Cegah Skoliosis Bertambah Parah


Penulis: Indriyani Astuti - 02 January 2019, 03:15 WIB
 

CATRIONA Gray, 24, dinobatkan menjadi Miss Universe 2018 belum lama ini. Di balik paras ayu dan postur tubuhnya yang tampak ideal, perempuan berdarah Australia-Filipina itu diketahui memiliki kelainan tulang belakang yang disebut skoliosis.

Dalam sebuah wawancara, sang mentor, Nicole Cordoves, menuturkan Gray sempat menangis kesakitan ketika harus belajar mempraktikkan gaya berjalan khas Miss Universe, lava walk. Lava walk mencakup gaya berjalan anggun sekaligus seksi yang diikuti dengan putaran slo-mo twirl. Rupanya, skoliosis yang dideritanya membuat Gray merasa nyeri saat melakukan putaran tersebut.

Skolisis merupakan kelainan yang membuat tulang punggung bengkok tak normal hingga menyerupai bentuk huruf S. Dokter konsultan tulang belakang dari Rumah Sakit Premier Bintaro, dr Phedy SpOT K-Spine, menjelaskan skoliosis dapat terjadi dengan derajat kebengkokan ringan hingga berat.

Ada beberapa tipe skoliosis, di antaranya skoliosis bawaan lahir (kongenital), skoliosis neuromuskular karena gangguan persarafan seperti pada penyakit lumpuh otak, dan skoliosis idiopatik yang penyebabnya tidak diketahui secara pasti.
"Kasus yang paling banyak ditemukan, sekitar 90% ialah skoliosis idiopatik yang penyebabnya tidak diketahui," terang Phedy.

Skoliosis, lanjutnya, lebih banyak terjadi pada perempuan, paling sering ditemukan saat usia remaja, yakni 10 hingga 13 tahun. Hal itu disebabkan di rentang usia itu terjadi fase percepatan pertumbuhan sehingga keberadaan skoliosis bisa tampak lebih jelas.

Gejalanya, tulang punggung membengkok. Seiring dengan bertambahnya usia, kebengkokan itu bisa setop atau sebaliknya bisa semakin parah. Karena itu, terapi skoliosis dilakukan dengan prinsip tiga 'O', yakni observasi, ortosis, dan operasi.

"Jika seseorang didiagnosis skoliosis sebelum 18 tahun dengan sudut kelengkungan tulang belakang di bawah 30 derajat, dokter akan observasi, mengamati, apakah bertambah bengkok atau tidak."

Lalu pasien diberi latihan atau senam untuk menjaga fleksibilitas tulang punggung dan melatih otot punggung sebab penderita skoliosis lebih sering mengalami sakit punggung. Selain itu, dilakukan juga intervensi ortosis dengan menggunakan korset khusus.

Namun, jika derajat kelengkungan tulang punggungnya ternyata bertambah hingga di atas 40 derajat, pasien perlu menjalani operasi. Operasi sebaiknya dilakukan pada usia 13-15 tahun. Saat kelenturan tulang masih baik dan tulang belum terlalu matang.

"Kalau operasi terlalu muda, tulang anak bisa tumbuh melengkung ke belakang, sedangkan kalau sudah terlalu tua, biasanya kelainannya sudah berat dan sudah kaku sehingga sulit mengembalikannya menjadi lurus."

Jika skoliosis terjadi di bawah 15 tahun, tetapi kelengkungan di atas 40 derajat, dokter cenderung menunda operasi karena tulang anak masih bertumbuh. Alternatifnya, anak dianjurkan memakai korset khusus. "Saat remaja didiagnosis skoliosis dengan kelengkungan 30-40 derajat disarankan mengenakan korset sampai usia 18 tahun. Tapi, untuk skoliosis yang ditemukan pada usia di atas 18 tahun, korset tidak berdampak signifikan".

Screening pada anak
Phedy mengingatkan, penting menemukan skoliosis sedini mungkin agar terapi dapat segera dilakukan. "Kita harus menghambat supaya kondisinya tidak bertambah berat. Kalau sudut kelengkungannya sudah di atas 70 derajat, pasien berisiko mengalami gangguan fungsi paru-paru dan di atas 100 derajat pasien dapat mengalami gangguan fungsi jantung. Hal itu karena adanya kompresi abnormal dari tulang iga pada satu sisi yang menekan jantung dan paru-paru," papar Phedy.

Orangtua dianjurkan untuk memeriksa tulang punggung anak untuk screening skoliosis. Screening perlu dilakukan dua kali. Pertama, pada usia 10 tahun. Kedua, saat anak berusia 12 tahun. Caranya, buka baju anak, kemudian lihat punggung kiri dan kanan anak. Cek apakah panggul kiri dan kanan sama tinggi.

Selain itu, minta anak membungkukkan badan dengan tangan menjuntai ke bawah. Lihat dari belakang, apakah punggung sisi kiri dan kanan serta pinggang sisi kiri dan kanan sama tinggi. Jika tidak, periksakan ke dokter ortopedi.

Phedy menambahkan, banyak yang menduga kebiasaan buruk seperti duduk miring, berdiri dengan bertumpu satu kaki, atau membawa beban terlampau berat dapat menyebabkan skoliosis. Padahal, skoliosis idiopatik tidak berhubungan dengan itu semua.

Meski demikian, ada kondisi yang disebut postural skoliosis, yaitu orang yang tulang punggungnya terlihat bengkok karena posturnya tidak benar. "Postural skoliosis ini jarang menimbulkan masalah, kalau diperbaiki semua kelainan akan normal kembali," pungkasnya. (H-2)

 

BERITA TERKAIT