12 September 2018, 12:54 WIB

Kebijakan Ganjil-Genap akan Diberlakukan di Kota Lain


Antara | Humaniora

Dok.MI/Arya Manggala
 Dok.MI/Arya Manggala

KEBIJAKAN plat nomor ganjil-genap di DKI Jakarta saat Asian Games 2018 kemungkinan besar diperpanjang dan diberlakukan di kota besar lain. Hal itu dikatakan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setiyadi, Rabu (12/9).

"Sejumlah kota besar saat ini juga mengalami kemacetan parah dan pemerintah pusat mendorong pemerintah daerah untuk bisa menerapkan ketentuan pelat nomor ganjil-genap untuk mengurangi kemacetan," katanya kepada pers di usai berbicara dalam Forum Perhubungan bertema Plus Minus Ganjil-Genap Selama Asian Games yang diselenggarakan Kementerian Perhubungan.

Dikatakan, dari hasil kunjungan ke sejumlah daerah, beberapa kepala daerah juga kesulitan mengatasi kemacetan di kota mereka masing-masing akibat pertumbuhan kendaraan yang begitu cepat, sementara tidak diimbangi dengan pembangunan infrastruktur jalan raya.

Dari hasil pelaksanaan ganjil-genap, katanya, ternyata memberikan dampak yang positif bagi pengguna jalan dari perubahan kecepatan rata-rata di ruas jalan naik sebesar 44,08%, sementara di ruas jalan alternatif rata-rata naik 2,17%.

Sementara itu, jumlah kendaraan yang melintas di ruas jalan yang diberlakukan ganjil-genap rata-rata turun 20,37% dan di ruas jalan alternatif rata-rata naik 6,48%.

Demikian juga jumlah penumpang angkutan umum setelah perluasan kawasan ganjil-genap untuk penumpang Transjabodetabek premium rata-rata naik 46,8%, penumpang Trans-Jakarta rata-rata naik 40,21%, dan penumpang KRL rata-rata naik 6,13%.

"Melihat dampak positif dari diberlakukannya ganjil-genap maka aturan itu kemungkinan besar akan diperpanjang dan bahkan diperluas wilayahnya," kata Budi.

Dirjen Budi mengakui memang perlu upaya tidak mudah untuk mengubah perilaku dan gaya hidup masyarakat penggunan jalan dari menggunakan kendaraan pribadi menuju kendaraan umum.

Pemerintah, katanya, sebenarnya sudah dan akan menyiapkan sejumlah angkutan massal seperti LRT dan Trans-Jakarta untuk mengakomodasi pergerakan masyarakat dari rumah ke lokasi kerja.

"Memang kita akui tidak mudah mengubah gaya hidup masyarakat dalam pola menggunakan kendaraan pribadi ke kendaraan umum. Tapi itu harus kita lakukan," katanya. (OL-2)

BERITA TERKAIT