards terlihat berbeda karena menelurkan pemenang genre musik rap pada kategori utama --di samping berjayanya para musikus perempuan di kategori-kategori penghargaan bergengsi. Recording Academy sendiri telah melakukan upaya untuk mendiversifikasi keanggotaannya di tengah keluhan bahwa Grammy sering gagal mengapresiasi artis rap dan hip-hop dalam kategori utama.

Awal pekan ini, dalam sebuah wawancara New York Times dengan produser Grammy lama Ken Ehrlich mengakui, “Kami terus memiliki masalah di dunia hiphop.” Belum jelas apakah kemenangan Childish Gambino dapat mengubah kredibilitas Grammy di kalangan musikus rap dan hiphop. (M-2)

BERITA TERKAIT