PT Len Industri Bidik Pendapatan 5% dari Regional


Penulis: E-1 - 12 January 2019, 07:10 WIB
MI/AGUS M
 MI/AGUS M

PT Len Industri (persero) menargetkan bisa meraih 5% pendapatan dari pasar Asia Tenggara pada tahun ini. Saat ini, PT Len tengah mengikuti tender untuk memasang sinyal kereta api di Bangladesh.

“Kita lagi ikut tender untuk kembali memasang persinyalan di Bang-ladesh. Semoga dalam 1-2 bulan sudah diumumkan,” ujar CEO PT Len Industri Zakky Gamal Yasin dalam kunjungannya ke Media Group.  Jakarta, kemarin.

Tahun ini, PT Len optimistis Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) dapat melampaui target seperti tahun lalu.

“Tahun lalu target rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) kita Rp4,7 triliun, ­realisasinya kurang lebih Rp4,9 triliun-Rp5 triliun. Melampaui target. Tahun ini targetnya Rp5,5 triliun,” tambahnya.

PT Len Industri berkecimpung di dunia perkeretaapian sejak 1980-an. Zakky mengatakan walau nilai kontrak dengan Bangladesh tidak besar, kerja sama ini sangat penting untuk memperluas potensi bisnis di pasar regional.

“Dari Bangladesh kita bisa merambah ke negara-negara sekitar,” ujarnya.

PT Len Industri sebelumnya juga menjalin kerja sama strategis di bidang perkeretaapian dengan perusahaan asal Kroasia, Altpro. Kolaborasi itu bertujuan memperluas pasar kedua belah pihak di 47 negara.

PT Len juga menjadikan Filipina target pasar potensial karena negara itu memiliki kemiripan dengan pemerintah Indonesia yang sedang menggenjot pembangunan berbagai program infrastruktur. Terlebih lagi saat ini total rel kereta api yang telah dibangun baru mencapai 77 kilometer (km) dari target 1.000 km.

PT Len cukup yakin bisa mengerjakan proyek di luar negeri karena telah memiliki pengalaman yang panjang dalam pengelolaan proyek di dalam negeri. Saat ini seluruh sistem persinyalan kereta api yang dikelola PT KAI menggunakan sistem yang dibangun PT Len. Bahkan, PT Len juga sekaligus menjadi pengelola operasi LRT Palembang.

Tahun ini, PT Len akan mengintesifkan bisnis penjualan panel surya atap atau rooftop photovoltaic untuk perumahan residensial. Hal itu terkait dengan segera keluarnya peraturan Menteri ESDM mengenai pemanfaatan panel surya sehubung-an pengaturan jual-beli listrik dengan PLN.

Langkah tersebut diharapkan dapat membantu tercapainya target bauran energi terbarukan sebesar 23% di 2025. (E-1)

BERITA TERKAIT