Harga Karet Diduga Permainan Spekulan


Penulis: Pra/E-1 - 12 January 2019, 07:10 WIB
ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
 ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

MENTERI Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mencurigai ada spekulan kelas kakap yang kerap mempermainkan harga komoditas karet di tingkat global.

Kecurigaan itu didasarkan pada pola perdagangan yang terjadi beberapa tahun terakhir. Pergerakan harga karet tidak didasari pada persedian dan permintaan.

“Kita melihat karet itu tidak oversuplai. Kita sudah lihat stok. Karet itu paling bertahan dua ­bulan, tetapi harganya turun terus, jadi pasti ada yang tidak beres. Ada banyak spekulan yang memainkan informasi,” ujar Darmin di kantornya, kemarin.

Ia pun telah menelusuri pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam penentuan harga karet di tingkat global.

“Ada dua tempat. Satu di bursa Singapura, satu di bursa Shanghai, Tiongkok,” lanjutnya.
Darmin pun berencana untuk bertemu para pemangku kepentingan di dua bursa komoditas tersebut agar harga karet bisa sesuai dengan hukum persediaan dan permintaan.

Namun, agar bisa efektif, ia mengatakan Indonesia akan lebih dulu menggalang dukungan dari Malaysia dan Thailand yang juga negara-negara produsen karet.

“Mereka juga sebetulnya sudah pada tahu, tetapi kita perlu duduk bersama untuk kemudian nanti mengambil langkah. Jadi, tidak bisa sendiri-sendiri,” ucapnya.

Guna menstabilkan harga karet, pihaknya telah menginstruksikan Kementerian Perhubungan dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera) untuk mengidentifikasi infrastruktur apa saja yang bisa menggunakan karet alam sebagai bahan baku alternatif.

“Kita mau coba manfaatkan itu. Apakah karet ini bisa digunakan sebagai salah satu bahan yang mampu menggantikan besi atau kayu dalam pembangunan seperti pelabuhan, atau bantalan rel kereta,” ujar Darmin.

Sejauh ini, karet hanya dimanfaatkan untuk campuran aspal dalam pembangunan infrastruktur. Jika hanya untuk jalan, serapannya tidak akan terlalu besar.

Darmin berharap, jika penyerapan karet lebih masif, harga bisa membaik dan membantu menaikkan kesejahteraan para petani. (Pra/E-1)

BERITA TERKAIT