AS Ancam Hancurkan Ekonomi Turki


Penulis: Tesa Oktiana Surbakti - 14 January 2019, 20:55 WIB
AFP
 AFP

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberi peringatan kepada Turki. Kehancuran ekonomi mengancam Turki apabila menyerang pasukan Kurdi, pasca penarikan pasukan militer AS dari Suriah.

Di lain sisi, AS mendesak Kurdi agar tidak memprovokasi Ankara. Pemikiran Trump diungkapkan melalui akun twitter pribadinya. Dia turut mempersoalkan lambannya penyebaran informasi oleh pemerintah AS, setelah keluarnya keputusan mengenai penarikan pasukan militer.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo tengah melakukan tur regional kilat yang bertujuan meyakinkan sekutu, di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Turki. Termasuk menyoroti nasib sekutu Washington, Kurdi, dalam perang melawan kelompok Negara Islam (ISIS). AS berupaya meyakinkan kekuatan Kurdi yang khawatir atas kepergian pasukan militer AS. Apalagi, kondisi tersebut memungkinkan serangan dari Turki.

Turki cukup geram dengan rencana Trump menarik pasukan militer AS, turut mempertimbangkan keselamatan para pejuang Kurdi. Pemerintah Turki menganggap pasukan Kurdi layaknya kelompok teroris. "Apabila Turki menghantam bangsa Kurdi, kami tidak segan menghancurkan ekonominya. Demikian juga kami tidak ingin Kurdi memprovokasi Turki," bunyi cuitan Trump yang mendorong terciptanya zona aman 20 mil atau 30 kilometer (km). Dalam hal ini, Trump enggan merinci siapa yang akan membuat sekaligus menegakkan zona aman, pun berikut lokasinya.

Operasi militer terhadap ISIS di Suriah yang dipimpin AS, turut dipelopori Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didominasi Kurdi. Turki memandang tulang punggung aliansi, yakni Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG), sebagai kelompok teroris yang berkaitan dengan Partai Pekerja Kurdistan. Kelompok tersebut berjuang melakukan pemberontakan terhadap Turki selama puluhan tahun.

Pada Sabtu kemarin, lebih dari 600 ribu orang dievakuasi dari penyisihan ISIS yang tersisa di wilayah timur Suriah. Para pejuang yang didudukung AS diketahui bersiap untuk serangan terakhir di daerah tersebut. "Memulai penarian (pasukan) dari Suriah yang sudah lama ditunggu, sembari memukul kekhalifahan teritorial ISIS yang masih tersisa sedikit, dari berbagai arah. Kami akan menyerang lagi dari pangkalan terdekat, apabila hal itu direformasi," tukas Trump.

"Rusia, Iran dan Suriah telah menerima manfaat besar dari kebijakan jangka panjang AS untuk menghancurkan ISIS di Suriah, yang menjadi musuh alami. Kami pun mendapat manfaat, tetapi sekarang saatnya membawa pasukan kembali pulang ke rumah. Hentikan perang tanpa nurani!," pungkas Trump.

Kepala Observatorium Hak Asasi Manusia (HAM) Suriah yang berbasis di Inggris, Rami Abdel Rahman, mengatakan beberapa puluh pejuang militan masuk dalam rombongan yang dievakuasi ke daerah-daerah yang dikuasai aliansi Kurdi-Arab. Lebih lanjut dia mengungkapkan sekitar 16 ribu orang, termasuk 760 orang pejuang ISIS, melarikan diri dari daerah tersebut sejak awal Desember 2018. Dalam prosesnya, untuk pertama kali SDF dan koalisi menyediakan bus bersama, seakan menunjukkan kesepakatan antara kedua pihak yang bertikai.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyoroti secara keseluruhan bahwa 25 ribu orang telah melarikan diri dari jeratan kekerasan dalam enam bulan terakhir. Tepatnya ketika militan garis keras berjuang untuk mempertahankan benteng mereka yang kian rapuh. Jumlah warga sipil yang masih terperangkap di sekitar Kota Hajin diperkirakan 2 ribu orang.

Koalisi pimpinan AS belum lama ini menembakkan lebih dari 20 rudal ke arah jihadis. Sekitar 300 pejuang SDF telah dikerahkan di dekat Desa Sousa untuk mempersiapkan serangan terakhir.(AFP/OL-4)

BERITA TERKAIT