Kelompok Milenial Tertarik dengan Bahasa Nonteknis


Penulis: Golda Eksa - 12 January 2019, 15:55 WIB
Ilustrasi
 Ilustrasi

UPAYA konkret untuk meningkatkan partisipasi pemilih dari kalangan milenial hanya bisa direalisasikan apabila telah ditemukan formula untuk menerjemahkan pelbagai bahasa yang sifatnya nonteknis. Pemilih milenial lebih tertarik dengan pelbagai hal yang bertautan di media sosial.

"Artinya, semua pasangan itu harus mampu menerjemahkan dengan bahasa-bahasa yang jauh lebih down to earth, lebih membumi, terutama persepsi khalayak pemilih milenial," ujar peneliti komunikasi politik UIN Jakarta Gun Gun Heryanto di Jakarta, Sabtu (12/1).

Baca juga: Pengamat: Milenial Punya Peran Penting Tentukan Kondisi Bangsa ke Depan

Menurut dia, masing-masing tim pemenangan harus membuat sebuah formula yang bisa membantu kelompok milenial mendapatkan inside dari pelbagai isu, seperti hukum, penanganan HAM, terorisme, dan lainnya. Harapan mendulang suara dari kelompok itu akan sirna apabila dalam pelaksanaannya justru mengunakan gaya bahasa teknis.

"Maka dari itu yang perlu dilakukan masing-masing kandidat ialah bagaimana membahasakan istilah, misalnya teknis hukum, pemberantasan korupsi, dan lain-lain itu dapat menyentuh masyarakat," terang dia.

Priyo Budi Santoso selaku Wakil Ketua BPN Prabowo-Sandi mengaku optimistis pihaknya dapat meraih suara dari kalangan milenial. Menurutnya, kunci sukses itu terletak pada figur cawapres Sandiaga Uno yang merupakan tokoh muda dan energik.

"Kami beruntung selama ini ada figur Sandiaga Uno yang sudah tanpa polesan apapun. Dia ini tokoh muda, energik, dan digandrungi oleh milenial dan emak-emak. Nah, itu melengkapi figur Pak Prabowo yang kharismatik," tandasnya. (OL-6)

BERITA TERKAIT