Berbagi Ilmu Kebaikan ala Fotografer Senior Don Hasman


Penulis: Rudi Kurniawansyah - 03 December 2018, 14:50 WIB
MI/Rudi Kurniawansyah
 MI/Rudi Kurniawansyah

ADA banyak cara berbagi kebaikan. Fotografer senior Don Hasman, 78, misalnya, tidak sungkan berbagi ilmu fotografi kepada siapapun.

Pria yang juga dikenal sebagai Bapak Etnofotografi Indonesia itu mengaku memang ingin menuntaskan misi berbagi ilmu kebaikan di dunia. Sosok sepuh yang rendah hati dan selalu bersahaja itu juga mengingatkan generasi muda Indonesia untuk membangun peradaban yang baik dengan menjauhi sifat sombong, tinggi hati, dan angkuh.

"Yang bisa menilai kita itu adalah orang lain. Maka tirulah ilmu padi. Jangan bertepuk dada, sombong, tinggi hati, dan angkuh. Apabila ada orang yang merasa dirinya hebat, itulah tong kosong nyaring bunyinya," kata Don Hasman usai kegiatan diskusi Etnofotografi di Kedai Kopi Kopikirapa Pekanbaru, Senin (3/12).

Di usia senjanya, Don masih tetap tampil enerjik. Sosok yang telah menekuni fotografi sejak 1951 telah melalangbuana memotret peristiwa kehidupan sehari-hari. Bukan hanya menjelajah seluruh pelosok Nusantara, Don bahkan telah menapakkan kaki ke enam benua di dunia, pergi berpetualang ke peradaban terpencil, dan mendaki gunung-gunung tertinggi.

Dalam kesempatan diskusi, Don tidak sungkan membagikan ilmu dan pengalamannya. Dengan gestur tubuh yang sangat menghormati orang, Don menjawab semua pertanyaan dalam diskusi secara lugas. Don juga berpesan kepada generasi muda peminat fotografi untuk tidak berguru kepada yang komersil tapi carilah guru foto yang tidak meminta bayaran sama sekali.

"Mungkin Tuhan memberikan umur yang panjang kepada saya untuk dapat menuntaskan misi berbagi di dunia. Itu motivasi yang saya tanamkan sampai saat ini," ungkap Don yang baru saja mengunjungi Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) Riau.

Don mengatakan, memotret adalah misi berbagi. Seperti yang baru saja disaksikannya, ada anak gajah bernama Harmoni yang dirayakan ulang tahun pertamanya di TNTN. Tingkah anak gajah yang menggemaskan itu perlu dilihat oleh orang lain di seluruh dunia

"Sangat menarik dan lucu sekali. Anak gajah itu saya foto dan saya bagikan di Instagram. Tujuannya agar orang seluruh dunia dapat melihatnya. Ini kehidupan. Inilah misi berbagi dalam kehidupan kita," ucap Don yang dalam pekan ini juga akan mengunjungi Nepal dan berlanjut menjajaki Machu Picchu di Peru.

Menurut Don, suatu foto bisa disebut sebagai foto terbaik apabila bisa memberikan reaksi kepada orang yang melihatnya. Reaksi yang akan melahirkan perubahan. Foto seperti itu tidak harus dihasilkan oleh seorang fotografer profesional, berkamera mahal, apalagi pewarta foto yang memang bekerja memotret peristiwa setiap harinya.

"Dapat kita lihat saat pameran foto. Apabila ada orang bereaksi terhadap suatu foto yang dipajang. Itulah foto terbaik," kata Don.

Oleh karena itu, di pengujung sisa hidupnya Don berharap dapat mengumpulkan karya foto terbaiknya dari memotret kehidupan budaya dan antropologi Nusantara serta belahan dunia lainnya. Karya itu akan dikumpulkan dalam bentuk buku. Karya foto itu berisi perbandingan maupun persamaan antropologi dan budaya suku bangsa seluruh dunia yang intinya mempunyai satu kesamaan yakni kehidupan yang baik.

"Banyak sekali foto. Ini akan saya kumpulkan dalam bentuk buku. Buku yang dibagikan kepada generasi masa depan," ujarnya. (X-11)

BERITA TERKAIT