Diinspirasi Pertemanan


Penulis:  (*/M-3) - 10 January 2019, 01:15 WIB
DOK  SimpliDOTS
 DOK SimpliDOTS

PERTEMANAN Jowan Kosasih dan Hendy Sumanto sudah terjalin saat mereka menempuh pendidikan master di Australia. Pada 2017 mereka memutuskan kembali ke Tanah Air seusai menuntaskan kuliah dan bekerja di ‘Negeri Kanguru’.

Sekembalinya ke Indonesia, mereka berencana membuat konsultan untuk proyek-proyek tertentu, salah satunya Simplidots. Saat menggarap start-up ini, mereka melihat potensi berkembang dan meneruskan ide itu.

"Maka kita teruskan (Simplidots) sebagai sebuah start-up. Co-founder kita satu lagi, Ginanjar, bergabung bersama kami saat Simplidots ini hendak berjalan," tukas Jowan.

Tidak semata idenya, lokasi yang dipilih Medan bukan tanpa sebab. Ketiga founder perusahaan ini berasal dari Medan. Mereka yakin bila sukses membangun pondasi yang kuat di Medan, bisa merambah daerah lain, termasuk Jakarta.

"Meski masih berpusat di Medan, tapi kita sudah memiliki customer distributor di Pulau Jawa. Yang terpenting kita membangun kapabilitas di Medan dan untuk pengembangannya bisa di daerah lain," tambah Hendy.

Di samping itu mereka bukan pemain baru di dunia teknologi. Jowan pernah bekerja di Malaysia dua tahun dan di Australia selama delapan tahun, sedangkan Hendy menghabiskan 15 tahun bekerja di perusahaan IT di Australia.

Belajar
Melalui Simplidots, para co-founder ini mengaku banyak belajar, mulai pengembangan bisnis hingga pemasaran. Pasalnya, latar belakang para pendiri Simplidots ini teknikal, maka sistem pemasaran menjadi titik pembelajaran tersendiri.

Mereka pun paham membangun perusahaan tidak hanya 2-3 tahun, tapi juga harus memiliki visi hingga 10 tahun mendatang. "Ketika kita melihat ke 10 tahun mendatang, ketika gagal di tahun kedua atau ketiga sebenarnya tidak masalah. Kita mau bangun lagi ya masih bisa. Visi bisnis kita itu masih valid. Kita masih bisa lanjut artinya kita harus bisa melihat visinya lebih jauh. Meskipun tantangannya sebesar apa pun, tapi melalui visi kita sudah memiliki pegangan," ujar Jowan.

Ternyata tidak hanya para founder yang belajar. Para karyawan pun diberikan kesempatan untuk belajar. Pemberian bimbingan itu bukan tanpa tujuan. Mereka ingin pengembangan sumber daya manusia yang solid dan berdampak pada pengembangan bisnis. Tak ayal, sejak awal pendiriannya pun start-up ini kerap mengikuti kompetisi-kompetisi dan staf-staf mereka pun banyak diikutkan di berbagai acara.

"Tujuannya supaya mereka bisa belajar sebagai entrepreneur juga. Kita ingin membangun cara berpikir entrepreneur kepada tim kita. Jangan melulu pikirannya sebagai employee, maka kita kembangkan anggota kita dengan pembinaan. Salah satunya, hampir tiap Jumat itu kita ada training seperti memperkenalkan teknologi baru, termasuk yang nonteknis" jelas Jowan. (*/M-3)

 

BERITA TERKAIT