16 August 2018, 11:30 WIB

Designers Dispatch Service untuk Produk Ekspor Lebih Baik


MI | HUT RI

Dok.Kemendag
 Dok.Kemendag

DARI mata turun ke hati, tidak hanya untuk urusan jodoh tetapi juga keputusan untuk membeli sebuah barang. Desain yang menarik akan menjadi penentu laku atau tidaknya sebuah produk.

Indonesia memiliki beraneka ragam produk kerajinan yang khas dibanding negara lain. Bahkan, antara produk dari daerah satu dan lainnya belum tentu sama. Produk-produk tersebut memiliki potensi besar untuk bersaing di pasar global, dengan dilengkapi nilai tambah yang menjadi keharusan untuk membedakannya dengan produk-produk lain.

Salah satu program Kementerian Perdagangan RI (Kemendag) adalah menciptakan nilai tambah produk melalui Designers Dispatch Service (DDS). Program ini ditujukan kepada para pelaku usaha yang memiliki produk potensial di berbagai daerah. Kemendag menyiapkan desainer
yang sesuai untuk setiap produk dan memfasilitasi kolaborasi antara pelaku usaha dengan desainer yang sudah ditunjuk untuk menciptakan produk-produk baru yang inovatif dan bernilai tambah. Desain baru yang dibuat akan tetap menonjolkan ciri khas atau kekuatan dari produk si pelaku usaha, namun diberi sentuhan baru dari perspektif desain produk. Selanjutnya Kemendag juga memfasilitasi produk yang sudah jadi untuk didaftarkan hak desain industri dan diikutkan pada promosi produk ekspor.

DDS sendiri diinisiasi tahun 2012. Awalnya, DDS merupakan program yang dirintis Japan International Cooperation Agency (JICA) bekerja sama dengan Kemendag untuk mengembangkan furnitur rotan di lingkungan usaha rotan di Cirebon. Kini, DDS berkembang sebagai program kerja Kemendag dan telah menghasilkan 50 purwarupa bernilai produk tinggi dalam enam tahun terakhir. Keberhasilan DDS dalam mengembangkan produk kemudian menjadi model pengembangan produk yang diadaptasi oleh lembaga-lembaga lain.

Tahun 2017 lalu, DDS dilaksanakan di 11 wilayah yaitu Palembang, Bogor, Jakarta, Tasikmalaya, Boyolali, Denpasar, Palu, Jayapura, Banda Aceh, Trenggalek, dan Cilacap, baik dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, maupun swasta. Terdapat 12 desainer yang berkolaborasi dengan 24 pelaku usaha. Di tahun 2017, terdapat 46 karya yang dihasilkan dan dari jumlah tersebut, sebanyak 24 karya telah didaftarkan hak desain industri.

Di tahun 2018 DDS sedang dilaksanakan di 8 daerah dengan 10 desainer yang diikuti 22 pelaku usaha. Hingga saat ini, kolaborasi antara desainer dan pelaku usaha menjadi nyawa DDS. Program ini menargetkan pengembangan desain yang menempatkan desainer dan pelaku usaha sebagai ujung tombak dalam meraih pasar yang tepat.

Salah satu pelaku usaha yang tergabung dalam program ini adalah CV Aksen. Produsen produk-produk home living berbahan baku rotan yang resmi berdiri tahun 1996 dan dimiliki Solikhin ini bergabung dalam program DDS pada tahun 2012.

"Selanjutnya, kami bergabung dalam program dan berjalan dengan dua desainer terpilih, yaitu Bayu Edward dan Abie Abdillah," ungkap Solikhin.

Selama bergabung dengan DDS, Aksen mengintensifkan diskusi dengan kedua desainer yang telah ditunjuk. Dari diskusidiskusi tersebut, seringkali mengemuka berbagai gagasan yang menjadi penentu arahan desainer menciptakan desain yang lebih modern, sesuai dengan tren pada masa itu.

Dari hasil-hasil diskusi dengan desainer pula lah, Aksen berinisiatif mengembangkan koleksi yang sudah dimiliki agar menjadi sebuah set koleksi. Misalnya saja, dekorasi interior yang dikembangkan menjadi sebuah living set, terrace set, ataupun dining set. Mengembangkan set seperti ini ternyata berdampak positif.

"Kami berdiskusi untuk mengembangkan koleksi kami menjadi satu set agar lebih mudah dipasarkan ke pembeli reguler kami. Nyatanya,
upaya itu berhasil berjalan sampai saat ini," kata Solikhin.

Solikhin mengatakan koleksi hasil program DDS kemudian dipromosikan langsung ke pasar internasional. Hingga saat ini, hasil produksi dari program DDS diekspor oleh Aksen ke pasar Amerika dan Eropa.

Aksen melihat DDS sebagai program yang bermanfaat untuk mengembangkan ekspor Indonesia, terutama produk-produk yang diharapkan memiliki nilai tambah. DDS membuktikan upaya peningkatan ekspor Indonesia tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. DDS menampilkan sebuah kolaborasi antara pemerintah, desainer produk, dan pelaku usaha dalam mengembangkan produk yang sesuai dengan kriteria ekspor, sekaligus diminati oleh pasar mancanegara karena nilai tambahnya.

"Aksen sangat merekomendasikan program DDS ini berlanjut. Karena jika pemerintah, desainer, dan pelaku industri mengerti posisi mereka masingmasing, maka akan semakin banyak dampak positif yang dihasilkan," kata Solikhin.

Solikhin juga berpesan kepada para pelaku usaha agar melihat hasil-hasil program DDS sebagai simbol kemandirian dari sisi desain produk. Pelaku usaha harus memiliki kebanggaan atas desainnya sendiri dan berani mengembangkan desain mereka sendiri.

BERITA TERKAIT