Bersiap Memasuki Era 5G


Penulis: Rizky Noor Alam - 12 January 2019, 05:00 WIB
 

Tahun 2019 tampaknya akan menjadi tahunnya teknologi jaringan terbaru generasi kelima alias 5G. Sejumlah negara sudah siap bertransisi untuk mengadopsi teknologi tersebut mulai tahun ini, seperti Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, Amerika Serikat, dan beberapa negara Uni Eropa.

Namun, Indonesia tampaknya belum akan memasuki era 5G tahun ini mengingat masih banyak kendala yang perlu dibereskan, semisal penetapan frekuensi jaringan untuk 5G.

Lalu, apa sebenarnya teknologi 5G? Apa kecanggihannya ketimbang 4G? Berikut penjelasan yang Media Indonesia rangkum dari Snapdragon Academy 2.0, akhir Desember lalu.

Teknologi 5G merupakan teknologi jaringan telekomunikasi generasi kelima yang dikembangkan industri. Ditengok ke sejarahnya, teknologi telekomunikasi modern generasi pertama mulai berkembang pada 1980-an yang dikenal dengan nama 1G, teknologi pionir tersebut memiliki fitur unggulan, yaitu analog voice alias komunikasi suara secara analog.

Memasuki 1990-an, mulai berkembang generasi 2G dengan fitur utama digital voice atau komunikasi suara secara digital. Generasi ketiga alias 3G mulai berkembang pada 2000-an, mengusung fitur unggulan mobile internet yang menjadi awal mula perkembangan internet di dunia.

Memasuki 2010 ke atas, masyarakat dunia disuguhkan dengan teknologi telekomunikasi generasi keempat, 4G. Fitur-fitur unggulannya ialah mobile broadband yang sekarang kita nikmati. Jaringan pita lebar memungkinkan koneksi internet yang lebih cepat. Hal itu mendorong berkembangnya konektivitas antargawai yang semakin beragam, juga dikembangkannya era kendaraan swakemudi, dan lain sebagainya.

Nah, untuk 5G, teknologi yang dihadirkan pastinya lebih advanced. Teknologi generasi kelima ini nantinya jika sudah diadopsi secara penuh akan menawarkan keunggulan luar biasa berupa konektivitas mobile connected everything. Aneka gawai yang dapat saling tersambung untuk semakin mempermudah kehidupan manusia, salah satu pengejawantahannya ialah kendaraan swakemudi maupun kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang kian ciamik.

“Teknologi 5G dapat digunakan dalam bidang industri, misalnya, automasi mesin-mesin di pabrik atau misalnya penerangan jalan, dengan adanya internet of things (IoT) semua terhubung, atau bisa mengetahui lampu jalan daerah mana yang mati yang harus dilakukan penggantian,” jelas Senior Manager Marketing Qualcomm Indonesia, Dominikus Susanto dalam Snapdragon Academy 2.0 di Jakarta, Desember silam.

“Teknologi 5G sangat memberi peluang untuk industri baru. Penyedia aplikasi layanan baru juga akan makin bermunculan. Konten hiburan pun semakin kaya, tidak hanya terbatas pada video dan foto, namun juga realitas tertambah atau augmented rea­lity (AR),” imbuh Susanto.

Benefit operator

Ia menekankan, manfaat teknologi 5G tidak hanya dapat dirasakan pengguna, tapi juga para operator jaringan akan mendapat keuntungan  dengan menampung lebih banyak pelanggan.

Peningkatan teknologi 5G sesuai dengan tiga fundamental dalam peningkatan konektivitas, yaitu cakupan, spektrum, dan kapasitas. Dirinya menganalogikan hal tersebut dengan pipa air. Saat dikucurkan dalam satu ember akan cepat, tapi saat sumber air digunakan beberapa keran secara bersamaan, kecepatan akan berkurang.

Susanto mengatakan, teknologi 5G akan menjawab kendala itu dengan membuat kecepatan lebih tinggi, la­tensi yang lebih rendah, dan kapasitas lebih besar.

“Hal yang harus pemerintah lakukan pertama kali adalah memastikan spektrum frekuensi yang akan digunakan untuk 5G, itu yang pertama,” imbuh Susanto.

Ia menjelaskan, teknologi 5G umumnya berjalan di frekuensi tinggi yaitu frekuensi 24 GHz. Walakin, 5G bisa juga berjalan pada frekuensi yang ada saat ini.

Untuk menyambut era 5G, Qualcomm pun sudah menyiapkan chipset mobile pertama yang mendukung 5G, yaitu Snapdragon 855 yang masih dalam tahap produksi massal. Sambil menunggu siap edar, dikatakan sudah ada 20 original equipment manufacturer (OEM) yang telah memesan chipset flagship Snapdragon 855 tersebut.

Dalam kesempatan berbeda, Menteri Komunikasi dan Informatika RI, Rudiantara, mengemukakan, hingga kini para pemangku kepentingan masih mengkaji skala ekonomi dari teknologi 5G. Apalagi, model bisnisnya memang belum ada di Tanah Air.  

“5G itu ada 2, yaitu untuk consumer dan industry. Mungkin di Indonesia akan industri dulu yang masuk karena industri melihatnya (penerapan 5G) relatif lebih mahal, tapi karena menyangkut efisiensi mereka akan ambil itu,” jelas Rudi kepada Media Indonesia, pada Rabu (9/1).

Ia pun belum dapat memastikan apakah konsumen kelak berani membayar lebih mahal untuk menikmati teknologi yang lebih canggih tersebut.

“Sekarang 4G kecepatannya katakanlah 7 MB, kalo 5G bisa 100-200 MB. Jadi, kecepatannya kan berlipat-lipat, nah, mau tidak kita bayar berlipat? Jadi, masih menunggu perhitungan dari model business dan juga economic scale karena kalau cuma membangun 5G di sedikit tempat akan lebih mahal,” imbuhnya.

Adapun soal frekuensi, ia menegaskan bahwa pemerintah sudah menyiapkan spektrum frekuensi untuk 5G. Hal itu akan diumumkan tahun ini. Namun, ia enggan membocorkan detailnya. “emerintah menyiapkan alokasi frekuensi tahun ini dengan standar frekuensi yang sesuai dengan standar internasional,” pungkas Rudi. (M-2)

BERITA TERKAIT