Kasus Titi Wati, Ini Saran Dokter Hadapi Obesitas


Penulis: Dhika Kusuma Winata - 12 January 2019, 22:25 WIB
ANTARA FOTO/Rendhik Andika
 ANTARA FOTO/Rendhik Andika

KEGEMUKAN ekstrem yang dialami ibu rumah tangga asal Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Titi Wati, 37, kembali mengingatkan publik ancaman kesehatan penyakit tidak menular yakni obesitas.

Spesialis kedokteran olahraga dr Michael Triangto SpKO mengatakan banyak faktor yang bisa menyebabkan obesitas. Mulai dari jarangnya aktivitas fisik, asupan makanan berlebihan dan tidak sehat, faktor hormonal, dan lainnya. Risiko penyebab tersebut bisa saling terkait.

"Kasus Titi Wati bukan yang pertama. Sebelumnya ada remaja Arya Permana di Jawa Barat. Kita harus lebih waspada pada penyakit tidak menular karena kecenderungannya meningkat," ujarnya saat dihubungi Media Indonesia, Sabtu (12/1).

Setelah ditimbang pihak RSUD dr Doris Sylvanus Palangkaraya, berat badan Titi diketahui mencapai 220 kilogram. Ia direncanakan menjalani operasi saluran pencernaan yakni bariatrik. Itu untuk mengecilkan lambung. Dengan begitu asupan kalori bisa lebih terbatas dan bisa menjadi cepat kenyang.

Menurut Michael, orang dengan obesitas ekstrem seperti Titi perlu menjalani serangkaian tes aktivitas fisik. Itu untuk mengukur seberapa jauh ia bisa melakukan kegiatan olahraga sebagai rangkaian usaha penurunan berat badan.

Juga, disarankan menguji kemampuan dengan mengangkat berat badan sendiri. Itu bisa dengan latihan mengangkat tangan, menggulingkan badan, dan menggoyangkan bagian paha.

"Bisa juga memulai latihan posisi yoga kobra. Jadi dia berusaha untuk mengangkat kedua tangan dan bahu," ujar Michael.

"Sebenarnya harus di mulai dari sekarang olahraga karena jangan dipikir setelah operasi langsung menyusut badannya karena yang dikecilkan lambungnya sehingga penyerapannya kurang," katanya lagi.

Sejumlah aktivitas ringan itu bisa menjadi persiapan agar kondisi fisik lebih baik sebelum operasi.

"Dampaknya jantung berdenyut lebih cepat. Jadi perlu ada gerakan terprogram dan terukur agar jangan sampai nanti bermasalah jantungnya ketika operasi."

Ujian sesungguhnya pada pasien obesitas yang menjalani bariatrik, ungkap Michael, ialah masa pascaoperasi. Pasalnya, pasien harus konsisten menjalani program olahraga dan diet.

Ada dua jenis olahraga yang umumnya dijalani yakni erobik dan anaerobik. Aerobik dilakukan dengan intensitas ringan, gerakan berulang-ulang dan dalam jangka panjang. Contoh lazimnya ialah jalan cepat, jogging, lari, dan bersepeda.

Bagi penderita obesitas yang belum masuk tingkat morbid atau ekstrem, jenis olahraga itu masih mungkin dijalani. Tapi seperti kasus Titi, itu tergolong sulit.

"Jadi bisa dimulai dari tangannya. Itu masih mungkin hand ergocylce. Tangannya bisa mengayuh pedal sepeda dengan demikian jantungnya bisa dilatih. Jantung yang lebih kuat bisa lebih baik menghadapi operasi nanti. Atau pun, setelah operasi dia bisa mulai terbiasa melakukan itu," papar Michael.

Adapun jenis anaerobik ialah angkat beban. Bagi kasus ekstrem, itu juga tergolong sulit karena otot biasanya telah menciut. Jadi, kata Michael, pasien bisa melakukannya dengan menjadikan tubuh sebagai beban beratnya.

"Bisa dengan berbaring angkat tubuh posisi seperti pesawat terbang. Paha dan tungkai bawah diangkat semampunya. Perlahan, seiring berat badan turun baru bisa dimulai latihan aerobiknya dari hand ergocycle hingga duduk kursi sepeda statis kaki yang mengayuh pedal," ujarnya.

"Yang jelas jangan dibiarkan tanpa aktovitas fisik karena nanti kemampuan ototnya akan terus menurun," ungkapnya.

Selain itu, pola makan dan pola pikir juga perlu diubah. Motivasi besar serta kegigihan dibutuhkan. Pasalnya, pasien yang sukses menjalani operasi bariatrik dan latihan fisik setelahnya bukan jaminan tidak kembali obesitas.

"Itu pernah terjadi pada pasien saya yang pernah menjalani bariatrik. Dari gemuk menjadi kurus lalu kemudian bisa gemuk lagi. Ini tidak hanya pola makan diubah tapi juga pola pikir (motivasi) dan aktivitas fisiknya," tuturnya. (OL-1)

BERITA TERKAIT