UI Kukuhkan Dua Guru Besar Ilmu Kedokteran


Penulis: Indriyani Astuti - 12 January 2019, 18:30 WIB
MI/Indriyani Astuti
 MI/Indriyani Astuti

FAKULTAS Kedokteran (FK) Universitas Indonesia (UI) kembali mengukuhkan dua guru besar yakni Prof Dr dr Budi Iman Santoso SpOG(K) MPH yang merupakan Guru Besar UI bidang Ilmu Obstetri dan Ginekologi dan Prof Dr dr Ratna Sitompul SpM(K), Guru Besar UI bidang Ilmu Kesehatan Mata. Pengukuhan dilakukan di Aula IMERI FKUI Kampus Salemba, Jakarta Pusat, Sabtu (12/1).

Prof Budi menyampaikan Pidato Pengukuhan bertajuk 'Sebuah Model Prediksi Trauma Otot Dasar Panggul pada Ibu Pascapersalinan Normal'. Ia memaparkan, persalinan normal telah lama diduga berkaitan dengan terjadinya kerusakan otot dasar panggul. Kerusakan otot panggul, dapat menimbulkan berbagai gejala seperti mengompol, tidak dapat mengendalikan buang air besar, peranakan turun dan gangguan fungsi seksual.

"Hal itu memunculkan rasa kuatir para ibu sehingga memilih persalinan caesar karena takut mengalami disfungsi dasar panggul terlalu berlebihan," ujar Prof Budi.

Dipaparkannya, berdasarkan studi yang dilakukan Lukacz, Lawrence pada 2016 diketahui persalinan secara operasi hanya melindungi 1 dari 7 ribu yang diduga akan mengalami kerusakan otot levator ani akibat persalinan.

"Sehingga kurang bijak menyarankan para ibu memilih persalinan dengan operasi demi menghindari kerusakan otot panggul karena risiko kematiannya lebih besar," ucapnya.

Mengingat tingginya angka persalinan di Indonesia,  Prof Budi memaparkan sebuah model prediksi yang dapat meminimalisir terjadinya trauma dasar panggul bagi Ibu yang melahirkan dengan persalinan normal.

Menurutnya, metode skoring atau penilaian, dapat memperkirakan kerusakan otot panggul akibat kelahiran normal. Sistem itu, terangnya, menunjukan pasien yang mempunya risiko rendah mengalami trauma dasar panggul, maka pasien diyakini dapat menjalani persalinan normal tanpa kuatir mengalami disfungsi dasar panggul.

Sistem skoring yang diberinama Budi Iman Santoso Assesment (BISA) itu dibagi dalam dua model prediksi. Model pertama dapat dilakukan di semua pusat layanan kesehatan dan model kedua hanya dapat dilakukan jika tenaga medis mampu melakukan penilaian robekan perineum. Perineum adalah area kulit antara liang vagina dengan anus (dubur) yang dapat robek ketika melahirkan atau secara sengaja digunting guna melebarkan jalan keluar bayi (episiotomi).

"Saya berharap dengan metode skoring atau penilaian karyanya tersebut, dapat meningkatkan kualitas hidup perempuan tanpa khawatir disfungsi dasar panggul," tukas Prof Budi.

Sementara, Prof Ratna menyampaikan Pidato Pengukuhan bertajuk 'Academic Based Health System: Transformasi Pendidikan, Penelitian dan Pelayanan Kesehatan Sistem Kesehatan Nasional'. Menurutnya, diperlukan integrasi antara rumah sakit Pendidikan dan Fakultas Kedokteran. Semakin erat integrasi maka semakin baik kualitas pelayanan, pendidikan dan penelitian kedua institusi.

"Saat ini institusi pendidikan, rumah sakit pendidikan dan pelayanan kesehatan berjenjang bekerja sendiri-sendiri tidak saling memberi dampak positif," kata Ratna.

Mengingat tantangan kesehatan semakin besar, Prof. Ratna meyakini bahwa konsep Academic Health System (AHS) yang merupakan sistem integrasi antara institusi pendidikan kedokteran, rumah sakit pendidikan dan pemerintah daerah. AHS, imbuhnya, sangat dibutuhkan karena keberadaan FK belum tentu memberikan kontribusi bagi kesehatan masyarakat. (OL-1)

 

BERITA TERKAIT