10 February 2019, 14:35 WIB

Konser Apresiasi Erwin Gutawa bagi Melly, Dee, dan Dewiq


Fathurrozak | Weekend

MI/ Fathurrozak
 MI/ Fathurrozak

MELLY Goeslaw, Dewi (Dee) Lestari, dan Dewiq sudah menorehkan penulis lagu papan atas di Tanah Air. Karya-karya yang langganan hit membuktikan jika kualitas srikandi Indonesia di industri musik tidak kalah dengan para pria.

Kiprah ketiga musisi dan penulis lagu itu pun diapresiasi tinggi oleh Erwin Gutawa. Komponis senior ini, bersama dengan Erwin Gutawa Orchestra, menggelar konser Salute to 3 Female Songwriters yang merupakan penghormatan kepada Melly, Dee dan Dewiq. Konser yang berlangsung di ICE BSD, Sabtu (9/2) ini disajikan dengan semua penampilnya ialah para penyanyi pria.

Sentuhan menarik terjadi pada lagu ‘Pelan-Pelan Saja’ yang dibuat Dewiq dan dipopulerkan band Kotak. Meski Armand Maulana sempat beberapa kali tak hapal lirik, namun lagu yang diramu kembali Erwin menjadikan Pelan-Pelan Saja punya dimensi lain dari yang sudah sering kita dengarkan. Erwin Gutawa menawarkan cara lain mendengarkan Pelan-Pelan Saja.

Cinta Di Ujung Jalan, yang lama kita dengar melalui Agnes Monica, dengan kesenduan dan minim instrumen, dibawakan Sandhy Sondoro. Dalam lagu yang juga diciptakan Dewiq ini, Erwin juga berhasil membawa kesenduan versi Sandhy, bukan hanya lengkingan, juga bukan karena tempo yang diperlambat, melainkan lirik-lirik menyayat yang semakin menusuk.

Penampilan Harvey Maliholo mengubah nuansa sendu yang membuka konser menjadi gembira. Harvey membawa penonton berjoget dan menjadi penanda, walau hidup ini pahit, tetapi ada sisi yang bisa suka citakan.

'Bagaikan Langit’ yang ditulis Melly Goeslaw menjadi bagian Harvey memeriahkan suasana. Kemeriahan juga berlanjut hingga ia membawakan ‘50 Tahun Lagi’ yang dipopulerkan Warna dari penulis Dewiq.

Layaknya suatu plot, konser ini membawa kita dari kesenduan, diselingi kegembiraan, dan ditutup dengan rentetan sendu, dari mahsup lagu-lagu tiga penulis lagu tersebut.

 

Interpretasi Baru

Pemilihan para penyanyi pria pada konser ini nyatanya buah pemikiran Gita Gutawa, yang bertindak sebagai produser konser. Penyanyi yang juga puteri Erwin ini mengaku berkaca pada metode sang ayah dalam membuat interpretasi baru di konser-konser sebelumnya.

"Papa kalau bikin konser, aransemennya pasti dengan interpretasi baru. Makanya pemilihan penyanyinya, juga biar ada interpretasi baru, dan konsep pemilihannya juga random, kenapa enggak pria semua aja yang nyanyi? Dan ternyata memang ini pun lirik-liriknya universal juga, ini jadi suatu kejutan dan warna baru,” ungkap Gita seusai konser.

Bagi Erwin sendiri, ketiga penulis lagu, Dewiq, Melly, dan Dee punya karya-karya yang bagus. Ia pun menyebut apresiasi ini sudah sewajarnya diberikan kepada mereka.

“Mengapresiasi memang kewajiban kita sebagai pelaku seni, bahkan di bidang apa pun, kalau ada yang hebat, layak kita kasih penghargaan. Khususnya di bidang musik, kita di dunia musik selalu saling menginspirasi, tidak terbatas genre, semua musik yang eksis di masyrakat dan bagus, akan menginspirasi musisi lain,” jelas Erwin.

Baik Melly, Dee, juga Dewiq pun berharap mereka bisa terus produktif. Ketiganya, memang sudah lama berteman, namun sudah lama pula tidak bertemu. Konser ini sekaligus mempertemukan mereka kembali. “Bahagia, dengan konser ini, berarti apresiasi untuk kami bertiga. Saya tidak menyangka. Kami temenan udah lama, kalau enggak acara ini gak ketemu, mudah-mudahan tetap produktif dan menginspirasi buat yang lain,” ungkap Melly Goeslaw.

Erwin juga menganggap ini sebagai suatu kejutan musikal. Reza Rahadian, hadir di atas panggung, membawakan ‘Selamat Ulang Tahun’ milik Dee Lestari dengan selingan beberapa kali dibacakan layaknya puisi. Tulus, yang baru saja melangsungkan konser juga hadir sebagai kejutan lain. Selain berduet dengan Rendy Pandugo, Tulus juga membawakan beberapa lagu milik Dee, seperti Perahu Kertas, dan Malaikat Juga Tahu.

Bila lagu-lagu Dewiq maupun Dee dibawakan hampir rata oleh para penampil termasuk Vidi Aldiano, Erwin tampaknya memilih Afgan untuk membawakan hampir semua lagu Melly Goeslaw malam itu, kecuali Bagaikan Langit oleh Harvey, Tegar oleh Lib3ro, dan instrumental Menghitung Hari oleh Erwin Orchestra. “Ini barisan male vocal terbaik yang ada, yang kita kumpulkan memiliki kekuatan mereka masing-masing. Walau berbeda, digabungin jadi kejutan musikal yang istimewa,” tutup Erwin. (M-1)

BERITA TERKAIT