Agar Pendidikan tidak Jadi Harapan Palsu


Penulis: Anggi Afriansyah Peneliti Sosiologi Pendidikan di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI - 15 January 2019, 01:00 WIB
 

PARA pendiri bangsa ini percaya bahwa pendidikan ialah upaya transformasi. Mencerdaskan kehidupan bangsa, itulah salah satu janji yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945. Pendiri bangsa tentu menyadari dengan sepenuh hati bahwa Indonesia hanya akan maju bila dari bangsa ini lahir sosok-sosok yang cerdas.

Generasi bangsa yang cerdas hanya bisa dikreasi melalui pendidikan yang memberi ruang pencerahan bagi akal budi dan juga pembebasan. Pendidikan yang mampu mengubah pola pikir anak bangsa, yang tidak sekadar membuat mereka mendapatkan gelar.

Pendidikan di sini, tentu tidak hanya sebatas pada pendidikan formal yang tersekat ruang-ruang kelas yang melalui serangkaian pembelajaran berjenjang ala persekolahan. Sering kali memang, pendidikan selalu disejajarkan dengan persekolahan. Padahal, pendidikan cakupannya lebih luas dari persekolahan.

Bukankah Ki Hajar Dewantara sang bapak pendidikan nasional berseru, “jadikan setiap tempat sebagai sekolah dan jadikan setiap orang sebagai guru”. Belajar dapat dilakukan kapan dan di mana saja. Sesuatu yang semakin mudah dengan kemajuan teknologi internet.

Jika merujuk pendapat Ki Hajar Dewantara, trisentra pendidikan yaitu alam keluarga, alam perguruan (sekolah), dan alam pergerakan pemuda (masyarakat) menjadi arena penting dalam pembentukan jati diri anak (Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, 2013). Ketiganya harus berkolaborasi secara erat.  

Dalam pandangan Ki Hajar Dewantara, alam keluarga menjadi pusat pendidikan pertama dan yang terpenting. Sementara itu, alam perguruan (pendidikan) berkewajiban mengusahakan kecerdasan pikiran dan pemberi ilmu pengetahuan.

Yang terakhir pergerakan pemuda (pergaulan di masyarakat) menjadi sokongan penting bagi kemampuan anak bergaul dengan sesamanya di lingkungan sekitar. Di era saat ini, tiga institusi tersebut jelas memiliki tantangannya dalam mendidik anak.
     
Berubah dan berbenah

Tujuan pendidikan di UU Sistem Pendidikan Nasional No 20/2003 begitu mulia, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.

Namun, tampaknya pengoperasian dalam mengkreasi anak bangsa yang memenuhi kriteria itu bukanlah perkara mudah. Ada jarak yang membentang antara apa yang ada di dunia ideal dan dunia faktual.

Lalu, pendidikan model apa yang mesti diterapkan di era disrupsi ini? Apakah gaya lama yang mengedepankan kecerdasan kognitif dan menjejali anak dengan beragam informasi saja? Yuvah Noah Harari (2018) dalam bukunya 21 Lessons for the 21st Century menyebut, saat ini anak-anak tidak membutuhkan banyak informasi sebab mereka sudah begitu banyak dijejali informasi.

Yang penting, menurut Harari, ialah kemampuan memahami informasi, membedakan antara apa yang penting dan tidak serta mampu menggabungkan banyak informasi tersebut untuk memberi keluasan pandangan mengenai dunia ini.

Pendidikan juga mesti menguatkan anak untuk mampu menghadapi perubahan, mempelajari hal-hal baru, dan menjaga keseimbangan mental mereka untuk menghadapi situasi yang begitu cepat berubah. Pemikiran kritis, komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas menjadi hal yang perlu dikedepankan.  

Keempat hal tersebut hanya dapat dihadirkan melalui pendidikan yang memungkinkan adanya dialog dan memberi ruang bagi kritik atau dalam bahasa Freire sebagai pedagogi kritis. Pendidikan yang tidak membelenggu dan membuat anak menjadi pengikut, mudah dipengaruhi.

Jika melihat situasi saat ini, banyak orang begitu mudah terhasut berita bohong, pola pendidikan yang mengedepankan pedagogi kritis menjadi sangat penting. Tampak betul di keseharian, khususnya di media sosial, begitu keranjingannya kita berkomentar di berbagai kanal media sosial. Respons cepat tanggap warganet terhadap beragam isu begitu luar biasa, bahkan sering kali melupakan akal sehat.

Di tengah semakin gilanya hoaks berseliweran menista akal sehat, berpikir kritis ialah penangkal hoaks paling jitu. Bekal terbaik bagi anak-anak ialah dengan memberikan amunisi kritis itu melalui pendidikan. Dengan berpikir kritis, maka kendali ada di diri sendiri, bukan pada algoritme internet yang cenderung memberikan kita sajian yang sesuai dengan selera dan menegasi realitas lain.

Respons dunia pendidikan terhadap perubahan ialah keniscayaan. Seperti yang disebut Harari, perubahan ialah satu-satunya yang konstan. Jika dunia pendidikan tak berbenah, bangsa ini tak akan sanggup menghadapi gelombang besar perubahan yang melumat siapa pun yang tidak berbenah diri.
Di negeri ini, kritik terhadap dunia pendidikan begitu kencang dari waktu ke waktu. Dunia pendidikan dianggap gagal menciptakan generasi bangsa yang solid dan kuat karena masih begitu banyaknya persoalan yang menghadang bangsa ini untuk melompat lebih tinggi.

Tidak selarasnya dunia pendidikan dengan dunia kerja, pembangunan karakter bangsa yang bermasalah. Kasus korupsi yang semakin menggejala, maupun ikatan kebangsaan yang semakin memudar ialah beberapa hal yang menjadi tantangan bagi dunia pendidikan di negeri ini yang perlu dicarikan solusinya.

Hingga saat ini, dunia pendidikan selalu diposisikan sebagai juru selamat. Tak salah memang karena tumpuan terakhir dalam solusi persoalan bangsa ada pada dunia pendidikan. Di tengah karut-marutnya persoalan kehidupan bangsa ini, beragam pihak memang berharap besar terhadap dunia pendidikan.

Siapa pun yang mengakses pendidikan tentu memiliki harapan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik di masa depan. Orangtua tentu menitip asa pada proses pendidikan yang dilalui anak-anak mereka.

Oleh karena itu, janji pencerdasan bagi anak bangsa tidak boleh menjadi harapan kosong sehingga pembenahan di sektor pendidikan menjadi urgen. Rencana pemerintahan Jokowi-JK yang memberikan porsi utama pada pembangunan SDM pada 2019 ini perlu didukung dan dikawal agar pendidikan di negeri ini tidak hanya menjanjikan harapan palsu.

 

 

BERITA TERKAIT